Yandex

HOT TOPIC

Fakta Sindikat Preman di Tanjung Priok, Modus Jasa Pengamanan yang Raup Ratusan Juta dari Pemerasan

Jumat, 18 Juni 2021 20:57 WIB
Tribunnews.com
Editor: Dita Dwi Puspitasari | Reporter: Fina RakhmatulMaula | Video Production: Muhammad Suryo Kartiko

TRIBUN-VIDEO Sebanyak 24 preman berkedok penyedia jasa pengamanan ditangkap polisi karena kerap melakukan pungutan liar di kawasan Tanjung Priok.

Setelah sebelumnya 50 pelaku pungli ditangkap, atas laporan para sopir truk kontainer kepada predisen, kali ini 24 preman lainya ditangkap

Modus mereka untuk melancarkan aksinya, yaitu dengan membuka jasa pengamanan.

Mereka memeras perusahaan truk angkutan barang yang beroperasi di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara

Setiap bulan, para tersangka bisa meraup uang puluhan rupiah hingga ratusan juta rupiah dari para perusahaan pengirim barang di kawasan Tanjung Priok.

Baca: Fakta-fakta Sindikat Preman di Tanjung Priok, Raup Ratusan Juta Rupiah dari Modus Jasa Pengamanan

Modus Jadi 'Jasa Pengamanan'

Dikutip dari Kompas.com, Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Fadil Imran mengatakan, 24 tersangka yang ditangkap tergabung dalam empat perusahaan jasa pengamanan berbeda.

Modus yang dilakukan oleh para preman kepada para perusahaan, mereka beralasan bahwa korban akan mendapatkan keamanan dari tindak kejahatan yang biasa dilakukan para asmoro.

Asmoro sendiri merupakan sebutan para pelaku kejahatan seperti begal hingga bajing loncat yang biasa beraksi di Tanjung Priok.

"Modus operasinya para pelaku ini seolah-olah mengamankan. Tapi sejatinya melakukan pemerasan kepada perusahaan angkutan kontainer dari dan ke Pelabuhan Tanjung Priok," kata Fadil di Polda Metro Jaya, Kamis (17/6/2021).

Pemberian Tanda 'stiker'

Para preman meminta uang kepada perusahaan jasa pengirim barang dengan nilai yang bervariatif.

Berkisar mulai dari Rp 50.000 hingga Rp 100.000 untuk satu kendaraan, bayarannya per bulan.

Jika perusahaan sudah membayar, para preman ini kemudian menempelkan stiker di mobil kontainer yang biasa melintas di kawasan Tanjung Priok.

Stiker itu untuk menjadi 'petanda' bagi para asmoro untuk tidak melakukan kejahatan begal hingga bajing loncat kepada sopir truk kontainer.

"Bagi mereka yang sudah membayarkan uang dengan dalih untuk pengamanan, maka mereka tidak akan diganggu dalam perjalanan itu. Karena sudah ditandai stiker," kata Fadil.

Kerjasama dengan Asmoro

Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirkrimum), Kombes Pol Tubagus Ade Hidayat mengatakan, para tersangka juga terbukti bekerja sama dengan asmoro untuk menggangu para sopir truk kontainer di jalan.

Cara itu dilakukan para preman untuk menyakinkan para perusahaan pengiriman barang hingga dapat menggunakan jasa pengamanan mereka.

"Supaya jasa pengamanan itu laku maka situasinya dibuat tidak aman. Dikerahkanlah para asmoro. Kalau tidak diganggu dulu, (perusahaan angkutan barang) tidak akan datang," ujar Tubagus.

Setelah maraknya aksi kejahatan yang dialami para sopir truk kontainer, maka para perusahaan pengangkutan barang kemudian menerima tawaran para tersangka terkait jasa keamanan tersebut.

"Mobil yang sudah terpasang stiker tidak diganggu oleh kelompok yang asmoro tadi. Karena sudah secara rutin bayar," Imbuhnya.

Tubagus menjelaskan, Para tersangka bahkan menggaji para asmoro itu untuk melakukan berbagai kejahatan terhadap para sopir truk kontainer.

"Ada buktinya? Ada. Transfer gaji per bulan kepada yang membuat itu tadi (asmoro)," kata Tubagus.

Baca: Nyamar dan Mesra-mesraan di Objek Wisata, Pasangan Polisi Ciduk Preman Apes yang Tarik Pungli

Terbagi 4 Perusahaan

Dilansir dari Kompas.com, Kapolda Metro Jaya, Irjen Fadil mengatakan, Para tersangka tergabung dalam empat perusahaan jasa pengeamanan berbeda.

Kelompok pertama para tersangka menamakan perusahaan jasa pengamanan dan pengawalannya, Bad Boy.

Mereka meminta uang keamanan dari 12 perusahaan angkutan barang dengan total kendaraan 134 unit truk kontainer.

"Ada 4 tersangka (yang ditangkap). Mereka koordinator asmoro. Kelompok ini menarik uang rutin sebanyak Rp 9.100.000 dari 12 perusahaan, dengan total armada 134 unit," ujar Fadil.

Kelompok kedua ada enam pelaku yang ditangkap. Mereka membuka jasa pengamanan dan pengawalan yang dinamakan perusahaan Haluan Jaya Prakasa.

Dari mereka disita uang Rp 177.349.500.

Ketiga kelompok jasa pengamanan dan pengamanan Sakta Jaya Abadi.

Mereka menarik uang dari 23 perusahaan angkutan yang memiliki armada 529 unit. Total uang Rp 24.650.000," ungkapnya.

Kelompok keempat melakukan pemerasan kepada 30 perusahaan jasa transportasi angkutan barang yang memiliki 809 unit kendaraan.

"Yang terakhir kelompok Tanjung Kemilau. Uang yang didapat itu Rp 82.560.000," papar Fadil.

Barang bukti yang diperoleh dari penangkapan ini berupa sejumlah ponsel, buku catatan pemasukan dan pengeluaran uang, stiker, kwitansi, dan bukti transfer.

Para tersangka dipersangkakan dengan Pasal 368 KUHP terkait pemerasan dengan ancaman sembilan tahun penjara.

Lagi-lagi, para preman pungutan liar di Kawasan Tanjung Priok, Kembali ditangkap

Kali ini, modusnya jadi ‘Jasa Pengamanan’

Mulai dari peras perusahaan agar bisa sewa jasanya, hingga kerja sama dengan para Asmoro (Begal)

Kini, para tersangka terancam hukuman Sembilan tahun penjara (*)

Baca berita terkait lainnya

Sumber: Tribunnews.com

VIDEO TERKAIT
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved