Yandex

TRIBUNNEWS UPDATE

Pelaku Pungli Gunakan 'Asmoro' di Pelabuhan Tanjung Priok, Polisi: Diganggu jika Tidak Beri Uang

Jumat, 18 Juni 2021 09:11 WIB
Tribunnews.com
Editor: Aprilia Saraswati | Reporter: Dea Mita | Video Production: Gianta Firmandimas Adya Mahendra

TRIBUN-VIDEO.COM - Polisi kembali membeberkan bagaimana praktik pungutan liar terjadi di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Termasuk adanya "asmoro" yang digunakan para pelaku umtuk melakukan pungli.

Asmoro merupakan istilah dari gangguan yang akan menimpa sopir truk yang akan membawa barang dari dan ke pelabuhan itu.

Adanya hal itu dibeberkan oleh Kapolda Metro Jaya Irjen Fadil Imran, di Mapolda Metro Jaya, Kamis (17/6/2021).

Fadil mengatakan, istilah Asmoro dipakai untuk menarik pungli dari sopir truk kontainer maupun perusahaan jasa ekspedisi.

Dikutip dari Tribunnews.com, ia menjelaskan Asmoro ini merupakan gangguan seperti bajing loncat.

"Jika perusahaan pengangkut truk kontainer tersebut tidak memberikan uang, maka akan terjadi gangguan gangguan di lapangan dalam bentuk 'Asmoro', dalam bentuk meleng diembat, pokoknya diganggu, dalam bentuk bajing loncat," ujar Fadil kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (17/6/2021).

Fadil mengatakan aktivitas para pelaku ini kerap mengganggu distribusi importasi barang dari dan ke Pelabuhan Tanjung Priok.

Namun, apabila sopir truk atau perusahaan dari truk atau jasa ekspedisi memberi uang.

Fadil menyebut truk mereka akan ditempeli stiker-stiker dan tak akan diganggu.

Baca: Empat Kelompok yang Lakukan Pungli di Tanjung Priok Sudah Terorganisir, Modus Gunakan Stiker

Baca: Sopir Truk Korban Pungli Mengeluh: Anak Mau Jajan Dibentak, padahal Uang Disebar di Pelabuhan

"Seolah-olah mengamankan, tapi sejatinya melakukan pemerasan kepada perusahaan angkutan kontainer dari dan ke Pelabuhan Tanjung Priok," lanjutnya.

Menurutnya, perusahaan-perusahan dari truk kontainer itu harus menyetorkan uang setidaknya hingga Rp 500 hingga Rp 1 Juta.

"Kalau satu perusahaan memiliki 10 truk kontainer berarti dia harus menyetorkan uang Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta rupiah," ujarnya.

Fadil pun mengungkapkan ada beberapa kelompok yang melakukan aksi pungli ini.

Yakni kelompok Bad Boy, di mana pihaknya telah mengamankan empat tersangka dari kelompok ini.

"Berhasil disita handphone, buku pemasukan dan pengeluaran, stiker bad boy, pos pantau stempel, kemudian surat pernyataan untuk bersedia membayar, kuitansi pembayaran, bukti transfer, dan fotokopi akte pendirian perusahaan jasa keamanan," katanya.

Kemudian kelompok Haluan Jaya Prakasa, dengan enam orang tersangka.

Uang yang disita pun jumlahnya mencapai ratusan juta rupiah "Dari mereka, disita uang Rp177.349.500," katanya.

Kelompok Sapta Jaya Abadi, berhasil ditangkap tiga orang yang berposisi sebagai pimpinan, kordinator lapangan, hingga bagian administrasi.

"Kelompok ini setiap bulannya mengutip uang dari 23 perusahaan angkutan yang memiliki armada 529 unit, total uang Rp24,65 juta. Barbuk lain sama, ada stiker, bukti setor, stempel, pakaian, seragam, dan sebagainya," tuturnya

Terakhir, kelompok Tanjung Raya Kemilau dengan paling banyak orang yang ditangkap yakni 10 orang.

Kelompok ini jadi kelompok yang diringkus anggota-anggotanya paling banyak dari 3 kelompok yang sudah disebutkan.

"10 pelaku atau tersangka (diamankan). Kelompok jni mengorganisir 30 perusahaan angkutan truk kontainer, sebanyak 809 unit truk," katanya.(Tribun-video.com/Tribunnews.com)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Asmoro, Istilah Unik yang Dipakai Para Pelaku Pungli di Pelabuhan Tanjung Priok

# sopir truk # Pelabuhan Tanjung Priok # pungutan liar # Irjen Fadil Imran

Sumber: Tribunnews.com
VIDEO TERKAIT
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved