Yandex

HOT TOPIC

Kim Jong Un Sebut K-Pop "Kanker Ganas", Siapkan Hukuman Mati untuk Warga yang Menonton K Pop

Minggu, 13 Juni 2021 21:49 WIB
Tribunnews.com
Editor: Tri Hantoro | Video Production: Fitriana SekarAyu

TRIBUN-VIDEO.COM - K-Pop merupakan jenis musik asal Korea Selatan yang popularitasnya kian meningkat selama satu dekade ini.

Meski disukai banyak orang di seluruh dunia, daya tarik K-Pop rupanya tidak berlaku bagi Korea Utara yang dipimpin oleh Kim Jong Un.

Dilansir dari Koreaboo, baru-baru ini, pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, yang telah mengecam budaya K-Pop Korea Selatan.

Sebut K-POP sebagai "Kanker Ganas"

Melansir dari laporan BBC, Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menyebut K-Pop sebagai "kanker ganas" yang menggerogoti negaranya.

Melalui media pemerintah, Kim menyatakan generasi muda negaranya meniru kebudayaan tetangga sekaligus musuh bebuyutannya, Korea Selatan.

Menurut Kim, gaya rambut, gaya berbicara, cara berpakaian, dan perilaku anak muda Korut "teracuni" Korea Selatan.

Kim Jong Un menekankan, jika mereka membiarkan kondisi ini berlanjut, Korea Utara bakal hancur seperti "tembok yang lembab".

Setelah memenangkan fans di seluruh dunia, kultur pop Korsel, termasuk K-Pop, memasuki "rintangan terakhir": Korea Utara.

Karena perkembangannya mulai pesat, rezim Kim bertindak dengan mencanangkan perang terhadap kultur budaya "Negeri Ginseng".

Nonton K-Pop Bisa Dihukum Mati

Pyongyang bahkan telah mengesahkan undang-undang baru untuk membasmi segala jenis pengaruh asing.

Negara yang dipimpin Kim Jong Un ini akan menghukum dengan keras siapa saja yang mengonsumsi atau memakai film, pakaian, dan "bahasa gaul" asing.

Kehidupan warga di Korea Utara memang dirancang untuk dikendalikan.

Laporan terbaru BBC menyebut, Korut sedang melakukan "perang tanpa senjata", dengan ide yang dinilai "sangat reaksioner".

Siapa pun yang tertangkap sedang mengonsumsi hal dari Korea Selatan, AS, atau Jepang, harus bersiap hadapi hukuman mati.

Paling ringan, mereka yang tertangkap menonton drama atau musik negara tetangga harus menghadapi kamp penjara selama 15 tahun lamanya.

Sebelumnya, Kim memang menulis surat di media pemerintah, yang berisi seruan bagi Liga Pemuda Korut, untuk menindak "perilaku tidak menyenangkan, individualistis, dan anti-sosialis" di kalangan anak muda.

Singkatnya, pemimpin kelahiran 8 Januari 1984 ini, ingin menghentikan pembicaraan, gaya rambut dan pakaian yang berafiliasi dengan budaya asing.

Eksekusi Warga yang Jual Film Ilegal

Pada akhir Mei, seorang pria di Korea Utara ditembak mati di hadapan 500 orang, setelah dia ketahuan menjual film ilegal.

Sumber di Daily NK mengungkapkan, pria bermarga Lee itu dicap otoritas setempat sebagai "elemen anti-sosialis".

Dia dieksekusi pada Kamis pekan lalu (20/5/2021), karena menjual film dan musik dari Korea Selatan.

Dia ditangkap dan 40 hari kemudian, dia ditembak mati di depan 500 orang, termasuk keluarganya, di Wonsan, Provinsi Gangwon.

Sebelum dieksekusi, Lee merupakan kepala teknisi di Komisi Manajemen Pertanian Wonsan, dilansir Daily Mirror Kamis (27/5/2021).

Dia dilaporkan oleh anak pemimpinnya, setelah diam-diam menjual CD maupun USB berisi film dan musik Korea Selatan.

"Ini merupakan eksekusi pertama di Provinsi Gangwon karena aksi anti-sosialis berdasarkan UU anti-reaksioner yang tegas," jelas pemerintah setempat.

Kekhawatiran Kim Jong Un

Apa yang dilakukan pemimpin berusia 37 tahun ini jelas tidak melakukan perang dengan pasukan dan senjata, tapi sedang perang melawan "kebudayaan."

Apa yang dilakukannya jelas punya tujuan khusus, yakni menghentikan informasi dari negara luar.

Khususnya, informasi yang menjelekkan Korut. Karena itulah, putra Kim Jong Il ini berusaha menutup semua yang berasal dari luar, tak hanya informasi, tapi budaya.

Tak ada celah sedikitpun untuk dikonsumsi anak muda Korut.

Isolasi yang dipaksakan ini sebenarnya malah memperburuk ekonomi yang sudah gagal.

Apalagi setelah semua uang disalurkan ke dalam ambisi nuklir rezim.

Awal tahun ini, Kim sendiri mengakui bahwa rakyatnya menghadapi "situasi terburuk."

Dengan situasi semacam ini, pria yang memimpin Korut sejak 2011 ini khawatir kalau rakyatnya mengonsumsi budaya asing, misal dari K-Drama dan sebagainya, akan memunculkan imaji dan mimpi tertentu.

Rakyat Korut akan punya fantasi menjadi seperti rakyat Korsel, yang memang lebih maju.

Dan fantasi berbahaya inilah yang bisa memicu perlawanan.

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengatakan semua budaya pop asing sebagai “racun berbahaya”.

Bahkan Kim Jong Un menyebut K-Pop sebagai "kanker ganas" yang menggerogoti negaranya.

Putra mendiang Kim Jong Il ini membuat aturan anti-asing bagi warga Korea Utara.

Undang-undang terbaru bahkan siapkan hukuman mati bagi warga yang mengonsumsi budaya negara tetangga. (*)

Sumber: Tribunnews.com
Tags
   #Kim Jong Un   #Kpop   #hukuman mati   #Korea Utara

VIDEO TERKAIT
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved