Yandex

Travel

Fakta Aneh Tentang Kentut, Sebabkan Pembunuhan hingga Jatuhnya Klan Samurai di Jepang

Selasa, 11 Mei 2021 09:25 WIB
TribunTravel.com

TRIBUN-VIDEO.COM - Era samurai adalah periode kekerasan dalam sejarah Jepang.

Khususnya pada periode Sengoku , anggota dari kelas kesatria kurang lebih terus-menerus berada dalam risiko bahwa hidup mereka bisa berakhir secara tiba-tiba sebagai akibat dari perselisihan atas tanah, kekuasaan, atau kehormatan.

Atau, dalam kasus seorang samurai terkemuka, kematiannya disebabkan oleh kentut, TribunTravel melansir dari laman soranews.

Chiba Kunitane adalah penguasa ke-29 dari klan Chiba , yang menguasai bagian timur Jepang yang kemudian disebut Shimosa (sekarang Prefektur Chiba).

Pada 1585, seperti kebiasaan, Kunitane memanggil pengikutnya ke Kastil Sakura, benteng utama klan Chiba, untuk merayakan Tahun Baru.

Selama perayaan, pelayan Kunitane, Kuwata Mangoro, kentut di depan tuannya.

Ketika Mangoro kentut untuk kedua kalinya, Kunitane mulai menghukum pembantunya karena dianggap kurang sopan, yang ditanggapi Mangoro:

“Kentut tidak peduli tentang kapan dan di mana mereka keluar, jadi mengapa kamu harus berteriak padaku di depan pengikutmu?”

Kunitane bereaksi dengan marah, entah karena tidak setuju dengan alasan bawahannya, atau karena tidak tahan dibantah oleh bawahannya.

Kunitane menendang Mangoro ke tanah dan meraih gagang pedangnya, dan hanya melalui intervensi dari para pengikutnya yang berkumpul, Kunitane dihentikan dari menebas Mangoro saat itu juga.

Tidaklah menguntungkan untuk menodai perayaan Tahun Baru dengan pertumpahan darah, mereka bersikeras, dan mengapa penguasa klan harus begitu peduli dengan tindakan sepele seperti itu?

Namun, kemarahan Kunitane terlalu besar untuk segera mereda.

Mangoro dikirim untuk tinggal bersama satu pengikutnya untuk jangka waktu tertentu .

Sampai kemudian, Mangono diperintahkan kembali ke Kastil Sakura dan sekali lagi menjalankan tugas melayani Kunitane.

Meski kejadian itu telah berlalu, kekesalan Mangoro terhadap cara Kunitane memperlakukannya tetap ada .
Pada malam tanggal 1 Mei, dia mengendap-endap ke dalam kamar pribadi Kunitane ketika tuannya sedang tidur.

Mangoro menusuk Kunitane dengan belati dua kali , sesuai dengan jumlah kentut yang dia lakukan di Tahun Baru.

Teriakan kaget dan kesakitan Kunitane menarik perhatian para penjaga kastil, dan sementara Mangoro bisa melarikan diri ke desa terdekat, dia akhirnya dikepung di hutan dan bunuh diri atau dieksekusi oleh pengejarnya.

Sementara itu, Kunitane berhasil bertahan hidup selama enam hari lagi, tetapi akhirnya menyerah pada lukanya dan meninggal, pada usia 28 tahun .

Masalah semakin memburuk saat diketahui jikapewaris Kunitane baru berusia 10 tahun pada saat itu.

Klan Chiba sendiri berafiliasi dengan klan Hojo yang lebih kuat kemudian , dengan Kunitane menikah dengan satu putri Hojo Ujimasa.

Hojo menganggap karena putra Kunitane masih terlalu muda untuk mengambil alih tugas ayahnya, domain klan Chiba akan dikelola oleh satu putra Ujimasa.

Lima tahun kemudian, Hojo ditaklukkan oleh tentara Toyotomi Hideoyoshi, dan klan Chiba tidak pernah merebut kembali kendali atas tanah yang sekarang menggunakan nama mereka .

Pada akhirnya, ini adalah kisah yang berbau tragedi aneh, dan mengejutkan untuk memikirkan berapa banyak nyawa yang diubah oleh dua kentut. (*)

Artikel ini telah tayang di TribunTravel.com dengan judul Fakta Aneh Kentut, Sebabkan Pembunuhan dan Jatuhnya Klan Samurai di Jepang

Editor: Tri Hantoro
Video Editor: Ignatius Agustha Kurniawan
Sumber: TribunTravel.com
Tags
   #Fakta Aneh   #kentut   #samurai   #Jepang
VIDEO TERKAIT
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved