Yandex

Terkini Nasional

Jadi Tulang Punggung Keluarga, Nenek Mia Tetap Berjualan di Pelabuhan Nunukan Meski Sepi Pembeli

Selasa, 11 Mei 2021 08:29 WIB
Tribun Kaltara

TRIBUN-VIDEO.COM, NUNUKAN - Nenek Mia (67) warga Nunukan, Kalimantan Utara memutuskan untuk tetap berjualan di Pelabuhan Tunon Taka Nunukan, meski sepi pembeli.

Kebijakan pemerintah mengenai larangan mudik Idulfitri 1442 Hijriah berdampak pada berbagai sektor kehidupan, utamanya ekonomi pedagang kaki lima dan buruh pelabuhan.

Seperti yang dialami nenek Mia. Seorang pedagang kaki lima yang telah malang melintang selama 20 tahun, berdagang nasi bungkus dan aneka makanan ringan serta minuman sachet lainnya.

Saat ditemui sedang berbaring di kursi kayu menunggu pembeli, nenek Mia mengaku selama kapal Pelni tak beroperasi akibat larangan mudik, pendapatannya jadi menurun drastis.

Sebelum ada kebijakan larangan mudik, nenek Mia bisa mendapat pemasukan hingga Rp400 ribu per harinya.

Namun kini ia hanya mendapat Rp100-150 ribu, bahkan mirisnya Rp70 ribu per hari.

"Ada 20 tahun sudah nenek menjual. Dari jembatan pelabuhan masih kayu lagi. Apalagi mau dikerjakan kalau tidak menjual. Kalau ada kapal masuk atau ada buruh bongkar barang nenek jualan nasi. Tapi karena tidak ada kapal sudah, jadi hanya kopi sachet sama mie instan saja," kata nenek Mia kepada TribunKaltara.com, sembari tersenyum dari raut wajahnya yang tampak mulai keriput, Senin (10/05/2021), pukul 15.00 Wita.

Nenek Mia yang sehari-harinya ditemani berjualan oleh sang anak, namun kini terpaksa sendirian, lantaran anaknya baru saja selesai melahirkan.

Meski sepi, nenek Mia tetap memilih untuk berjualan. Pasalnya, aktivitas bongkar muat barang logistik di pelabuhan masih terus berjalan.

Bahkan, ia rela berjalan kaki sekira 300 meter dari rumah menuju tempatnya berjualan di Pelabuhan Tunon Taka Nunukan.

"Nenek ke sini jalan kaki. Mana pandai naik motor nak. Kalau anak nenek sempat antar ya diantar. Tapi dia lagi istirahat karena baru habis melahirkan. Penjual hanya nenek sendiri saja. Karena kapal penumpang sementara tidak masuk. Tapi, banyak buruh di pelabuhan termasuk sopir minta nenek jualan, makanya tetap jualan. Mereka bilang indo (panggilan etnis Sulawesi untuk ibu) menjual ko besok," ucapnya.

Baca: Kepala Pelni Nunukan Beberkan Banyak Temukan Warga Berkedok Sakit agar Bisa Mudik

Nenek Mia mengaku, dirinya juga menjual nasi bungkus untuk menambah pemasukan selama pandemi Covid-19.

Meski uang hasil dagangan nasi yang ia dapatkan juga tak seberapa.

"Nasi lauk ikan bayar Rp20 ribu per bungkus. Kalau untuk buruh pelabuhan nenek kasi Rp15 ribu per bungkus. Kemarin ada 2 kilo nasi nenek buat, tapi satu orang saja beli. Jadi nenek bawa pulang kasi keluarga, tetangga, dan beberapa dikasi petugas pelabuhan. Kemarin hanya dapat Rp70 ribu," ujarnya.

Saat ditanyai, alasan dirinya tak menjual di dalam pelabuhan, nenek Mia menjawab singkat, takut diusir petugas.

Ia mengungkap, untuk bisa berjualan di dalam pelabuhan, dirinya harus membayar biaya sewa sebesar Rp15 juta per tahun.

"Tidak berani saya jualan di dalam nak. Karena sering dikejar oleh petugas. Kalau di luar sini gratis. Bahkan dulu di luar sini saja pernah digusur. Tapi ada kebijakan lagi, makanya nenek boleh jualan lagi. Habis salat ashar baru nenek pulang. Kalau ada kapal masuk, biasanya sampai tengah malam di pelabuhan," tuturnya.

Nenek dua cucu itu, menuturkan, selama dua tahun dirinya menjadi tulang punggung keluarga.

Pasalnya, suaminya yang juga seorang buruh pelabuhan saat ini terbaring lemah di kasur, akibat tulang belakangnya baru saja selesai dioperasi.

"Anak nenek empat semua sudah berkeluarga. Dan cucu ada dua orang. Suami saat ini sakit. Tulang belakangnya sempat dioperasi di Tarakan. Dokter bilang tulangnya keropos. Angkat tangannya aja sudah susah. Jadi kalau nenek lambat pulang kerja, baju kakek ya begitu aja di badan. Karena anak-anak tidak berani tukarkan bajunya, takut salah nanti," ungkapnya.

Nenek Mia, katakan hari ini ia baru mendapat Rp100 ribu dari hasil jualan kopi sachet.

Dia berharap, pemerintah daerah dapat membantu pedagang kaki lima yang terkena dampak pandemi Covid-19.

"Hari ini baru dapat Rp100 ribu. Dicukup-cukupi saja nak, uangnya. Nenek tidak pernah dapat bantuan sama sekali. Kayak orang lain ada bantuan lewat kantor pos ya. Soalnya mana nenek tau urus seperti itu. Dulu ada dapat pembagian beras dua kali. Tapi nggak ada lagi dapat," imbuhnya.(Tribunkaltara.com/Febrianus Felis)

# Nunukan # Kalimantan Utara # Kaltara # pandemi Covid-19

Editor: fajri digit sholikhawan
Video Editor: Andheka Malestha
Sumber: Tribun Kaltara
VIDEO TERKAIT
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved