Yandex

Terkini Daerah

Tertutupi Awan, Hilal Tak Terlihat

Selasa, 13 April 2021 12:47 WIB
Tribunnews.com
Editor: Tri Hantoro | Video Production: arvent

TRIBUN-VIDEO.COM, TARAKAN - Pemantauan hilal di Taman Berlabuh Kota Tarakan dilaksanakan Senin (10/4/2021) sekitar pukul 17.30 WITA.

Kegiatan pemantauan hilal (rukyatul hilal) dihadiri oleh Kantor Wilayah Kemenag Provinsi Kaltara, Kemenag Kota Tarakan, MUI Kaltara dan MUI Kota Tarakan, ormas Islam seperti Wahdah Islamiah, NU dan Muhammadiyah.

Pemantauan dimulai sekitar pukul 18.15 WITA menggunakan teleskop dari BMKG Kota Tarakan.

Sekitar pukul 18.11 WITA, kondisi cuaca dari sebelumnya cerah mengalami perubahan di bagian barat Kota Tarakan. Dibeberkan PLT BMKG Kota Tarakan, William, dari arah Barat muncul awan cumulonimbus (CB).

"Sehingga hilal tertutupi awan CB. Itu yang menjadi kendala kita juga saat memantau. Ada perubahan cuaca tiba-tiba," ungkap William kepada TribunKaltara.com, Senin (12/4/2021).

Dibeberkan H.Sofian Kabag Tata Usaha Kanwil Kaltara, ada dua metode yanng dilaksanakan pemerintah dalam hal rukyatul hilal menentukan awal Ramadan 1442 Hijriah. Pertama, dengan metode o hisab dan kedua metode rukyat.

"Metode hisab dalam rangka menghitung posisi matahari bumi dan bulan. Hari ini posisi matahari bulan dan bumi itu sejajar sama-sama saat konjungsi dan konjungsi ini terjadi di Indonesia bagian timur pukul 10.30 WITA," ungkap H. Sofian.

Itu manjadi kategori dan prasyarat untuk melihat hilal (bulan). Berdasarkan perhitungan hisab, lanjutnua untuk hari ini, Jakarta secara umum hilal berada di atas 3 derajat.

" Jadi Tanjung Selor, Tarakan, KTT dan Bulungan juga berada di atas 3 derajat kalau berdasarkan perhitungan hisab bukan rukyat," urainya.

Selanjutnya untuk memperkuat hisab tadi lanjut H.Sofian, dikonfirmasi dan didukung dengan rukyatul hilal. Sehingga perlu diadakan rukyat sebagai bentuk ikhtiar.

"Kita adakan rukyat. Karena kalau di atas 2 derajat itu berdasarkan metode pemantauan sudah dimungkinkan melihat bulan," jelasnya.

Sementara itu, Hj. Muhammad Romli, Kepala Bidang Haji Bimas Islam Kota Tarakan mengatakan, pemantauan hilal memang dipusatkan di Kota Tarakan.
Secara metode hisab, ketinggian hilal berada di atas 3 derajat. Namun lanjutnya setelah dilaksanakan rukyat atau pemantauan hilal, ternyata hilal tidak bisa dilihat secara langsung.

"Jadi untuk mengamati itu syaratnya matahari harus tenggelam," jelasnya.

Ia melanjutkan tahun-tahun sebelumnya setiap pantauan awal Ramadan atau Idulfitri, diakuinya hilal memang belum pernah terlihat. Ia melanjutkan salah satu alasannya karena letak Kaltara yang tidak strategis untuk pengamatan hilal.

"Selama ini memang belum pernah ada terlihat. Ditambah gunung dan hutan ditambah tadi awan jelang Magrib sehingga tidak terlihat," pungkasnya. (*)

Sumber: Tribunnews.com
Tags
   #Hilal   #Kaltara   #Puasa Ramadan 2021
VIDEO TERKAIT
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved