Yandex

Terkini Daerah

Gugur dalam Baku Tembak, Gigi Patah Menjadi Firasat Orang Tua Kopda Anumerta Dedi Irawan

Rabu, 3 Maret 2021 16:08 WIB
Tribun Pekanbaru

TRIBUN-VIDEO.COM  - Ternyata, firasat kepergian Kopda Anumerta Dedi Irawan sudah dirasakan orangtuanya. Gigi patah menjadi pertanda bakal berduka.

Dedi Irawan adalah prajurit TNI yang gugur dalam baku tembak dengan kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT), Senin (1/3/2021).

Disampaikan Heru, abang Dedi Irawan, firasat gigi patah disampaikan orang tua mereka.

"Kalau saya tidak ada firasat, cuma dari orang tua gigi patah," tutur Heru.

Heru menyebutkan, keluarga begitu tidak menyangka adiknya pergi secepat itu.

Peristiwa yang menewaskan Praka Dedi Irawan terjadi di wilayah Pegunungan Andole, Desa Tambarana, Kecamatan Poso Pesisir Utara, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.

Suasana duka dan isak tangis keluarga mengiringi kedatangan jenazah prajurit TNI itu.

Karangan bunga ucapan belasungkawa datang dari berbagai kalangan di kediaman orangtuanya yang beralamat di Jalan Kusuma, Kelurahan Simpang Tiga, Kecamatan Bukitraya, Kota Pekanbaru, (2/3/2021) siang.

Kursi plastik untuk tempat duduk para pelayat, terlihat berjejer di bawah tenda yang terpasang.

Siang itu, Komandan Korem (Danrem) 031/ Wira Bima, Brigjen TNI M Syech Ismed datang langsung ke kediaman orangtua Praka Dedi Irawan.

Ibunda Dedi, Hj Ismiati, tak kuasa menahan tangis.

Air matanya menetes deras. Seketika, sang ibunda langsung memeluk tubuh Brigjen Ismed.

Danrem pun mencoba menenangkan ibunda Praka Dedi. Raut wajah Brigjen Ismed pun berubah sedih.

Ia juga terlihat merasakan kedukaan yang mendalam dari ibunda Dedi Irawan.

Baca: Baku Tembak dengan TNI-Polri, Anggota Kelompok Ali Kalora CS Tewas Diduga Kena Bom Sendiri

Sempat Video Call

Heru, abang Dedi Irawan menyebutkan, keluarga begitu tidak menyangka adiknya pergi secepat ini.

Padahal pagi hari sebelum dikabarkan gugur, almarhum masih sempat berkomunikasi lewat video call dan mengabarkan tentang kondisi dirinya di Poso.

"Kami kaget, soalnya pagi kita masih video call, habis Magrib kita dapat kabar duka bahwa adik kita sudah tidak ada," katanya.

Heru menyebutkan, Dedi Irawan sudah berada di Poso selama tiga bulan. Ia menjalankan tugas negara dan tergabung dalam Satgas Operasi Madago Raya.

Sebelum berangkat ke Poso, Praka Dedi Irawan sempat pulang ke Pekanbaru, selama 10 hari.

"Sebelum berangkat ke Poso dia ke sini. Dia ambil cuti kurang lebih 10 hari. Setelah itu dia berangkat ke Poso," ungkap Heru.

Ternyata, firasat kepergian Praka Dedi Irawan sudah dirasakan orangtua.

"Kalau saya tidak ada firasat, cuma dari orang tua gigi patah," tutur Heru lagi.

Disebutkan Heru, Praka Dedi Irawan merupakan anak keempat dari lima bersaudara. Ia lahir pada 19 Agustus 1991.

Meninggalkan Istri dan Satu Anak

Praka Dedi Irawan meninggalkan seorang istri yang berada di Solo. Ia juga meninggalkan anak yang masih berusia 2 tahun 2 bulan.

Sehari-hari, Praka Dedi dikenal sebagai sosok yang baik dan tidak pernah membuat orang tuanya bersedih.

"Dialah anak yang tidak pernah membuat air mata orang tua jatuh. Ya, yang namanya umur kita tidak tahu. Sosok yang baik adalah dia," ucap Heru.

Jenazah almarhum Praka Dedi Irawan diterbangkan dari Sulawesi Tengah ke Jakarta.

Selanjutnya, jenazah diterbangkan dari Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta menuju Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru, untuk dibawa ke rumah duka.

Jenazah Praka Dedi Irawan mendarat di Lanud Roesmin Nurjadin. Setelah itu, jenazah dibawa ke rumah duka dan tiba sekitar pukul 17.00 WIB.

Istri Praka Dedi dan putrinya yang masih berusia 2 tahun terlihat ikut dalam mobil yang membawa jenazah.

Hujan tangis pecah ketika putri Praka Dedi menjerit disambut keluarga di rumah duka.

Baca: Fakta Fakta Sosok Rudi Haruna Mantan Rekan Ali Kalora yang Kini Sudah Bebas

Naik Pangkat

Setelah disemayamkan sebentar di rumah duka, jenazah Praka Dedi Irawan dibawa ke Masjid Abu Bakar untuk disalatkan.

Setelah itu, jenazah diserahkan kepada TNI untuk selanjutnya dimakamkan di komplek Taman Bahagia Pekanbaru.

Peti jenazah almarhum yang berbalut bendera merah putih itu diangkat 6 orang personel TNI.

Iring-iringan jenazah tiba di dekat makam. Tembakan salvo meletus beberapa kali, mengiringi proses pemakaman Praka Dedi Irawan secara militer ini.

Keluarga pun ikut mengiringi. Ibunda Praka Dedi yang mengenakan mukenah warna putih, terlihat memeluk erat foto almarhum semasa hidup. Ia didampingi anggota keluar yang lain.

Hadir dalam pemakaman Praka Dedi Irawan, Wadankoopsus TNI, Brigjen TNI (Mar) Widodo. Karena gugur dalam melaksanakan tugas negara, Praka Dedi Irawan naik pangkat menjadi Kopda (Anumerta).

"Itu kan sudah haknya almarhum, karena melaksanakan tugas negara. Itu reward dari Panglima TNI. Sebelumnya pangkat Praka, menjadi Kopda," ujarnya.

Diungkapkannya, almarhum dikenal baik. Dia terbilang bagus dalam menjalankan tugas-tugas.

Sementara itu, Danrem 031/ Wira Bima Brigjen TNI M Syech Ismed yang juga hadir dalam pemakaman almarhum menuturkan, pihaknya menyampaikan duka cita atas berpulangnya salah satu prajurit dari Koopsus TNI ini.

Katanya, orangtua almarhum Dedi Irawan,memang tinggal di Pekanbaru. Namun ia berasal dari satuan Koopsus TNI.

(Tribunpekanbaru.com / Rizky Armanda )

Artikel ini telah tayang di Tribunpekanbaru.com dengan judul Gigi Patah Firasat Kepergian Kopda Anumerta Dedi Irawan,HujanTangis Iringi Pemakaman di Pekanbaru

Editor: Aprilia Saraswati
Video Production: Dimas HayyuAsa
Sumber: Tribun Pekanbaru
VIDEO TERKAIT
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved