Yandex

Terkini Daerah

Berawal dari Aduan TKW ke Kedubes RI di Turki, 2 Pelaku Perdagangan Orang Ditangkap, 1 Lainnya Buron

Selasa, 23 Februari 2021 14:46 WIB
Tribun Lombok

Laporan Wartawan TribunLombok.com, Sirtupillaili

TRIBUN-VIDEO.COM - Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda NTB menangkap dua pelaku tindak pidana perdagangan orang (TPPO).

Kedua pelaku berinisial HSR (44) alias Herman, warga Kelurahan Rambutan, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur.

Kemudian AB (41) alias Mamat, warga Dusun Anjani Timur, Desa Anjani, Kecamatan Suralaga, Kabupaten Lombok Timur.

Baca: Polisi Kenakan Pasal Perdagangan Orang kepada Dua Muncikari yang Ditangkap Bersama Artis VS

"Selain dua orang ini, masih ada satu orang lagi berinisial KMR masih buron," kata Kabid Humas Polda NTB Kombes Pol Artanto, dalam keterangan pers, di markas Polda NTB,  Selasa (23/2/2021).

Sementara korban atas berinisial NHL (29), asal Desa Anjani, Kecamatan Suralaga, Kabupaten Lombok Timur.

Korban saat ini berada di kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Turki.

"Korban ini kabur dan melapor ke kedutaan di Turki, sehingga kasus ini bisa kita tindaklanjuti," katanya.

Terkait modus operandi, Artanto menjelaskan, para tersangka menjanjikan korban diberangkatkan sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) ke Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.

"Tapi korban justru diberangkatkan ke Turki," katanya.

Oleh para pelaku, korban dijanjikan iming-iming gaji besar.

Baca: Video Detik-detik Polisi Bongkar Praktik Perdagangan Bayi, Ada Dua Bayi Berumur Kurang dari Sebulan

Selain itu, korban juga diberikan fee atau uang saku sebesar Rp 2,5 juta oleh orang yang memesan.

Tetapi NHL hanya diberikan Rp 1,5 juta.

Waktu perekrutan sendiri terjadi, Oktober 2018 silam.

Pelaku berinisial KMR bersama seorang agen lain menawarkan NHL bekerja sebagai asisten rumah tangga di Abu Dhabi.

"Korban diimingi-imingi gaji sebesar Rp 4 juta," katanya.

Tergiur tawaran itu, korban pun bersedia direkrut jadi buruh migran.

Setelah membuat paspor, pemeriksaan kesehatan, dan mendapatkan uang saku, perempuan ini pun diberangkatkan ke luar negeri melalui Jakarta.

"Ternyata tujuan negara bekerja adalah Turki, bukan Abu Dhabi seperti dijanjikan saat awal perekrutan," ungkap Artanto.

Selama bekerja di Turki, paspor korban diambil agen dan ditempung di ruang kecil.

Tempat itu ternyata juga berisi banyak calon PMI lainnya.

"Mirisnya mereka hanya diberikan makan sekali dalam sehari dan tidak diberikan air minum," katanya.

Selama 2 tahun bekerja, korban sering mendapatkan caci maki dan kata-kata kasar dari majikan.

Ia mendapat gaji Rp 4,2 juta tiap bulan.

Karena  tidak tahan dengan situasi tempatnya bekerja. NHL kemudian melarikan diri tanggal 21 Desember 2020.

Dia melaporkan kejadian itu ke kantor kepolisian setempat.

Selanjutnya, korban melaporkan diri ke KBRI di Ankara, Turki untuk mendapatkan perlindungan.

Menindaklanjuti laporan tersebut, kepolisian bergerak melakukan penyelidikan dan menangkap para pelaku.

Tersangka HSR kemudian ditangkap tanggal 21 Februari 2021.

Sementara tersangka AB alias GM perlu dilakukan penangkapan tanggal 22 Februari 2021.

"Kedua tersangka ditahan di rutan Polda NTB," katanya.

Barang bukti diamankan Polda NTB berupa boarding pass serta satu lembar surat perjalanan laksana Paspor Nomor: XD 887273 dikeluarkan oleh KBRI Ankara-Turki, 29 Desember 2021.

Paspor diberikan kepada korban TPPO hanya paspor kunjungan wisata.

Modus paspor pelancong, kata Artanto, merupakan yang paling sering digunakan untuk mengirim PMI secara ilegal.

Atas perbuatannya, kedua pelaku dijerat Pasal 10 dan Pasal 11 Jo. 4, Undang-undang Nomor 21 Tahun 2007.

Ancaman hukuman penjara paling lama 15 tahun, denda paling sedikit Rp 120 juta dan paling banyak Rp 600 juta.

Direktur Reskrimum Polda NTB Kombes Pol Hari Brata menambahkan, kedua pelaku merupakan bagian dari sindikat.

Tetapi jaringan mereka cukup rapi.

Sama seperti sindikat peredaran narkoba, mereka menggunakan sistem beli putus.

"Betul ini sindikat tapi sistem beli putus. Mereka merekrut kaki-kaki yang merekrut korban di wilayahnya," katanya.

Jaringan tersebut sudah beroperasi cukup lama dan masih terus beroperasi.

Dua pelaku yakni Herman dan Mamet pun ditangkap di dua lokasi berbeda.

Satu di Jakarta Timur sementara satu pelaku ditangkap di Lombok.

Mereka merupakan satu jaringan pelaku TPPO, berperan sebagai pelaksana lapangan yang diupah. (*)

Editor: Panji Anggoro Putro
Video Production: Dimas HayyuAsa
Sumber: Tribun Lombok
VIDEO TERKAIT
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved