Yandex

Terkini Daerah

Cerita Anak yang Ibunya Dipenjara karena Lempar Batu ke Pabrik Tembakau, Alami Lumpuh hingga Rindu

Senin, 22 Februari 2021 09:32 WIB
Tribun Lombok

Laporan Wartawan TribunLombok.com, Sirtupillaili

TRIBUN-VIDEO.COM – Wajah Maulida Nurbaiti (8), tampak pucat.

Tubuhnya kurus dan lemas.

Tulang dengkul dan betisnya lebih menonjol dibanding dagingnya.

Bila dibawa keluar rumah, betis Maulida ditutup pakai kaos kaki panjang supaya tidak mencolok.

Bocah malang ini hanya bisa meringkuk di atas gendongan Jumenah (60), sang nenek.

Kedua kakinya sudah tidak kuat menopang tubuhnya untuk berdiri.

Dari atas gendongan, mata sayu Maulida sesekali menatap ke anak-anak yang asik bermain di halaman rumahnya.

Sudah dua bulan bocah malang ini mengalami sakit.

Awalnya dia hanya sesak, batuk, dan sakit di bagian dada.

Namun sebulan terakhir kondisinya semakin parah, tubuhnya semakin kurus dan lumpuh.

Baca: Penahanan 4 Ibu-ibu di Lombok Tengah Dinilai Berlebihan, Tim Hukum Temukan Kejanggalan

Menurut Jumenah, cucunya itu sakit karena terlalu banyak menghirup bau tembakau dari pabrik rokok di samping rumahnya, di Dusun Eat Nyiur, Desa Wajageseng, Kecamatan Kopang, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Meski demikian, pihak keluarga belum bisa membuktikan secara medis jika Mualida sakit karena menghirup bau tembakau setiap hari.

Hanya saja dari ciri-cirinya, Jumenah sangat yakin Maulida sakit karena terdampak pabrik tembakau.

”Kalau dimasukkan air atau nasi, dia merasakan sakit di dada. Jika memasukkan makanan sedikit dia batuk, sakit di leher,” tutur Jumenah.

Baginya, itu sudah cukup meyakinkan bahwa cucunya memang terdampak pabrik tembakau.

”Bau tembakau masuk ke dalam kamar tempatnya tidur,” katanya.

Saat pabrik beroperasi, orangtua selalu melarangnya keluar rumah.

Tetapi anak-anak tidak bisa dilarang keluar masuk rumah.

”Ini kan rumahnya, tidak mungkin dia tidak keluar masuk,” kata Jumenah.

Dua bulan lalu, Maulida sama seperti anak lainnya.

Dia sangat sehat dan ceria, bermain di kampung bersama teman-temannya.

Diduga karena terus menerus mencium bau menyengat dari pabrik tembakau, sang cucu menjadi sakit bahkan lumpuh seperti sekarang.

Tidak hanya cucu, Jumenah sendiri mengalami sesak napas.

Bahkan, kakak Mualida bernama Muhammad Balibulhak pernah sesak sampai muntah darah.

Ia dan warga lain pun memprotes pemilik pabrik, namun tidak digubris.

Justru dia yang diusir.

Ia mengungkap perlakuan pihak pabrik kepada warga yang tidak kuat dengan baunya agar pindah rumah.

Kondisi itu, membuat Fatimah (40), ibu Maulida dan Muhammad Balibulhak protes dengan melempar pabrik tembakau, 26 Desember 2020 silam.

Tidak disangka, aksi protesnya itu malah berujung penjara.

Kini Fatimah mendekam di rumah tahanan (Rutan) Praya bersama tiga ibu rumah tangga lainnya.

Baca: Pengakuan Pemilik Pabrik yang Penjarakan 4 Ibu-ibu di Lombok Tengah: Kenapa Saya Dihujat Terus

Muntah Darah

Asmayadi (41), suami Fatimah sendiri belum berani memastikan apakah benar anaknya sakit karena menghirup bau tembakau.

”Kita tidak berani pastikan, karena tidak ada buktinya,” ujarnya.

Tapi saat memeriksakan ke dokter, gejala sakit anaknya memang sesak napas.

Meski tidak memberi tahu dokter bahwa dia tinggal di dekat pabrik tembakau, si dokter menyarankan untuk menjauhkan anak dari rokok atau tembakau.

”Makanya kita khawatir, karena di sini bau tembakau cukup kuat, anak ini saya titip di rumah neneknya,” katanya.

Mereka sekeluarga pun sebenarnya sudah tidak tahan dengan bau tembakau.

”Anak saya yang laki-laki (Muhammad Balibulhak) dia sering muntah darah kalau dia sesak,” katanya.

Asmayadi pun melarang anaknya bermain di sekitar rumah karena bau sangat keras.

”Itu sebagai bentuk kehati-hatian dan berjaga-jaga saja,” katanya.

Kini, selain menanggung rasa sakit, Maulida Nurbaiti juga menanggung rindu kepada sang ibu yang dipenjara.

Maulida sering mencari ibunya.

Dia terus menayangakan kepada sang bapak, kemana ibu pergi.

“Saya jawab ibu sedang cek kesehatan,” tutur Asmayadi.

Dia pun terpaksa berbohong demi kesehatan sang anak.

Terkiat keluhan warga itu, H Ahmad Suardi, pemilik pabrik tembakau UD Mawar Putra yang dikonfirmasi mengatakan, bila ada warga yang mengaku sakit karena aktivitas pabrik, dia siap membiayai pengobatannya.

Bahkan, beberapa waktu lalu, dia pun sudah mencoba membantu memeriksa kesehatan warga di Puskesmas setempat.

Warga ditunggu tim dokter untuk memeriksa kesehatannya. "Tapi kan tidak datang mereka (warga)," katanya.

Dia pun tidak bisa berbuat banyak.

Menurut Ahmad Suardi, pabrik telah berdiri selama 8 tahun lebih.

Selama ini tidak ada keluhan atas aktivitas pabrik.

Tetapi dia heran, kenapa pada tahun 2020 mulai muncul protes seperti saat ini.

Dia menjelaskan, pabrik tembakau di rumahnya hanya berupa pengolahan dan pengemasan tembakau iris untuk dijual lagi.

UD Mawar Putra membeli tembakau rajang di petani kemudian diolah dan dikemas dalam bentuk rokok sachet atau kemasan kecil.

Mengenai bahan campuran tembakau, Suardi tidak mau menjelaskan karena itu rahasia dapur perusahaan.

"Tidak bisa kita buka-bukaan juga, yang penting campuran tidak mematikan orang saja," katanya.

(*)

Artikel ini telah tayang di Tribunlombok.com dengan judul Cerita Anak Lumpuh Tinggal di Dekat Pabrik, Rindu sang Ibu, Sesak dan Sakit Dada saat Makan

Editor: Purwariyantoro
Video Production: Dimas HayyuAsa
Sumber: Tribun Lombok
VIDEO TERKAIT
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved