Yandex

TRIBUNNEWS UPDATE

POPULER Kejanggalan Pesawat Sriwijaya Air SJ-182, Dugaan Pindah Jalur dan Disorientasi

Minggu, 17 Januari 2021 07:11 WIB
BBC Indonesia

TRIBUN-VIDEO.COM - Sejumlah kejanggalan diungkap oleh pengamat terkait jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182.

Analisis sejumlah kejanggalan itu didapatkan berdasarkan hasil rekam jejak penerbangan dengan rute perjalanan yang dilalui sang pilot.

Menurut penuturan pengamat, pesawat Sriwijaya Air SJ-182 diduga hendak berpindah jalur hingga sang pilot mengalami disorientasi.

Dikutip dari BBC, diduga pesawat Sriwijaya PK-CLC hendak berpindah jalur dan sang pilot mengalami disorientasi yang diduga membuat pesawat oleng dan terjun bebas dalam kondisi mesin masih hidup.

Dugaan tersebut didapatkan dari hasil rekam jejak penerbangan yang dirilis Flightradar24.

Situs pelacak ini  mengombinasikan data dari Automatic Dependent Surveillance-Broadcast (ADS-B), Multilateration (MLAT), dan data radar.

Merujuk data Flightradar24, sejak kembali aktif mengudara pada 19 Desember 2020, pesawat PK-CLC terbang dengan rute yang sama sebanyak sembilan kali.

Upaya perpindahkan jalur diduga dilakukan sang pilot pada penerbangan 9 Januari sebelum kecelakaan terjadi.

Biasanya, perubahan jalur akan dilakukan apabila cuaca tidak dalam kondisi baik.

Namun, Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, kondisi cuaca kala pesawat terbang sedang hujan dan disertai petir dengan jarak pandang sejauh 2 kilometer.

Meski demikian, cuaca ini dikategorikan layak terbang atau mendarat.

"Diarahkan ke jalur pintas itu bukan masalah dan wajar, tapi belum sampai (jalur pintas), dia terus oleng dan jatuh," ujar pengamat penerbangan Gerry Soejatman.

Fase oleng dan jatuh tampak saat pesawat sempat kehilangan arah.

Pada saat membelok ini, ketinggian pesawat menurun dari 3.322 meter di atas permukaan laut (mdpl), ke posisi 2.476 meter dalam waktu 10 detik.

Dugaan lain yang disebutkan oleh Gerry adalah adanya disorientasi saat sang pilot melakukan perpindahan jalur.

Namun sekali lagi, hal tersebut masih bersifat dugaan dan harus dicocokkan dengan data yang ada pada penerbangan dan tengah diselidiki oleh KNKT.

"Ada kemungkinan disorientasi atau human factors. Tapi saya juga tidak bisa memastikan kapan disorientasi dimulai," kata Gerry.

Gerry menuturkan, disorientasi yang dimaksud seperti melihat ruangan gelap dan mata ditutup, seseorang akan berfikir tegak namun ternyata miring, atau berfikir naik namun ternyata turun.

Ia juga menuturkan bahwa disorientasi bisa dialami oleh pilot senior sekalipun.

"Analogi disorientasi itu kalau jalan di ruangan gelap dan mata ditutup, kita berpikir ini tegak tapi ternyata miring, berpikir naik tapi ternyata turun. Sekalipun pilot senior bisa disorientasi," jelasnya.

Mengutip laman Federation Aviation Administration, disorientasi ruang terjadi karena ketidakmampuan tubuh untuk mengidentifikasi kondisi sekitar saat terbang.

Gangguan sistem keseimbangan tubuh bisa terjadi karena adanya gangguan sensor dan ilusi.

"Itu kenapa saat terbang harus mengandalkan instrumen dan manual," katanya.

Terlepas dari berbagai dugaan yang disebutkannya, menurut Gerry temuan ini hanya berupa dugaan dari data.

Seluruh dugaan ini perlu diteliti mendalam dengan data rekam penerbangan yang dimiliki pesawat, FDR.(Tribun-Video.com)

RALAT: Artikel ini telah diubah pada Minggu (17/1/2021) pukul 08.12 WIB. Kami menyampaikan permohonan maaf kepada Bapak Gerry Soejatman dan BBC Indonesia atas kekeliruan saduran. (Redaksi)

Artikel ini telah tayang di BBC Indonesia dengan judul Sriwijaya Air: Perjalanan janggal pesawat PK-CLC, dari dikandangkan sembilan bulan hingga keluar jalur

Editor: Aprilia Saraswati
Sumber: BBC Indonesia
VIDEO TERKAIT
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved