Yandex

TribunnewsWiki

Alergi Telur, Suatu Reaksi Abnormal dari Sistem Kekebalan Tubuh terhadap Protein Telur

Jumat, 1 Januari 2021 12:52 WIB
TribunnewsWiki

TRIBUN-VIDEO.COM - Alergi telur adalah suatu reaksi abnormal dari sistem kekebalan tubuh terhadap protein telur.

Gejala yang ditimbulkan dari reaksi alergi tersebut dapat ringan sampai berat, bahkan mengancam nyawa (anafilaksis).

Gejala biasanya timbul beberapa saat hingga beberapa jam setelah mengonsumsi telur atau makanan yang mengandung telur.

Alergi telur ini umumnya timbul pada bayi dan akan menghilang sebelum usia remaja.

Putih telur adalah bagian dari telur yang paling sering menyebabkan gejala alergi dibandingkan dengan kuning telur.

Baca: Alergi Makanan, Reaksi Ketika Sistem Kekebalan Tubuh Mengira Bahwa Protein Makanan Berbahaya

Gejala

Beberapa gejala yang disebabkan oleh alergi telur adalah:

1. Ruam kemerahan pada kulit.

2. Gatal.

3. Hidung tersumbat atau pilek dan bersin.

4. Kram perut.

5. Mual dan muntah.

6. Sakit perut.

7. Diare.

8. Sesak napas yang disertai bunyi ngik.

9. Batuk.

10. Sakit dada.

Sedangkan pada gejala alergi yang berat (anafilaksis) dapat berupa:

1. Denyut nadi cepat.

2. Bengkak pada tenggorokan.

3. Tekanan darah menurun drastis.

4. Pusing.

5. Kehilangan kesadaran atau pingsan.

Penyebab

Alergi telur disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh yang salah mengidentifikasi protein telur sebagai zat yang membahayakan tubuh.

Akibatnya, tubuh memberikan reaksi berupa pelepasan histamin ke dalam darah dan menimbulkan gejala alergi.

Alergi dapat disebabkan oleh bagian putih telur, bagian kuning telur, atau keduanya.

Pada anak, alergi yang sering ditemui adalah alergi putih telur.

Sedangkan pada orang dewasa, kuning telur lebih sering menyebabkan alergi.

Pada bayi yang menyusui, alergi telur biasanya didapatkan dari ASI ibunya yang mengonsumsi telur.

Kondisi ini juga dipicu karena belum sempurnanya saluran pencernaan bayi dan anak-anak.

Pengobatan

Pengobatan alergi telur adalah dengan tidak mengonsumsi telur atau makanan yang mengandung telur.

Obat-obatan yang digunakan bertujuan untuk mengurangi gejala yang timbul.

Beberapa obat yang umum digunakan adalah:

Antihistamin.

Obat ini dapat diberikan setelah pengidap mengonsumsi telur.

Tujuannya adalah untuk menghindari reaksi alergi yang berat.

Adrenalin.

Obat ini digunakan dengan cara disuntikkan untuk menangani reaksi alergi yang serius berupa anafilaksis.

Pengidap dengan gejala yang serius harus segera dibawa ke rumah sakit.

Pencegahan alergi telur yang terbaik adalah dengan cara tidak mengonsumsi telur atau makanan dan minuman yang mengandung telur.

Beberapa upaya yang dapat dilakukan antara lain adalah:

1. Teliti akan setiap kandungan makanan ketika akan makan di luar rumah. Tanyakan pada pramusaji atau juru masak mengenai kandungan telur pada menu yang akan disantap.

2. Teliti membaca label keterangan pada kemasan makanan. Pada beberapa kasus, jumlah kandungan telur yang sedikit juga dapat memicu gejala alergi.

3. Pada ibu menyusui yang bayinya mengidap alergi telur, hindari mengonsumsi telur karena dapat masuk ke dalam ASI yang akan diminum oleh bayi.

4. Ganti telur dengan bahan pengganti lainnya yang umum digunakan untuk mengolah makanan.

5. Gunakan gelang atau kalung khusus bagi pengidap alergi saat bepergian ke luar rumah.

6. Beritahu keluarga atau pengasuh anak bahwa anak mengidap alergi telur dan jelaskan apa yang harus dilakukan saat gejala alergi timbul.

7. Diskusikan dengan dokter setiap kali anak akan vaksin, karena pada beberapa vaksin (influenza, campak, gondong, rubella, dan demam kuning) mengandung protein telur, sehingga dapat memicu gejala alergi.

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/PUTRADI PAMUNGKAS)

Artikel ini telah tayang di TribunnewsWiki dengan Judul Artikel: Alergi Telur

Editor: Dita Dwi Puspitasari
Video Production: Panji Yudantama
Sumber: TribunnewsWiki
Tags
   #TribunnewsWiki   #telur   #alergi   #protein   #adrenalin
VIDEO TERKAIT
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved