Yandex

Tribunnews Update

Penjelasan Rumah Sakit Soal Korban Pembacokan di Makassar yang Tak Dilayani karena Hasil Rapid Test

Minggu, 25 Oktober 2020 16:49 WIB
Kompas.com

TRIBUN-VIDEO.COM - Seorang pria berinisial SE (44) dan ibunya SA (69) yang merupakan korban pembacokan di Makassar, Sulawesi Selatan tak dilayani oleh pihak rumah sakit.

SE dan SA harus menunggu hingga belasan jam untuk bisa dioperasi.

Alasannya karena rapid test keduanya menunjukkan hasil reaktif.

Terkait hal tersebut, pihak rumah sakit memberikan penjelasannya.

Hal itu disampaikan oleh H yang merupakan sepupu SE.

Menurut H, saat itu SE dan SA sedang dalam kondisi kritis akibat luka bacok.

"Semua pasien ini kan wajib di-rapid, jadi dia reaktif. Tapi reaktif itu langsung divonis dia Covid-19 dari pihak RS Ibnu Sina," kata H yang juga merupakan tenaga kesehatan di Papua.

Peristiwa tersebut terjadi pada Jumat (23/10/2020) di Rumah Sakit Ibnu Sina.

H sempat menelepon perawat di RS Ibnu Sina untuk mempertanyakan cara rumah sakit yang langsung memvonis keluarganya itu terpapar Covid-19.

Namun, saat perawat itu ditelepon, dia enggan membeberkan alasan rumah sakit tidak menangani sepupunya dan bibinya tersebut.

"Dia bilang kami tidak bisa (sebut) Bu, ini rahasia rumah sakit. Saya bilang rahasia RS mana? Saya ini keluarga terdekatnya dan saya mau tahu kalian punya skenario di situ. Saya bilang saya juga Satgas Covid-19 di sini, aturan mana keluar (hasil positif) satu jam itu?" ujar H.

Dikutip dari Kompas.com, Minggu (25/10/2020), pihak RS sempat merujuk SE dan SE ke RS Dr Wahidin Sudirohusodo Makassar.

Alasannya RS tersebut memiliki fasilitas yang lebih lengkap untuk pasien Covid-19.

Namun, sesampainya di RS Wahidin, keluarga korban malah diminta biaya operasi dengan harga Rp 50 juta per pasien.

Hal ini kemudian membuat keluarga batal merujuk pasien dengan alasan biaya.

Menurut H, kondisinya semakin miris, mengingat dua keluarganya itu hanya terbaring di IGD RS Ibnu Sina dengan darah yang terus mengucur dari luka bacok.

"Saya sayangkan, jangan dibilang gara-gara Covid-19, pasien kritis ini dibikin kayak selayaknya hewan begitu. Di mana sih perikemanusiaan mereka semua di sana? Ini manusia loh. Darah masih mengucur di situ," ujar Herawati.

Sementara itu, Humas RS Ibnu Sina dr Nurhidayat membantah bahwa kedua korban pembacokan itu terlambat dioperasi oleh pihak rumah sakit karena reaktif saat rapid test.

Dia juga membantah tuduhan bahwa pihak rumah sakit langsung memvonis kedua korban penganiayaan itu positif terinfeksi virus corona.

"Itu beritanya kurang tepat," kata Nurhidayat.

Hal itu disampaikannya pada Sabtu (24/10/2020).

Nurhidayat mengatakan bahwa sesaat setelah tiga korban pembacokan itu masuk RS Ibnu Sina, pihaknya memang sempat melakukan rapid test kepada mereka.

Namun, saat itu dokter spesialis ortopedi yang bertugas melakukan operasi di Rumah Sakit Ibnu Sina hanya satu.
Sementara dokter ortopedi yang lain saat itu sedang bertugas di rumah sakit lain.

Kemudian, untuk memudahkan operasi, pihak RS Ibnu Sina pun merujuk SE dan SA untuk dioperasi di rumah sakit lain.

Namun, Nurhidayat heran ketika keluarga pasien mengatakan bahwa pihak RS Dr Wahidin Sudirohusodo Makassar meminta biaya Rp 50 juta untuk operasi tiap pasien.

Akhirnya keduanya dirujuk ke RS Dadi Makassar, setelah menghubungi direkturnya.

Proses rujukan memang agak lama, lantaran kondisi pasien saat itu sedang drop.

Pihak rumah sakit tidak mau merujuk pasien dalam kondisi drop, sehingga tim dokter dan perawat IGD berusaha agar kondisi korban stabil.

"Nah kami di RS Ibnu Sina tidak mau sepeti itu. Kami betul-betul pastikan pasien pada saat dirujuk itu sudah siap. Jadi dari kemarin itu tim dokter dan perawat di IGD sudah lakukan yang terbaik yang mereka bisa (agar stabil kondisinya)," kata Nurhidayat.

Kemudian SA dirujuk ke RS Dadi Makassar dan kini telah dioperasi.

Sementara itu, SE yang awalnya belum memungkinkan untuk dirujuk, perlahan-lahan sudah stabil dan dirujuk ke RS yang sama pada Sabtu pagi.

Sehingga Nurhidayat membantah informasi yang menyebut pasien tak dilayani.

(Tribun-Video.com/Kompas.com)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Korban Pembacokan Diduga Tak Dilayani RS karena Hasil Rapid Test, Ini Penjelasan Pengelola"

Editor: Dita Dwi Puspitasari
Reporter: Ratu Budhi Sejati
Video Production: Bintang Nur Rahman
Sumber: Kompas.com
VIDEO TERKAIT
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved