Yandex

Terkini Nasional

Sikap dan Kritikan MAKI atas Penetapan 8 Tersangka Kasus Kebakaran Gedung Kejagung RI

Minggu, 25 Oktober 2020 08:18 WIB
Tribunnews.com

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Vincentius Jyestha

TRIBUN-VIDEO.COM - Koordinator Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Boyamin Saiman menegaskan pihaknya menghormati hasil penyidikan dan penetapan delapan tersangka oleh Bareskrim Polri terkait kasus kebakaran Gedung Kejaksaan Agung (Kejagung).

"Terhadap proses penyidikan Bareskrim yang menetapkan tersangka atas kebakaran gedung Kejaksaan Agung kemarin, saya tetap pada posisi menghormati proses-proses itu," ujar Boyamin, ketika dihubungi Tribunnews.com, Sabtu (24/10/2020).

Boyamin menilai kepolisian sudah berusaha mencari penyebab kebakaran hingga pihak-pihak yang diduga terlibat dengan kebakaran tersebut.

Karenanya, dia mengambil sikap menghormati kinerja penyidik Bareskrim Polri.

Termasuk dengan penetapan tersangka dari tukang bangunan hingga pejabat di Kejaksaan Agung.

Hanya saja, Boyamin juga tetap mengkritisi Bareskrim Polri, karena banyaknya keraguan masyarakat perihal puntung rokok yang bisa menyebabkan kebakaran sebesar itu di Kejagung.

"Tetap saya mengkritisi untuk menjawab keraguan masyarakat karena prosesnya selalu ditanyakan, kenapa hanya puntung rokok bisa membakar semua gedung? Maka saya mohon kepada Bareskrim segera melakukan rekonstruksi di Gedung Kejagung," kata dia.

Rekonstruksi yang dimaksud Boyamin adalah apa saja yang terjadi sebelum kebakaran terjadi, seperti dari pagi hari, apa saja yang dikerjakan para tersangka hingga pada saat kebakaran terjadi.

"Misalnya terkait puntung rokok, bagaimana itu bisa membesar dan apakah memang betul mereka berusaha memadamkan. Kalau berusaha memadamkan kan mestinya bisa padam," kata Boyamin.

Menurutnya, pertanyaan-pertanyaan yang muncul di masyarakat dapat terjawab apabila penyidik Bareskrim melakukan rekonstruksi secara terbuka.

"Jadi dapat diliput oleh media massa, bahkan kalau perlu disiarkan langsung proses-proses itu setransparan mungkin dan pada posisi tertentu masyarakat bisa memberikan penilaian," ujarnya.

Selain itu, dia meminta kepolisian tak hanya mengenakan Pasal 188 KHUP kepada kepada tersangka kasus kebakaran Gedung Kejagung.

Boyamin meminta penyidik Bareskrim Polri untuk tetap membuka opsi pengenaan Pasal 187 KHUP kepada para tersangka.

Diketahui, pasal 187 KUHP berisikan rujukan hukuman kepada pihak yang sengaja menimbulkan ledakan, kebakaran atau banjir.

Sementara pasal 189 KUHP berisikan rujukan hukuman kepada pihak yang karena kesalahannya menyebabkan ledakan, kebakaran atau banjir.

"Saya minta kepolisian, dalam hal ini penyidik, untuk tetap membuka opsi pasal 187 tentang sengaja membakar, bukan hanya sekedar pasal 188 yang lalai tentang terjadinya kebakaran," kata dia.

Boyamin beralasan jika memang benar penyebab kebakaran Gedung Kejagung berasal dari puntung rokok tukang bangunan, maka di sana tukang bangunan merokok ditempat yang dilarang untuk merokok.

Artinya, ada kelalaian yang disengaja.

"Itu berarti kan bisa lalai yang berwarna sengaja. Teorinya lalai itu ada istilahnya berwarna dan tidak berwarna. Dan juga kalau toh kesalahan itu sedikit lalai, sedikit sengaja maka pasal 187 itu tetap dibuka," kata dia.

"Apalagi dasar dari penyidikan 2-3 minggu yang lalu sebelum penetapan tersangka itu kan memang dikenakan pasal 187 dan 188. Jadi artinya tetap dibuka kemungkinan opsi penerapan pasal 187 yaitu sengaja terjadi kebakaran. Nah itu yang saya minta," imbuhnya.

Lebih lanjut, Boyamin juga meminta kasus ini segera dituntaskan, dilimpahkan ke Kejaksaan, dan kemudian dibawa ke pengadilan.

Dengan begitu, publik dapat segera menyaksikan proses peradilan secara terbuka.

Bahkan, Boyamin tak menutup bisa jadi ada fakta baru yang muncul di persidangan.

Bila demikian, maka Bareskrim Polri diminta untuk mengembangkannya.

"Nanti bisa dilihat oleh publik dan kemudian hal-hal yang mungkin nanti akan terungkap pada persidangan akan bisa dikembangkan oleh teman-teman Bareskrim, jika memang ada fakta baru, bukti baru maupun keadaan baru yang memungkinkan masih ada pihak-pihak lain yang diduga terlibat atau lebih bertanggung jawab," pungkasnya.(*)

Editor: Purwariyantoro
Reporter: Vincentius Jyestha Candraditya
Video Production: Muhammad Eka Putra
Sumber: Tribunnews.com
VIDEO TERKAIT
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved