Yandex

TribunnewsWiki

Scleroderma, Penyakit Autoimun Menyerang Jaringan Ikat dan Sebabkan Penebalan pada Kulit dan Organ

Kamis, 23 Juli 2020 22:49 WIB
TribunnewsWiki

TRIBUN-VIDEO.COM - Scleroderma merupakan penyakit autoimun yang menyerang jaringan ikat, sehingga membuat jaringan tersebut menebal dan mengeras.

Kondisi ini dapat terjadi pada kulit, pembuluh darah, dan organ, seperti paru-paru, ginjal, serta jantung.

Orang penderita scleroderma ditandai dengan kulit yang tiba-tiba tebal, keras, berwarna putih, serta tampak licin seperti lilin.

Kondisi ini bisa muncul di tangan, kaki, atau wajah.

Scleroderma yang menyerang kulit ini selain mengganggu penampilan juga bisa mengganggu pergerakan.

Jika scleroderma ini menyerang pembunuh darah dan terjadi pengerasan, penderita akan mengalami kerusakan jaringan hingga tekanan darah tinggi.

Scleroderma merupakan penyakit turun-temurun.

Seseorang memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengidap scleroderma, jika pada anggota keluarga terdapat riwayat scleroderma.

Penyebab

Scleroderma terjadi saat sistem imun yang seharusnya melindungi tubuh dari cedera dan infeksi, justru menyerang jaringan ikat.

Kondisi ini memicu sel-sel di dalam jaringan ikat untuk memproduksi kolagen (salah satu jenis protein pembentuk jaringan ikat) dalam jumlah yang berlebihan.

Saat produksi kolagen meningkat drastis, kolagen akan menumpuk di kulit dan organ.

Akibatnya, akan muncul pengerasan dan penebalan pada kulit dan organ yang terserang.

Walaupun penyebab pasti terjadinya kondisi ini belum diketahui, ada sejumlah faktor yang diduga dapat membuat seseorang lebih rentan untuk menderita scleroderma, yaitu:

- Faktor usia
- Memiliki keluarga yang menderita skleroderma atau penyakit autoimun
- Menderita penyakit autoimun lain, seperti lupus, rheumatoid arthritis, atau sindrom Sjogren
- Menggunakan obat kemoterapi, seperti bleomycin
- Terpapar bahan kimia berbahaya secara terus-menerus, seperti debu silika

Gejala

Gejala Scleroderma dibedakan menurut bagian tubuh yang terserang.

Jika scleroderma menyerang bagian tubuh atau kulit tertentu, maka disebut dengan localized scleroderma.

Sebaliknya, jika penyakit ini bersifat sistemik dengan menyerang kulit, organ tubuh dalam, dan sirkulasi darah maka disebut systemic slerosis.

Berikut gejala localized scleroderma:

- Bercak berbentuk oval (morphoea), yang diawali dengan warna merah atau ungu lalu bagian tengahnya menjadi putih
- Bagian kulit yang terserang permukaannya tidak ditumbuhi bulu, terasa gatal, dan dapat timbul di bagian kulit mana pun
- Bercak tersebut umumnya dapat sembuh sendiri tanpa pengobatan dalam waktu beberapa tahu
- Bercak berbentuk lurus (linear), yang berupa pengerasan kulit yang melintang pada kepala, lengan, tungkai, atau wajah
- Kulit yang mengeras ini dapat berdampak pada otot atau tulang yang berada di bawah kulit, serta dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan pada anak-anak

Gejala systemic sclerosis

- Diawali dengan fenomena Raynaud dimana ujung jari tangan atau kaki pucat jika terpapar suhu dingin
- Penebalan pada kulit timbul secara perlahan, sehingga mengakibatkan gangguan pada kulit wajah, tangan, lengan, tungkai, dan kaki
- Gejala lain dapat berupa ruam merah pada kulit, benjolan yang keras di bawah kulit, rasa panas seperti terbakar di dada (heartburn), dan disfagia
- Gejala yang dirasakan umumnya semakin parah seiring waktu
- Gangguan pada organ dalam dan perubahan kulit yang terjadi hampir di seluruh bagian tubuh
- Gejala lain dapat berupa nyeri sendi, tubuh terasa lelah, kekakuan pada sendi, serta penurunan berat badan

Pengobatan

Penanganan scleroderma bertujuan untuk membantu mengendalikan gejala scleroderma dan menekan tingkat keparahannya.

Selain itu, pengobatan dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi.

Pada beberapa kasus scleroderma, kerusakan kulit yang timbul dapat sembuh dengan sendirinya dalam waktu 3-5 tahun.

Meski demikian, jika organ dalam tubuh juga ikut terserang, kondisi ini akan terus memburuk.

Setelah dilakukan pemeriksaan, biasanya dokter akan memberikan obat-obatan, seperti:

- Obat penekan sistem kekebalan tubuh, untuk menghambat keparahan penyakit, seperti kortikosteroid
- Obat darah tinggi untuk melebarkan pembuluh darah, yang harus disertai pemeriksaan tekanan darah secara rutin
- Obat pengendali asam lambung, seperti omeprazole
- Obat pereda nyeri, seperti antiinflamasi nonsteroid untuk mengurangi nyeri sendi
- Obat salep atau krim antibiotik pada kulit
- Vaksinasi influenza dan pneumonia secara rutin untuk mencegah infeksi
- Fisioterapi, yang bertujuan untuk mengatasi nyeri, meningkatkan kekuatan, mempermudah pergerakan, serta mempertahankan kemandirian pengidap dalam melakukan aktivitas sehari-hari
- Prosedur operasi, yang dapat menjadi pilihan pada kasus scleroderma yang berat dan menimbulkan komplikasi. (TribunnewsWiki.com/Restu)

Artikel ini telah tayang di TribunnewsWiki dengan Judul Scleroderma

Editor: Panji Anggoro Putro
Video Production: Panji Yudantama
Sumber: TribunnewsWiki
VIDEO TERKAIT
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved