Kisah Panti Asuhan Tunanetra, Ada Canda dan Tawa, Semangat Hidup Tetap Menyala
Laporan Wartawan Tribun Manado Finneke Wolajan
TRIBUN-VIDEO.COM, MANADO - "Apa yang ada rasakan ketika mendapat Rp 1 miliar dan berlibur ke London ?" Tanya seorang wanita yang usianya hampi setengah abad itu.
"Pengalaman saya, pulang pergi gelap bu," celoteh wanita di sampingnya, yang umurnya sekitar 20an.
Seketika tawa memecah di ruangan berukuran tiga kali enam itu.
Tonton juga:
Dua Rumah Terbakar di Wewelen, BPBD Minahasa Bawa Bantuan
Sebelum ke Kampanye, Bang Zul Makan Siang di Rudis Wali Kota Kotamobagu
Tak hanya sekali, siang itu bak panggung stand up comedy bagi sembilan orang yang ada di ruangan itu.
Masing-masing melontarkan lelucon yang mengundang tawa.
Mereka saling bercengkeramah, namun tak ada satu pun dari mereka yang saling berhadapan.
Semuanya duduk tegak, dengan kepala setengah menengadah ke atas.
Namun ada beberapa dari mereka mencoba memalingkan kepala ke samping, mencari sumber suara dengan indera pendengaran mereka.
Seakan rutinitas, seperti itulah yang setiap hari terjadi di Sekolah Luar Biasa A Bartemeus, Malalayang Manado, Sulawesi Utara, Sabtu (14/1/2017).
Tawa dan lelucon selalu menyelip di keseharian siswa yang sekaligus menghuni Panti Asuhan Tunanetra Malalayang ini.
"Mereka memang begitu. Semuanya suka lelucon. Setiap hari kalau kami berkumpul, duduk bersama. Mereka dan bahkan saya pasti ada yang akan mulai bercanda," ujar Pendeta Debby Punuh Rumengan.
Debby nyaris seperti mereka yang menghuni panti ini.
Penglihatannya tak normal lagi.
Matanya yang dulunya normal, dua tahun terakhir mulai menurun.
Ia hanya bisa melihat samar-samar.
"Dulu saya melayani di gereja. Terakhir di GMIM Bukit Moria Rike. Lalu karena saya mulai sakit, GMIM mengeluarkan surat keputusan menempatkan saya menjadi pendeta yang melayani di sini," ujar Debbt dengan senyum hangatnya dan cara bertuturnya yang terlihat keibuan.
Panti asuhan ini dihuni 24 orang yang umurnya mulai dari 15 - 32 orang.
Debby enjoy-enjoy saja ketika harus berhadapan dengan anak-anak.
Bukan langsung harus bisa, namun proses yang Debby lalui juga tak mudah.
"Awal-awal saya sulit menghadapi anak-anak. Lama-lama akhirnya mampu menyesuaikan. Karena mereka berkekurangan, menghadapi mereka harus sabar dan penuh kasih. Harus bisa memahami kondisi mereka," ucapnya.
Untuk bisa memahami anak-anak, Debby yang saat ini tinggal di Perum Lestari 3 Desa Sea ini harus terlebih dahulu memahami kondisinya sendiri.
Bagaimana ia berjuang untuk menerima sakitnya ini.
"Awalnya saya penuh tanya. Kenapa saya mengalami ini. Pergumulan ini berat. Namun akhirnya Tuhan mampukan saya menjalani ini. Karena mata saya tak normal, makanya saya bisa memahami anak-anak karena saya mengalaminya sendiri," ucapnya.
Debby sendiri mengalami sakit katarak dan ada gangguan retina.
Namun masih ada harapan bagi Debby untuk melihat normal kembali.
Upaya pengobatan masih terus dilakukan.
"Masih ada usaha medis, semoga saya bisa melihat lagi. Tuhan izinkan," ucapnya.
Debby melanjutkan cerita anak-anak panti, tak hanya tunanetra, ada beberapa dari anak-anak ini mengalami tunagrahita.
Di mana mereka memiliki kemampuan intelegensia yang rendah, sehingga harus banyak didampingi atau diarahkan.
"Hanya ada tiga orang yang menderita double, tunanetra dan tunagrahita. Yang lain itu hanya tunanetra. Kalau yang double harus ada perhatian lebih. Kalau yang tidak, mereka biasa saja. Keterbatasannya hanya di penglihatan," ucapnya.
Anal-anak di sini masih ada orangtua dan keluarga, hanya beberapa yang memang tak ada sama sekali.
Di panti dan sekaligus SLB di bawah Yayasan AZR Wenas ini, mereka sekolah dan tinggal gratis.
"Ada yang keluarganya bawa, ada yang sebelumnya memang dicari. Mereka kalau libur natal atau acara keluarga, mereka pulang. Tapi ada yang memang sudah tak ada keluarga sama sekali," ungkap Debby.
Di sekolah ini, anak-anak ini diberdayakan.
Mereka dibekali ilmu meski dalam keterbatasan.
"Mereka ada di sini untuk diberdayakan. Meski terbatas, tapi ada kemandirian. Sehingga ketika kembali ke masyarakat, mereka tak bergantung pada orang lain," ucapnya.
Di panti ini, ada enam orang pengasuh.
Salah seorang di antaranya Inggit Momuat (61).
Kurang lebih dua tahun ia mendampingi anak-anak di panti ini.
Menurutnya tak sulit mengasuh mereka.
"Mereka itu dengar-dengaran. Anak-anaknya manis semua. Palingan kalau pengasuh marah, mereka langsung menurut. Mereka itu suka bercanda," ucapnya.
Inggit paling sering mengatur makanan mereka.
Dia sedikit agak repot jika anak-anak tak mau makan menu yang ia dan pengasuh lainnya buat.
"Ada yang tak mau pedas, tak mau sayur, harus bikin lagi. Agar mereka makan," ujarnya.
Para pengasuh akan sedikit kerepotan jika ada anak yang keluyuran di luar panti.
"Ada yang suka keluyuran. Ada yang suka pergi di pangkalan ojek. Ada yang sudah jalan cari pulsa di warung. Kami agak khawatir. Yang pasti mereka tak nakal," ungkapnya.
Inggit meluangkan sedikit waktunya siang itu di tempat makan, untuk meladeni Tribun Manado.
Kala itu anak-anak sementara makan. Suasana tempat ribut. Anak-anak makan sambil bercengkeramah satu dengan lainnya.
Ada meja yang diduduki perempuan semua, ada yang campur ada pula yang laki-laki semua.
Suasana tempat makan seketika sunyi ketika sendok dan garpu diletakkan di atas piring.
Piring yang masih dipenuhi nasi dan sayur, yang sedikit lainnya berserakan di meja.
Anak-anak meninggalkan ruangan itu.
Simak selengkapnya dalam tayangan video di atas. (*)
Video Production: Sigit Ariyanto
Sumber: Tribun Manado
LIVE UPDATE
Arus Balik Lebaran 2026, Terminal Dungingi Mulai Dipadati Penumpang, Terbanyak dari Manado-Bitung
Jumat, 27 Maret 2026
Selebritis
Ahmad Dhani dan Mulan Jameela Adopsi Bayi Perempuan Asal Solo Bernama Siti Aminah
Kamis, 26 Maret 2026
Live Tribunnews Update
Api Lalap 14 Unit Rumah di Singkil Manado, Korban Kebakaran Mengais Sisa-sisa Bangunan di Tanah
Rabu, 25 Maret 2026
LIVE UPDATE
Gereja Dihiasi Taman Paskah Jelang Jumat Agung, Jemaat Manado Utara Kreatif Bikin Dekorasi
Rabu, 25 Maret 2026
LIVE UPDATE
Masa Libur Lebaran Hampir Habis, Pelabuhan Manado Dipadati Penumpang Arus Balik Hari Raya 2026
Selasa, 24 Maret 2026
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.