Yandex

Travel

VIDEO TRAVEL| Wisata Adrenalin Menyusuri Gua Pancur Pati, yang Memukau Berani Coba!

Senin, 23 Maret 2020 18:43 WIB
Tribun Jateng

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Rika Irawati

TRIBUN-VIDEO.COM - Tetes air dari langit-lagit gua sesekali jatuh dan terasa menembus baju. Namun, hal itu tak mengganggu mata memandangi indahnya bebatuan di dalam gua. Apalagi, saat ada yang seolah menyala ketika pantulan air yang mengalir di bebatuan berpadu sinar lampu yang disorotkan.

Gua Pancur, begitu warga sekitar menyebut. Gua di Dukuh Gasong, Desa Jimbaran, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, ini merupakan gua kars dari Pegunungan Kendeng. Kondisi dalam gua yang masih alami membuat siapa saja bakal betah menyusuri.

"Dinamakan Gua Pancur karena dulu, saat pertama ditemukan sekitar tahun 1930-an, air dari dalam gua mancur-mancur (mengalir secara deras). Hingga sekarang, dikenal sebagai Gua Pancur," ungkap Ahmad Najib, ketua Gasong Community. Komunitas inilah yang kini mengelola Gua Pancur sebagai destinasi wisata.

Menyusuri Gua Pancur dibutuhkan persiapan dan perbekalan cukup. Apalagi, panjang gua yang bisa disusuri mencapai 827 meter. Helm, jaket pengaman serta sepatu tracking atau sandal gunung wajib dikenakan. Tidak lupa, membawa lampu LED portabel, headlamp atau senter sebagai alat penerangan. Jangan lupa membawa air minum untuk menemani perjalanan.

Menjelajah gua horizontal ini bisa menjadi sarana pembuktian diri. Terutama, untuk menguji fisik dan menaklukkan rasa takut. "Ada tiga zona di dalam gua. Zona mulut gua memiliki panjang sekitar 100 meter. Di zona ini, sinar matahari masih bisa masuk dan menerangi gua. Selanjutnya zona tengah yang mulai gelap dan zona dalam yang benar-benar dilingkupi kegelapan pekat," imbuh Najib.

Gua Pancur termasuk gua basah atau berair. Genangan air setinggi pinggang orang dewasa sudah bisa dirasakan di mulut gua. Namun, semakin masuk, ketinggian air berkurang secara bertahap, mulai betis hingga mata kaki.

Itu sebabnya, dibutuhkan kehati-hatian lantaran jalur yang dilewati tertutup air. Kadang kala, ditemukan batangan kapur runcing yang muncul dari dalam gua (stalakmit) dan bisa menimbulkan cedera. Atau, cekungan dalam yang membuat terperosok.

Meski begitu, keindahan stalaktit atau batangan kapur di langit-langit gua yang memiliki ujung meruncing ke bawah sudah ditemukan sejak mulut gua. Semakin masuk ke dalam, ukuran dan bentuknya beragam.

Ada yang berongga, menonjol, juga mengalirkan air secara deras. Tak harus selalu mendongak ke atas untuk menemukan hal menarik. Dinding-dinding gua juga menyuguhkan berbagai bentuk. Warnanya juga berbeda-beda, mulai cokelat, hitam pekat, atau keputihan.

Tak semua bagian di dalam perut bumi ini memiliki ruangan luas. Di beberapa bagian gua memiliki ketinggian rendah sehingga pengunjung harus membungkuk, bahkan merangkak. Di bagian lain, jalur susur gua berbentuk lorong dan hanya bisa dilalui satu orang. Pengunjung pun harus tertib antre agar perjalanan menyusuri gua dan menikmati setiap detail keindahannya tidak terganggu. "Kami membatasi pengunjung yang masuk. Jumlah maksimal setiap rombongan hanya 15 agar habitat gua tetap terjaga," kata Najib.

Di dalam gua juga bisa ditemukan koloni kelelawar. Puluhan bahkan ratusan hewan yang terbiasa hidup di kegelapan itu menggantung di langit-langit gua. Paling banyak, ditemukan di ujung gua yang memiliki langit-langit paling tinggi yang biasa disebut Istana Kelelawar. Bagian ini merupakan bagian gua tergelap dan memiliki kadar oksigen tak terlalu berlimpah.

Dibutuhkan waktu dua hingga tiga jam untuk menyusuri Gua Pancur. "Tergantung pengunjungnya juga, berapa lama ingin foto-foto di setiap spot," ujar Najib.

Gasong Community mematok biaya susur gua Rp20 ribu per orang. Pengunjung akan mendapat fasilitas guide, helm serta jaket pengaman.

Sementara, tiket masuk kawasan Gua Pancur dibanderol Rp3.000 per motor dan Rp6.000 per mobil. Di kawasan Gua Pancur terdapat taman, arena bermain anak, gazebo di pinggir danau buatan, kawasan bumi perkemahan, serta pedagang yang menjual aneka jajanan.

Batu Sayap Malaikat Undang Decak Kagum

Keindahan stalaktit dan stalakmit di dalam Gua Pancur diperlihatkan lewat bentuk-bentuknya yang unik. Anda pun bakal berdecak kagum melihatnya.

Keunikan bebatuan tersebut dimulai ketika kita masuk gua. Sebuah mini dome atau kubah kecil terlihat menjulang ke atas. "Cekungan ke atas itu terjadi karena derasnya air yang dulu melewatinya. Tapi, sekarang tidak lagi menjadi jalur air," ungkap Khabibur Rohman, guide Gua Pancur.

Semakin ke dalam, bentuk unik dari bebatuan semakin banyak. Di sisi kanan, Anda akan menemukan gundukan bebatuan yang tak mulus. Bahkan, jika diperhatikan mirip terasering atau sawah berundak. Cekungan-cekungannya berisi air. "Ini namanya Batu Petak Sawah. Dinamakan seperti itu karena bentuknya yang berundak seperti sawah di pegunungan," imbuh pemuda yang akrab disapa Khabib ini.

Decak kagum pun tak akan berhenti. Setelah melewati lorong sempit sepanjang sekitar tiga meter, di sisi kanan terdapat stalaktit yang disebut Batu Tirai. Batu berwarna abu-abu ini berbentuk mirip sayap burung dan memiliki alur-alur tempat air mengalir. "Itu sebabnya, pengunjung juga menyebutnya sebagai Batu Sayap Malaikat karena bentuknya menyerupai sayap," katanya.

Di satu lorong, terdapat jalur yang mirip persipangan. Di tengahnya terdapat stalaktit yang bertemu stalakmit. Khabib mengatakan, pertemuan kars tersebut membuat warga menyebutnya sebagai Batu Pilar. Tak perlu bingung memilih jalur persimpangan itu. Jalur manapun yang dipilih, ujungnya tetap bertemu ke lorong yang mengantar pengunjung semakin jauh ke dalam.

Ada pula bebatuan yang dijuluki Batu Semar. Batuan ini menyembul di antara bebetuan tak rata dan memiliki bentuk membulat di bagian bawah, mirip perut buncit tokoh Punokawan dalam pewayangan, Semar. Sementara, nama Batu Jaran disematkan pada bebatuan yang dapat dinaiki pengunjung layaknya tengah menunggang kuda (bahasa Jawa: Jaran).

Selain bentuk bebatuan yang unik, Gua Pancur juga memiliki sumber mata air hangat. Warga meyakini, permohonan pengunjung yang mencuci muka atau membasuh tubuh menggunakan air ini terkabul. Itu sebabnya, banyak warga yang masuk ke Gua Pancur hanya untuk menuju sumber air hangat yang berada sekitar 200 meter dari mulut gua tersebut.

"Entah benar atau tidak, tapi begitulah yang diyakini warga. Saat musim hujan, perbedaan suhu air dalam gua dan air hangat yang mengalir dari dalam tanah itu sangat terasa," jelas Khabib.

Keunikan dan perubahan bentuk bebatuan di Gua Pancur masih bisa berkembang. Hampir seluruh bagian gua memiliki stalaktit dan stalakmit yang masih aktif. Meski begitu, Khabiburrohman dan anggota Gosong Community tak lengah menjaga lantaran beberapa kali didapati ada stalaktit yang dipotong pengunjung.

"Ada yang mengambil untuk batu akik. Padahal, sekali dipotong, stalaktit itu akan mati. Itu sebabnya, kami berusaha menjaga dan mengawasi setiap pengunjung yang masuk gua," ujarnya.

Berjarak 85 Km dari Kota Semarang

Gua Pancur terletak sekitar 23 Km arah barat daya Pati kota atau 85 Km arah timur Kota Semarang. Anda bisa menggunakan kendaraan pribadi atau kendaraan umum untuk menjangkaunya.

Bagi Anda yang mengendarai kendaraan pribadi dari Kota Semarang, arahkan kendaraan ke Pati lewat jalur Pantai Utara (Pantura). Sesampai di pertigaan Kudus-Kayen, Anda harus berbelok ke kanan. Jalan yang juga menjadi jalur Pati-Grobogan (Purwodadi) itu lumayan mulus untuk dilalui. Sesampai di SMA 1 Kayen, arahkan kendaraan ke kiri atau masuk gapura kawasan wisata Gua Pancur. Beberapa papan penunjuk arah akan membimbing Anda mencapai kawasan Gua Pancur. Jarak dari gapura masuk hingga Gua Pancur sekitar 3 Km.

Sementara, Anda yang ingin menggunakan kendaraan umum bisa naik bus trayek Semarang-Pati atau bus Antar Kota Antar Provisin (AKAP) jurusan Semarang-Surabaya. Sesampai di terminal Pati, Anda harus berganti kendaraan yang memiliki trayek Pati-Grobogan dan turun di depan SMA 1 Kayen. Lantaran dari lokasi ini tidak ada angkutan umum, Anda bisa menggunakan jasa ojek dari warga sekitar untuk mengantar ke kawasan Gua Pancur. (*)

Artikel ini telah tayang di Tribunjateng.com dengan judul Taklukkan Rasa Takut di Perut Bumi Gua Pancur Pati

Editor: Radifan Setiawan
Video Production: Marsisca Puguh Setiari
Sumber: Tribun Jateng
VIDEO TERKAIT
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved