Olahraga

Inilah Profil Para Pemain Juventus yang Dinyatakan Positif Terjangkit Virus Corona

Minggu, 22 Maret 2020 13:11 WIB
TribunnewsWiki

TRIBUN-VIDEO.COM - Paulo dybala jadi pemain ketiga Juventus yang dikonfirmasi terjangkit Virus Corona.

Tidak sendiri, sang kekasih Oriana juga dinyatakan positif Covid-19.

Keduanya kini tengah menjalani isolasi di rumah Dybala di Turin.

Namun ditengah karantina mandiri, Blaise Matuidi juga dikonfirmasi positif Virus Corona.

Matuidi diduga tertular sebelum Juventus memilih membubarkan tim untuk karantina mandiri.

Berikut profil pemain Juventus yang saat ini (22/3/2020) positif terjangkit Virus Corona:

1. Daniele Rugani

Daniele Rugani adalah seorang pesepak bola profesional asal Italia.

Saat ini, Daniele Rugani bermain untuk klub asal Italia, Juventus.

Daniele Rugani lahir di Lucca, Italia, 29 Juli 1994.

Posisi pemain bertinggi 190 cm itu adalah bek tengah.

Awal Karier

Daniele Rugani mengawali dunia sepak bolanya dengan bermain di klub Tuscan, Empoli pada tahun 2000.

Kala itu, usia Daniele Rugani masih enam tahun.

Bakat dan kemampuan Daniele Rugani diasah di Empoli selama dua belas tahun.

Pada 2012, Daniele Rugani beli oleh Juventus dengan harga 150 ribu euro dan dimasukkan ke dalam tim Ptrimavera atau U-21.

Setelah sukses membawa Juventus menjuara Coppa Italia Primavera, Daniele Rugani pun dipinjamkan ke klub lamanya, Empoli pada musim 2013-14.

Empoli

Pada musim 2013-14, Daniele Rugani bermain di Empoli yang berlaga di Liga Italia Serie B dengan skema penjualan separuh kepemilikan dengan harga mencapai 500 ribu euro.

Musim 2013-14, Daniele Rugani menjadi pemain penting di Empoli yang kala itu diasuh oleh Maurizio Sarri.

Daniele Rugani total bermain 42 kali disemua kompetisi bersama klub berjuluk Gli Azzurri tersebut.

Daniele Rugani pun membawa Empoli promosi ke Liga Italia Seria A musim 2014-15.

Dia pun menjalani debut Serie A pada 31 Agustus 2014 dalam laga Empoli melawan Udinese. Kala itu usianya masih 20 tahun.

Daniele Rugani pun tampil luar biasa pada musim 2014-15.

Selain membawa Empoli bertahan di Serie A dan ikut membantu tim asuhan Mauzio Sarri bermain ofensif, Daniele Rugani juga sukses menjadi salah satu pemain terkonsisten musim itu dengan selalu bermain dalam 38 laga Serie A.

Meski agak lamban sebagai bek tengah, kapabilitas Daniele Rugani membagikan bola, jago bola udara dan taktis dalam menghadang serangan lawan menjadi senjata ampuh darinya.

Performa apik itu pun membuat setengah kepemilikan Daniele Rugani dibeli oleh Juventus dengan harga 3,5 juta euro (Rp. 57,2 milliar).

Juventus

Pada musim 2015-16, Daniele Rugani bergabung dengan tim senior Juventus.

Daniele Rugani menjalani debut bersama Juventus dalam laga Liga Champions melawan Sevilla, 30 September 2015.

Persaingan ketat di lini belakang Juventus dengan keberadaan trio BBC; Andrea Barzagli, Leonardo Bonucci dan Giorgio Chiellini membuat Daniele Rugani kesulitan menembus tim utama.

Daniele Rugani baru mulai menjadi pemain penting klub berjuluk Si Nyonya Tua itu pada musim 2017-18.

Kepergian Leonardo Bonucci ke AC Milan sedikit membuka jalan bagi Daniele Rugani unjuk gigi, namun pelatih Juventus kala itu, Massimiliano Allegri lebih memilih Mehdi Benatia sebagai pengganti Bonucci.

Ketika Bonucci kembali pada musim 2018-19, Daniele Rugani kembali harus berbagi tempat dan menjadi cadangan bagi bek-bek senior Juventus.

Pada musim 2019-20, posisi Daniele Rugani kembali menjadi pemain cadangan setelah Juventus mendatangkan Matthijs De Ligt dan Merih Demiral untuk meregenerasi poros lini belakang.

Meski begitu, Daniele Rugani merasakan banyak gelar juara bersama Juventus diantaranya scudetto, Coppa Italia hingga Piala Super Italia.

Pada 11 Maret 2020, Daniele Rugani menjadi pesepak bola Serie A pertama yang positif mengidap virus Corona yang melanda negara Italia.

Internasional

Daniele Rugani sudah rutin bermain di timnas Italia sejak usia muda.

Mulai dari tim U-17 hingga U-21 pernah Daniele Rugani singgahi, termasuk bermain di Piala Eropa U-21 2015.

Daniele Rugani sempat masuk tim yang dipersiapkan untuk Piala Eropa 2016, namun tak dibawa Antonio Conte yang kala itu melatih timnas Italia senior.

Daniele Rugani menjalani debut di timnas Italia pada 1 September 2016 dalam laga persahabatan melawan Prancis.

Hingga kini, Daniele Rugani masih beberapa kali masuk timnas Italia meski tak menjadi andalan lini belakang.

2. Blaise Matuidi

Blaise Matuidi dadalah seorang pesepak bola asal Prancis.

Saat ini, Blaise Matuidi bermain di klub asal Italia, Juventus.

Blaise Matuidi lahir di Touluse, Prancis, 9 April 1987.

Posisi bermain bertinggi 175 cm itu adalah gelandang.

Blaise Matuidi adalah anak dari pasangan imigran asal Angola dan Kongo.

Awal Karier

Blaise Matuidi memulai karier dengan klub local, US Fontenay-sous-Bois pada 1993.

Pada tahun 1998, Blaise Matuidi bergabung dengan CO Vincennois.

Di tahun 2000, Blaise Matuidi masuk ke sentra pendidikan sepak bola terkenal di Prancis, INF Clairefontaine.

Namun, pada 2001 Blaise Matuidi juga bergabung ke akademi sepak bola klub Creteil.

Barulah pada 2004, Blaise Matuidi bergabung dengan tim usia muda Troyes.

Troyes dan Saint-Etienne

Musim 2004-05, Blaise Matuidi menjalani debut profesional kala Troyes melawan Guegnon di kasta kedua Liga Prancis pada 23 November 2004.

Blaise Matuidi memang tak langsung menjadi andalan di musim pertama.

Barulah pada musim 2005-06, Blaise Matuidi menjadi andalan lini tengah Troyes di kasta pertama Liga Prancis.

Permainan apik Blaise Matuidi berlanjut dan membuatnya direkrut oleh tim yang lebih besar, Saint-Etienne pada musim 2007-08.

Blaise Matuidi pun menjadi gelandang bertahan yang potensinya mulai dikenal luas kala bermain di Saint-Etienne.

Selama empat musim bermain di Saint-Etienne, Blaise Matuidi bermain sebanyak 154 kali disemua ajang.

Paris Saint-Germain dain Juventus

Pada musim panas 2011, Blaise Matuidi dipinang oleh klub besar Prancis, Paris Saint-Germain dengan mahar 7,5 juta euro (Rp. 130,4 milliar rupiah).

Blaise Matuidi yang sudah masuk timnas Prancis senior sejak memperkuat Saint-Etienne pun semakin bersinar ketika berada di Paris Saint-Germain.

Meski diplot sebagai pengganti Claude Makelele, Blaise Matuidi memiliki gaya bermain berbeda.

Blaise Matuidi lebih sebagai gelandang yang pekerja keras, pandai menghentikan bola dan stamina kuda untuk menjelajah banyak area lapangan dalam pertandingan.

Meski tak memiliki kemampuan untuk membagi bola sebaik Makelele, Blaise Matuidi bisa bermain dibanyak posisi mulai dari gelandang bertahan, tengah, kanan, kiri hingga menjadi bek.

Selama tujuh musim membela Les Parisien, Blaise Matuidi berhasil membawa klubnya juara Liga Prancis empat kali dan Piala Prancis tiga kali.

Pada awal musim 2017-18, Blaise Matuidi berlabuh ke Juventus dengan biaya 20 juta euro (Rp. 347,4 milliar rupiah).

Blaise Matuidi pun datang menjadi andalan lini tengah di dua musim pertama, meski di musim ketiganya atau 2019-20 dirinya banyak mengisi bangku cadangan di era Maurizio Sarri.

Pada tanggal 17 Maret 2020, Blaise Matuidi menjadi pemain kedua di Juventus yang positif mengidap Virus Corona.

International

Blaise Matuidi sudah memperkuat timnas Prancis usia muda sejak 2006.

Blaise Matuidi pernah bermain di tim U-19 dan U-21.

Pada 5 Agustus 2010, Blaise Matuidi menjalani debut di timnas Prancis dalam laga persahabatan melawan Norwegia.

Blaise Matuidi pun kemudian menjadi andalan lini tengah timnas Prancis di Piala Eropa dan Piala Dunia, termasuk ketika juara pada 2018.

Hingga 2012, Blaise Matuidi masih bermain untuk timnas Prancis.

3. Paulo Dybala

Paulo Bruno Exequiel Dybala atau biasa disebut Paulo Dybala adalah pesepakbola asal Argentina yang bermain untuk klub Italia, Juventus.

Paulo Dybala berposisi sebagai penyerang.

Paulo Dybala lahir di Laguna Larga, Córdoba, Argentina pada 15 November 1993.

Paulo Dybala merupakan anak dari pasangan bernama Adolfo Dybala dan Alicia de Dybala.

Gustavo dan Mariano adalah dua orang kaka laki-laki dari Paulo Dybala.

Paulo Dybala memiliki keturunan Polandia dari garis keturunan sang ayah, Adolfo Dybala.

Kakek Paulo Dybala yakni Bolesław Dybala berasal dari Krasniow, Polandia dan dia bermigrasi ke Argentina pada masa-masa perang dunia kedua. (1)

Selain Polandia, Paulo Dybala juga memiliki darah Italia dari garis keturunan sang ibu.

Nenek maternal Paulo Dybala yakni Da Messa berasal dari kota Naples, Italia.

Paulo Dybala pun memiliki paspor Italia berkat DNA langsung yang ia miliki.

Paulo Dybala berasal dari keluarga menengah di Argentina.

Semasa kecil, Paulo Dybala sudah dibimbing sang ayah untuk mengenal dan menjadi pesepak bola.

Adolfo Dybala mengantar anaknya berlatih sepak bola setiap hari.

Namun, sayang sang ayah meninggal akibat kanker dan belum sempat menyaksikan bagaimana karier cemerlang Paulo Dybala di dunia sepak bola.

Saat itu Paulo Dybala masih berusia 15 tahun.

Awal karier

Pada usia kesembilan atau tahun 2003, Paulo Dybala masuk akademi klub Insituto de Cordoba.

Pemain dengan julukan La Joya atau si Permata ini memulai debut profesional pada 2011 saat usinya masih 17.

Paulo Dybala tak butuh lama untuk bersinar, meski saat itu klubnya hanya bermain di kasta kedua Liga Argentina.

Musim pertama sebagai pesepakbola profesional ia lalui dengan melahap 40 laga dan mencetak 17 gol.

Dan performa bagus itu lah yang membuatnya diangkut oleh klub asal Italia, Palermo dengan tebusan 8,6 juta euro (Rp. 136 miliar).

Palermo dan Awal Pembuktian

Bermain di kompetisi seperti Serie A Italia tentu tidaklah mudah.

Hal itu pula yang dirasakan oleh Paulo Dybala.

Meski dia tak mengalami kendala besar dalam beradaptasi karena Argentina dan Italia memiliki kedekatan sejarah sosio kultural yang panjang, terlebih Paulo Dybala memiliki sanak famili disana.

Yang lebih menjadi masalah adalah adaptasi dengan gaya bermain di Italia.

Ketaktisan bermain di Italia jauh lebih tinggi daripada di Argentina.

Ketika Paulo Dybala datang pada musim 2012-13, dia memang langsung menjadi pilar inti Palermo.

Namun, total dia hanya sukses mencetak tiga go, pada debutnya di Serie A dan terlebih, klub berjuluk Rosanero itu terdegradasi di akhir musim.

Bermain di Serie B pada 2013-14 sedikit banyak menempa mental bermain Dybala.

Ketika di Serie B, Paulo Dybala menemukan tandem bermain yang pas di Palermo yakni Franco Vazquez.

Duet Argentina namun sama-sama berpaspor Italia itu sukses membawa Palermo kembali ke Serie A pada 2014-15.

Kombinasi antara Paulo Dybala yang bermain sebagai penyerang bayangan dan Franco Vazquez menjadi playmaker sangat padu dan mampu membuat Palermo mengamankan posisi di Serie A.

Dybala mencetak 13 gol dan Vazquez mengemas 10 gol pada musim 2014-15 itu.

Juventus

Berkaki kidal, kaki lincah dan sering memulai serangan dari sisi kanan pertahanan lawan membuat Paulo Dybala disebut-sebut memiliki kemiripan dengan Lionel Messi.

Terlebih, Paulo Dybala bisa bermain sebagai gelandang kiri, gelandang serang tengah, dan striker, begitu juga megabintang Lionel Messi.

Maka, dengan segala kemungkinan dan catatan bagus selama musim 2014-15, Juventus menebus kontrak Paulo Dybala dengan uang sebesar 32 juta euro (Rp. 508 miliar) untuk memasuki musim 2015-16. (3)

Performa Paulo Dybala tentu tidak mengecewakan.

Kekosongan atas kepergian Carlos Tevez dan Alessandro Del Piero dengan cepat mampu Paulo Dybala gantikan.

Paulo Dybala menjadi salah satu tumpuan dalam mencetak gol selepas Carlos Tevez pergi pada akhir musim 2014-15 dan sekaligus mengisi ketiadaan peran trequartista pasca Alessandro Del Piero pergi pada 2012.

Musim pertama berjalan sukses bagi Paulo Dybala.

Namun pada musim kedua atau 2016-17 lah yang merupakan puncak performa pemain bertinggi 174 cm itu.

Paulo Dybala hanya mencetak 11 gol di Serie A, tetapi dia menjadi penenyu penting dalam perjalanan Juventus di Liga Champions Eropa.

Musim itu, dengan datangnya striker Gonzalo Higuain, Paulo Dybala bermain sebagai gelandang serang dalam formasi 4-2-3-1 a la Massimiliano Allegri dan menunjukkan taji penting ketika melawan klub Lionel Messi, Barcelona.

Pada leg pertama perempat final Liga Champions Eropa, dia mencetak dua gol guna membawa La Vecchia Signora menang 3-0.

Sayang perjalanan Juventus harus terhenti di final ketika kalah telak 1-4 dari Real Madrid dan penampilan Paulo Dyabala yang buruk menjadi salah satu kritik untuk alag final di Cardiff, Wales itu.

Paulo Dybala, yang terkenal dengan mask celebration tetap menjadi pilar penting bagi Juventus pada musim-musim selanjutnya.

Tetapi, kedatangan Cristiano Ronaldo pada musim 2018-19 sedikit membuat dirinya tersingkir secara peran di lapangan karena haru bermain lebih melebar dari sayap kanan dan sorotan utama beralih ke megabintang asal Portugal tersebut.

Karier Internasional

Paulo Dyabala sempat menjadi rebutan federasi sepak bola Italia dan Argentina.

Karena berpaspor Italia, dia ditawari untuk berseragam Azzurri di level internasional.

Namun, Paulo Dybala menolaknya dan memilih bermain untuk kampung halamannya, Argentina.

Paulo Dybala tak pernah bermain untuk tim junior Argentina.

Dia langsung merasakan debut tim senior pada 2015 dalam laga melawan Paraguay di kualifikasi Piala Dunia 2018.

Namun, hingga kini belum ada raihan special yang Paulo Dybala hantarkan untuk skuad Albiceleste.

Cerita Paulo Dybala bersama timnas Argentina justru lebih banyak tentang membanding-bandingkan dirinya dengan Lionel Messi.

Berposisi sama dan memiliki kemiripan gaya bermain membuat beberapa pelatih Argentina seperti Jorge Sampaoli dan Lionel Scaloni kesulitan memainkan Paulo Dybala karena lebih mengutamakan Lionel Messi.

Dan itu terbukti ketika di Piala Dunia 2018 dan Copa America 2019, Paulo Dybala hanya memanaskan bangku cadangan dan jarang sekali diturunkan. (TribunnewsWiki/Haris Chaebar)

Artikel ini telah tayang di Tribunnewswiki.com dengan judul : Blaise Matuidi, Daniele Rugani, dan Paulo Dybala

Editor: Panji Anggoro Putro
Video Production: Fikri Febriyanto
Sumber: TribunnewsWiki
VIDEO TERKAIT
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved