Travel

VIDEO TRAVEL | Keunikan Masjid Layur di Semarang, Padukan Arsitektur Jawa dan Timur Tengah

Sabtu, 21 Maret 2020 23:52 WIB
Tribun Jateng

TRIBUN-VIDEO.COM - Berkunjung ke Kota Semarang tanpa menelesuri jejak sejarah yang ada seperti membuat perjalanan jadi kurang berkesan.

Banyak sekali cerita menarik yang dimiliki, di antaranya penyebaran agama Islam yang dilakukan para saudagar asal Timur Tengah.

Penelusuran bisa dimulai dari Masjid Menara di Jalan Layur, Semarang Utara, Kota Semarang.

Muadzin Masjid Menara, Ali Muhsin mengatakan, Masjid Menara menjadi satu masjid tua yang dibangun sekitar tahun 1802.

“Pembangunannya diprakarsai pedagang dari Timur Tengah yang singgah untuh bongkar muat barang di pelabuhan Semarang. Agar dekat dengan tempat mereka berakvitas, masjid dibangun di sekitar Sungai Mberok ini," jelas Ali.

Seperti namanya, masjid ini memiliki menara yang cukup tinggi. Bahkan, jika dilihat dari kejauhan, hanya menara yang terlihat. Sementara, bangunan masjid dikelilingi tembok setinggi lima meter.

"Di menara atau mercusuar itu, muadzin mengumandangkan azan. Jadi, menara tetap difungsikan. Tidak seperti masjid lain yang mungkin punya menara tapi tidak berfungsi," imbuh dia.

Awalnya, cerita Ali, Masjid Menara memiliki dua lantai. Hanya saja, lantaran sering terkena banjir rob, karena lokasi masjid tak jauh dari pelabuhan dan di samping sungai, lantai dua beralih menjadi utama.

"Tahun 2007, lantai satu ditimbun dan lantai dua menjadi yang utama," terang Ali.

Terkait arsitektur, Masjid Menara menggabungkan unsur Jawa dan Timur Tengah.

Unsur Jawa diwakili tiga tingkatan yang umum digunakan masjid pada zaman pembangunan.

Sementara, unsur Timur Tengah terlihat dari unsur geometris dan pemisahan lokasi salat antaran jamaah pria dan wanita.

Unsur Jawa juga terlihat dari penggunaan empat pilar di tengah ruangan.

Tiga pilar di antaranya masih asli sementara satu tiang telah diganti lantara keropos.

"Demi keamanan, pilar yang keropos harus diganti," kata Ali.

Tak hanya pilar, renovasi juga dilakukan di bagian interior lain. Di antaranya, penggunaan keramik. Menurut Ali, saat dibangun, lantai masjid menggunakan bahan kayu.

Masjid Menara yang berumur sekitar 213 tahun itu hingga kini masih difungsikan sebagai tempat ibadah.

Berada di Jalan Layur 33 atau di kawasan Kampung Melayu, Anda bisa mencapai menggunakan Bus Rapid Transit (BRT) koridor dua dan empat dan turun di halte Layur.

Setelah itu, Anda bisa naik becak atau berjalan kaki sekitar 150 meter arah utara. Menara masjid yang menjulang di antara bangunan lain menjadi penunjuk tempat yang tepat. (*)

Artikel ini telah tayang di Tribunjateng.com dengan judul Masjid Layur Gabungkan Arsitektur Jawa dan Timur Tengah

Editor: Radifan Setiawan
Video Production: Marsisca Puguh Setiari
Sumber: Tribun Jateng
VIDEO TERKAIT
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved