Travel

VIDEO TRAVEL: Menjelajah Kesegaran Bandung Waterfall Bali yang Masih Asri

Kamis, 12 Maret 2020 00:31 WIB
Tribun Bali

TRIBUN-VIDEO.COM, GIANYAR - Pemandangan berbeda tersuguh di aliran sungai Pakerisan, di perbatasan Desa Pejeng Kangin dan Desa Siangan, Gianyar, Sabtu (8/6/2019).

Beberapa bulan lalu, sungai ini masih tercemar sampah plastik.

Tak jarang, mobil pengangkut ayam pun banyak dicuci di sungai ini, yang mengakibatkan sungai ini berbau busuk.

Namun kini kondisi tersebut berubah 100 persen.

Hampir tak ada satupun sampah terlihat mengapung di sungai, termasuk masyarakat yang mencuci mobil ayam.

Namun yang paling ‘mencengangkan’, di ujung sungai yang dulunya menjadi lokasi tumpukan sampah, sudah menjadi objek pariwisata berbagai spot.

Mulai dari water canyon, waterfall hingga jumping.

Tempat ini relatif menyegarkan karena dikelilingi pepohonan, serta formasi bebatuan hijau karena lumut, dan yang terpenting bersih dari sampah jenis apapun.

Objek wisata ini merupakan milik Desa Pakraman Bandung, Desa Siangan, Gianyar.

Jro Bendesa Bandung, Dewa Putu Anom mengatakan, sebelum disulap menjadi objek wisata, kawasan ini merupakan tempat angker, sehingga masyarakat sangat jarang turun ke sana.

Namun seorang warganya, Made Kanya, melihat tempat tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi objek wisata.

Kanya dan sejumlah warga peduli lingkungan pun, akhirnya sepakat untuk merawat kawasan ini.

“Awalnya dilakukan pembersihan, karena dulu di sini banyak sampah. Kalau dikumpulkan pakai truk, bisa sampai 2 truk banyak sampahnya. Tapi karena kegigihan warga melakukan gotong royong, kondisi ini kembali bisa alami, dan kondisi airnya pun bagus,” ujarnya.

Dalam memastikan kondisi air tidak membahayakan kulit, penggagas Bandung Waterfall Bali, Made Kanya pun nyemplung ke dalam air, sembari menunjukkan spot yang dimiliki.

Namun jika ada wisatawan masih ragu terhadap kualitas airnya, usai mandi di objek tersebut, wisatawan bisa mandi pada pancuran yang airnya telah dipasupati atau disucikan.

Dimana sumber air pancuran ini merupakan air alami yang timbul dari bawah tanah.

“Habis mandi di sungai, bisa mandi lagi di pancuran ini, langsung minum juga bisa, karena airnya langsung dari sumber mata air, dan juga sudah dipasupati, dijaga kesuciannya,” ujar Kanya menimpali.

Meskipun objek wisata ini masih terbilang baru, namun wisatawan yang berkunjung relatif banyak, yakni rata-rata 50 orang per hari.

Lokasi ini cepat terkenal, Kanya tak terlepas dari peran masyarakat setempat, yang sebagian besar bekerja sebagai guide.

Tak hanya itu, pihaknya juga gencar melakukan promosi lewat media sosial.

“Rata-rata yang datang 50 orang, sebagian besar wisatawan asing. Mereka sangat menyukai lokasi ini, karena sangat alami. Bahkan kami tidak dikasi untuk menambahkan material apapun, supaya kealamiannya tidak rusak,” tandasnya.

Gencar Sosialisasi Kebersihan

Jro Bendesa Bandung, Dewa Putu Anom saat ini gencar melakukan sosialisasi kebersihan, khususnya tidak membuang sampah ke sungai.

Pihaknya pun bersyukur hal ini mendapat respons positif.

Tak hanya dari warganya, tapi juga dari desa pakraman tetangga.

Demi mengoptimalkan kebersihan, Dewa Anom pun mengaku kerap mendatangi dan memberikan pemahaman secara kekeluargaan pada masyarakat yang membuang sampah ke sungai atau masyrakat yang mencuci mobil ayam.

“Astungkara, sekarang kesadaran untuk tak mencemari sungai sudah ada. Kami juga berterima kasih pada desa tetangga, yang membantu kami melarang warganya membuang sampah ke sungai,” tandasnya. (*)

Artikel ini telah tayang di tribun-bali.com dengan judul Ubah Kawasan Terbengkalai Jadi Objek Wisata, Bandung Waterfall Bali Tawarkan Berbagai Spot Menarik

Editor: Sigit Ariyanto
Video Production: Marsisca Puguh Setiari
Sumber: Tribun Bali
Tags
   #Travel   #air terjun   #Gianyar
VIDEO TERKAIT
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved