Travel

Makam Ki Ageng Pandanaran, Makam Tokoh Pendiri Kota Semarang

Rabu, 11 Maret 2020 22:48 WIB
TribunnewsWiki

TRIBUN-VIDEO.COM - Berkunjung ke Ibukota Jawa Tengah, tak lengkap jika tak mengenal tokoh pendiri kota kota Atlas ini.

Ki Ageng Pandanaran, itulah tokoh yang berperan besar dari hadirnya Semarang.

Beliau merupakan tokoh penyebar agama Islam, sekaligus menjadi bupati pertama di Semarang, yang makamnya ada di Jalan Mugas Dalam II, Nomor 04, RT 07/RW 03, Mugassari, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang.

Sejarah singkat

Berdirinya Semarang tak lepas dari babat alas yang dilakukan Ki Ageng Pandanaran berlokasi di Pulang Tirang atau Tirang Ngampar yang kini menjadi Mugas sekira abad ke-16.

Menurut satu di antara juru kunci makam Ki Ageng Pandanaran Suwarno menceritakan, terkait tanggal, bulan, tahun kelahiran, bahkan wafat Ki Ageng Pandanaran tak ada perkiraan pasti serta catatan sejarah yang ditemukan.

"Tanggal, hari, bulan, tahun Kami tak bisa menemukan kapan beliau (Ki Ageng Pandanaran) lahir dan wafatnya. Namun dalam sejarah yang Kami himpun perkiraannya beliau wafat sekira tahun 1547," paparnya, Selasa (25/2/2020) siang.

Mengutip sejarah yang dihimpun dari Yayasan Sosial Sunan Pandanaran Semarang, selaku pengelola makam Ki Ageng Pandanaran.

Ki Ageng Pandanaran merupakan cucu dari Pangeran Suryo Panembahan Sabrang Lor (Sultan kedua Kesultanan Demak), putra dari Maulana Ibnu Abdul Salam atau Pangeran Madiyo Pandan.

Awal perjuangan beliau sebagai penyiar agama Islam ketika diutus Sunan Kalijaga dakwah di area Semarang, yang dulunya masih berupa alas, serta karang pinggir pantai.

Beliau berhasil meng-Islamkan sejumlah penduduk yang dulu masih memeluk agama Hindu, termasuk istrinya bernama Endang Sejanila putri dari Pendeta Pragota.

Penamaan Kota Semarang, berasal dari ujaran beliau ketika dakwah di daerah Bubakan.

Berawal ketika beliau melihat pohon asem (asam) yang tumbuhnya jarang namun subur.

Keanehan pohon asam yang tumbuhnya jarang tersebut diberikan nama Semarang.

Pada akhir hayatnya, tak ada yang tahu pula terkait tahun berapa Ki Ageng Pandanaran wafat.

Namun wafatnya Ki Ageng Pandanaran diperkirakan sekira 72 tahun sebelum tahun 1547 Masehi.

Tahun 1547 merupakan tahun bersejarah bagi Kota Semarang, karena tahun tersebut tepatnya tanggal 2 Mei dijadikan sebagai hari jadi Kota Semarang.

Tanggal tersebut diambil dari pengangkatan Ki Ageng Pandanaran II atau Sunan Tembayat sebagai Bupati Semarang ke-2, setelah Ki Ageng Pandanaran selaku ayahnya.

Lokasi

Hanya beberapa menit untuk sampai ke area Makam Ki Ageng Pandanaran jika ditempuh dari tengah kota tepatnya Simpang Lima.

Dari Simpang Lima Anda cukup menuju Jalan Pandanaran yang berada di sebelah barat.

Penamaan Jalan Pandanaran dilandasi dari tokoh pendiri Semarang serta pemimpin pertamanya yakni Ki Ageng Pandanaran.

Ikuti jalan tersebut, tepat sebelum hotel @HOM terdapat gang masuk silakan belok kiri menuju gang dengan nama Jalan Pandanaran 2.

Dari Jalan Pandanaran 2 di ruas depan terdapat bundaran, belok kanan menuju Jalan Tri Lomba Juang.

Sebelah kiri Gor Tri Lomba Juang terdapat jalan masuk, belok kiri menuju Jalan Mugas Dalam.

Dari sinilah kelokan demi kelokan melewati rumah penduduk mulai ditempuh.

Sebelum Masjid Ar Rahmah, belok kanan menuju Jalan Mugas Dalam I, sesudah Masjid Baitusshomad, belok kiri menuju Jalan Mugas Dalam 2.

Ikuti jalan tersebut, kurang lebih 200 meter sampai di lokasi yakni sebelum Kantor Kelurahan Mugassari atau di depan SMPN 10 Semarang.

Lebih tepanya makamnya berada di samping Masjid Sunan Pandanaran.

Gambaran tempat

Berkunjung ke Makam Ki Ageng Pandanaran, sebelumnya Anda dapat memarkirkan kendaraan di samping jalan area masjid Pandanaran.

Tak usah khawatir dengan keamanan kendaraan, ada tukang parkir yang siap menjaga.

Untuk tarif parkir roda dua atau motor dikenakan Rp 2 ribu, sementara mobil atau bus dikenakan Rp 5 ribu.

Area makam yang sedikit di atas perbukitan pun akan Anda tempuh, dengan melewati empat puluh anak tangga dengan lebar sekira satu meter.

Setelahnya dua gapura warna hijau silih berganti menyambut kedatangan para peziarah, dengan sebuah tulisan memakai aksara Jawa.

Tulisan di gapura pertama berbunyi 'Manunggaling Karsa Memuji Marang Gusti,' memiliki petuah ketika sesuatu yang diinginkan dan diharapkan dapat menyatu bersama penyembahan umat muslim yakni Allah SWT, semuanya akan berjalan dengan baik.

Sementara tulisan di gapura ke dua berbunyi 'Makam Sunan Pandhanaran Semarang,' yang menegaskan jika di area tersebut adalah makam tokoh ulama besar pendiri Semarang.

Di sebelah kanan gapura terdapat Masjid Ki Ageng Pandanaran, konon merupakan bagian dari peninggalan beliau.

Di sebalah kiri jalan menuju makam, terdapat tempat toilet dan kamar mandi, berguna bagi setiap pengunjung yang datang jika hendak membuang hadas.

Menuju pendapa makam, area pejalan kaki bersama tanaman menghiasi sisi kanan kiri, dengan lebar sekira satu meter menuntun Anda untuk sampai ke lokasi.

Pendapa berwarna hijau, dengan pintu berbahan kayu jati sedikit ukiran, menambah kesan kharismatik Jawa sebagai ciri serta identitas.

Di atas pintu terdapat ukiran menggunakan huruf Jawa berbunyi 'Wediya Marang Gusti.'

Petuah tersebut memiliki makna, semua rasa takut hanya pada Allah SWT sebagai zat penguasa alam semesta ini.

Tak lupa di samping pendapa terdapat menara yang dulu memiliki kegunaan sebagai tempat pengeras suara.

Masuk ke dalam pendapa, di sebelah kanan di antara empat tiang penyangga, terdapat ruangan seperti bangunan rumah pada umumnya, itulah petilasan makam suci dari Ki Ageng Pandanaran bersama istri dan ayahnya.

Di sebalah kiri terdapat makam istrinya bernama Nyi Ageng Pandanaran atau Endang Sejanila.

Sebelah kanan bernama Maulana Ibnu Abdul Salam atau Pangeran Madiyo Pandan, merupakan ayahanda Ki Ageng Pandanaran.

Tepat di samping makam, terdapat tombak-tombak yang ujungnya di bungkus kain putih sebagai peninggalan beliau.

Di area belakang pendapa terdapat makam para keluarga, serta pengikut dari Ki Ageng Pandanaran yang turut serta di semayamkan.

Sebuah pendapa yang berdiri hingga sekarang, dulu digunakan sebagai tempat berkesenian serta belajar agama.

Tak hanya peninggalan pendapa, mimbar dan gentong yang berada di pojok kiri juga bagian peninggalan asli Ki Ageng Pandanaran yang dapat dilihat hingga sekarang.

(TRIBUNJATENGWIKI.COM/Muhammad Khoiru Anas)

Artikel ini telah tayang di Tribunjatengwiki.com dengan judul Makam Ki Ageng Pandanaran, Pendiri Semarang

Editor: Radifan Setiawan
Video Production: Fikri Febriyanto
Sumber: TribunnewsWiki
VIDEO TERKAIT
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved