Wiki on The Spot

Wiki on The Spot - Gereja Blenduk, Gereja dengan Arsitektur khas Eropa ala Aristokrat

Selasa, 25 Februari 2020 15:14 WIB
TribunnewsWiki

TRIBUN-VIDEO.COM - Selain sebagai tempat peribadatan, Gereja Blenduk yang berlokasi di kawasan wisata Kota Lama Semarang turut pula sebagai wisata religi.

Tak hanya itu saja, bangunan yang berdiri kokoh sejak zaman kolonial Belanda juga dijadikan satu di antara ikonik Kota Semarang.

  •  Sejarah Singkat

Berdirinya Gereja Blenduk, tak lepas dari hadirnya kolonial Belanda yang datang ke Semarang.

Namun sebelum Belanda menduduki Semarang, bangunan ini telah berdiri sekitar tahun 1742 namun belum digunakan sebagai tempat peribadatan.

Awalnya Gereja Blenduk berbentuk rumah panggung khas Jawa dengan atap limasan, terlihat dari peta sejarah Kota Semarang tahun 1756.

Tahun 1894-1895 setelah Belanda menduduki Semarang, Gereja Blenduk dilakukan pemugaran secara menyeluruh dengan di arsiteki oleh HPA De Wilde dan W Westmaas.

Tahun 1981-1982 dan 2003, Gereja Blenduk dilakukan renovasi kembali, hingga bangunannya masih berdiri kokoh sampai sekarang.

Namun renovasi yang dilakukan sejak dulu, tak pernah merubah ciri khas bangunan bergaya arsitektur Eropa klasik serta aristokrat.

Selain itu, setiap kali renovasi potret sejarah Gereja Blenduk selalu diabadikan melalui tulisan di atas batu marmer yang terpasang di bawah alter gereja.

  •  Lokasi

Berkunjung ke Gereja Blenduk, lokasi yang ditempuh sangatlah mudah.

Keterkenalan Kota Lama sejak revitalisasi dari waktu ke waktu banyak dijamah oleh berbagai wisatawan, menjadikan Gereja Blenduk mudah dijumpai.

Dari pusat Kota Semarang yakni Simpang Lima, Anda cukup menuju Jalan Gajah Mada hingga Jalan Pemuda.

Sampai di perempatan menuju Jalan Pemuda silakan belok kanan, ikuti Jalan Pemuda tersebut sampai di perempatan Hotel New Metro, Masjid Kauman, atau Pasar Johar.

Di perempatan tersebut, silakan langsung belok kiri menuju Jalan Kolonel Sugiono hingga perempatan Jalan Imam Bonjol.

Dari perempatan tersebut, Anda langsung belok kanan ikuti Jalan Imam Bonjol hingga di sebuah Jembatan Berok.

Dari Jembatan Berok, Anda telah sampai di area Kota Lama Semarang yang kini jadi wisata unggulan di Kota Semarang.

Setelah melewati Jembatan Berok, silakan belok kiri menuju Jalan Empu Tantular serta Jalan Merak.

Sebelum perlintasan kereta api, belok kanan ikuti Jalan Merak hingga perempatan Jalan Tawang.

Belok kanan menuju Jalan Cendrawasih ke perempatan Jalan Letjen Suprapto depan Filosofi Kopi.

Belok kanan ikuti Jalan Letjen Suprapto tersebut, silakan telusuri hingga sampai di sebuah bangunan ikonik Kota Lama Semarang, dan dekat dengan Taman Srigunting berdirilah Gereja Blenduk.

Jika masih bingung dengan lokasinya, Anda cukup membuka aplikasi google maps dan silakan klik link berikut.

  •  Gambaran Tempat

Selain bagian dari kawasan wisata Kota Lama, Gereja Blenduk selalu memiliki daya tarik tersendiri sebagai spot foto ikonik khas Kota Semarang.

Kadang, pengunjung pun tak tahu jika bangunan tersebut merupakan tempat peribadatan umat Kristiani.

Kagum dan unik akan dirasakan pengunjung ketika melihat bentuk atap menyerupai kubah layaknya di sebuah masjid, dengan warna merah kecoklatan.

Bentuk atap berbentuk bulat itulah orang Jawa menyebutnya 'blenduk,' atau melengkung bulat.

Menghadap ke selatan, Gereja Blenduk memiliki tiga pintu masuk, yakni pintu utama berada di sebelah selatan, serta dua pintu masuk berada di sebelah utara dan timur.

Tak hanya bentuk atap yang jadi sorotan, dua menara kembar berbentuk persegi yang mengapit atap blenduk, dengan di topang lengkungan heksagonal atau persegi delapan, semakin menambah ke estetisan bangunan khas Eropa ini.

Bertuliskan GPIB Immanuel yang menempel di atas area depan gedung, bersama sebuah simbol salib semakin meyakinkan jika bangunan tersebut merupakan sebuah gereja.

Masuk ke dalam melalui pintu utama yang berada di sebelah selatan, pandangan akan dibawa ke sebuah kursi berjajar rapi terbuat dari kayu berwarna coklat, dengan kombinasi rotan berwarna kuning.

Warna kursi-kursi tersebut selaras dengan lantai pijakan berwarna coklat dan kuning.

Kursi-kursi yang dipergunakan jemaat untuk ibadah, menghadap ke sebuah mimbar terbuat kayu, berwarna coklat dengan atap blenduk yang digunakan Pendeta untuk memimpin ibadah.

Di sebelah utara terdapat orgen piano berukuran besar menggantung terbuat dari logam, berwarna putih sedikit kuning.

Meskipun piano tersebut telah rusak dan tidak dapat dipergunakan, namun hadirnya di dalam gereja, menambah ke khasan bangunan bergaya Eropa klasik tersebut.

Keunikan lain di area dalam Gereja Blenduk yakni, atap berwarna kuning bergaris hitam, bersama adanya lampu gantung berada di tengah-tengah ruang kebaktian.

Selain itu, kaca jendela berwarna-warni dengan sebuah tiang menempel di antara dinding bangunan, semakin menyelaraskan gereja peninggalan zaman kolonial yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya.

Meskipun bertingkat dua, namun area atas jarang dipergunakan sebagai tempat duduk atau kegiatan lain untuk peribadatan.

(TRIBUNJATENGWIKI.COM/Muhammad Khoiru Anas)

Artikel ini telah tayang di tribunnewswiki.com dengan judul: Gereja Blenduk


Editor: Aprilia Saraswati
Video Production: Fikri Febriyanto
Sumber: TribunnewsWiki
VIDEO TERKAIT
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved