KISAH PILU: Bayi Fajar Al Hadi Tergolek Lemah di RS Bhayangkara Padang, Butuh Uluran Tangan

Jumat, 14 Februari 2020 09:07 WIB
Tribun Padang

Laporan Wartawan TribunPadang.com, Rizka Desri Yusfita

TRIBUN-VIDEO.COM - Mata Ratna Sahara tampak sembab sesaat keluar dari ruang NICU RS Bhayangkara Padang, Sumatera Barat (Sumbar).

Di ruangan itu, bayinya yang saat ini berusia 2 bulan satu hari dirawat dan berada di Inkubator NICU.

Fajar Al Hadi itulah nama yang diberikan pada buah hatinya yang kini dalam perawatan medis tersebut.

Bayinya tergolek lemah di ruang NICU dengan kondisi terpasang selang infus.

Padahal, usia bayinya masih usia mengemaskan dan sedang lucu-lucunya.

Namun, ia tak bisa bergelut dengan bayinya seperti ibu-ibu lainnya, justru setiap ia melihat dan teringat kondisi bayinya ia selalu meneteskan air mata.

Air mata seorang ibu melihat nasib anaknya yang semakin hari bobot tubuhnya semakin turun.

Ya, bayinya didiagnosa penyakit kekurangan hormon tiroid (gangguan tumbuh kembang) dan down sindrome sejak lahir.

Wanita yang setiap semester ganjil bekerja sebagai dosen luar biasa di STIE Galileo Batam ini tak menyangka anak ketiganya mengalami hal tersebut.

Pasalnya, sejak dalam kandungan tak pernah terdeteksi ada masalah dengan bayinya.

Bahkan semenjak lahir pada 11 Desember 2019 lalu, kata Ratna, bayinya lahir secara normal di Klinik Delima Medika atau Bidan Elly Vanbo.

Dua minggu sebelum kelahiran, tepatnya 27 November 2019, Ratna dan kedua anaknya berangkat ke Padang dari Batam.

Sehari sebelumnya, ia sempat melakukan USG di Batam dan melalui USG itu tidak bisa dipastikan adanya gangguan/kelainan bawaan pada anaknya selama di kandungan.

Ratna asli orang Padang. Awalnya, sempat tinggal di Tangerang untuk ikut dengan suami.

Kemudian mereka juga baru setahun lalu pindah ke Batam.

Di Batam mengajar di STIE Galileo Batam saat semester ganjil, dapat jadwal 4 SKS dengan Mata Kuliah Umum Bahasa Indonesia.

Saat makan di sebuah rumah makan (RM) di Padang dekat RS Bhayangkara, Ratna bercerita bahwa ia kaget dengan kondisi bayinya.

Saat lahir, Fajar dengan berat 3 Kg, tampak lucu dan menggemaskan.

Dia cukup aktif bahkan sudah bisa memiringkan badannya.

Namun, kini ia tak kuasa menahan air matanya.

Tidak terbayang di kepalanya bahwa bayi sekecil itu harus melalui sedemikian rupa.

Dia pun sempat meneteskan air mata seraya menceritakan kondisi bayinya.

Hingga, sempat terhenti menyuap nasi yang sudah berada di tangannya.

Dia pun hanya bisa parah. Gejolak hatinya keluar menjadi air mata, berharap akan kesembuhan buah hatinya.

"Saya teringat ketika bayi saya dimandikan. Badannya cenderung kurus tapi panjangnya bertambah. Dia memegang pergelangan tangan saya erat. Gak tega saya melihatnya," tuturnya sambil mengelap air matanya.

Selama mengandung, tidak ada gejala apapun yang dihadapi Ratna.

Bahkan saat melakukan pemeriksaan USG, bayinya dinyatakan sehat oleh dokter dan tidak terdeteksi apapun.

"Tentu saya kaget, kenapa dia bisa menderita penyakit itu karena dia lahir normal. Tapi, memang saat dilahirkan tangisannya relatif lambat," terang Ratna Sahara kepada TribunPadang.com, Kamis (13/2/2020).

Saat lahir pun, cerita Ratna, tidak ada tanda-tanda kelainan, karena bayi lahir seperti lazimnya bayi lain.

Bidan yang membantu proses kelahiran pun tak ada meminta untuk memperlakukan Fajar istimewa.

"Sewaktu lahir, memang sempat terdengar bisik-bisik perawat kalau anak saya menderita sindrome. Tapi tidak langsung dikatakannya kepada saya, hanya bisik-bisik," ucap Ratna.

Ratna penasaran dan mencari tahu penjelasan mengenai sindrome di internet berdasar ciri-ciri, dimana ia pecah ketuban dini.

Namun ia tak menemukan penjelasan lebih lanjut mengenai hal itu.

Ia mengatakan, jika benar anaknya ditakdirkan menderita sindrome dia tetap sabar dan ikhlas karena itu amanah yang diberikan Mahakuasa.

Ratna bercerita, sebelum beranjak usia tiga minggu, Fajar memang agak susah meminum air susu ibu (ASI).

Namun setelah susu diperas dan terus dilatih menyusui, bayi tersebut sudah dapat menyusu dengan baik.

Meski demikian, kondisi bayinya kembali menurun, karena setiap diberi ASI, maka dia akan muntah, begitu seterusnya, sampai kondisinya drop.

"Saya mulai risau, berat badan tidak bertambah sementara dia seringkali menyusu. Ada yang menyarankan untuk memberinya susu bantu. Saya beli, setelah itu BAB Fajar keras, padahal sebelum itu tidak keras," ungkap Ratna Sahara.

Dengan raut wajah sendu, Ratna kembali melanjutkan ceritanya, pada usia 42 hari atau pada 23 Januari 2020, dirinya sekeluarga membawa Bayi Fajar ke dokter spesialis anak, dr. Dani Andespa, SPa di Apotik Kiki, Ulak Karang, Padang.

Saat itu, dokter mengatakan, bayi tersebut menderita down sindrome yang menyebabkan dia agak lambat merespon dibandingkan anak normal.

"Saya bertanya kepada dokter ketika itu, apa bedanya down sindrome dengan anak berkebutuhan khusus."

"Dokter mengatakan, anak-anak berkebutuhan khusus itu punya kelebihan, kalau orang tuanya bisa merawatnya dengan baik, malah memiliki kelebihan dari orang normal," kata Ratna mengulangi ucapan dokter.(*)

Editor: Novri Eka Putra
Video Production: Novri Eka Putra
Sumber: Tribun Padang
Tags
   #RS Bhayangkara   #Padang   #Hormon Tiroid
VIDEO TERKAIT
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved