Terkini Daerah

Kisah Wanita 6 Tahun Dipasung di Jatilawang, Kades: Kalau Jumat Kliwon Nyanyi Indonesia Raya

Rabu, 12 Februari 2020 07:07 WIB
Tribun Jateng

TRIBUN-VIDEO.COM - Mendekam dalam ruangan sempit berjeruji besi berukuran 1.5 x 2 meter, Pujiati (48) orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) kembali dapat merasakan udara bebas.

Bertempat di rumahnya di RT 5 RW 4, Desa Tunjung, Kecamatan Jatilawang, Pujiati dirayu oleh sejumlah petugas medis Puskesmas Jatilawang.

Ada rasa ketakutan ketika beberapa orang yang tidak dia kenal mendekat dan mencoba mengajaknya keluar.

Pujiati berteriak dengan mengeluarkan kata-kata yang tidak bisa dipahami.

Namun akhirnya, petugas dari Puskemas mengambil tindakan menyuntik Pujiati agar lebih tenang dan mau dibawa petugas.

Pujiati Lahir pada 1972, usianya kini sudah menginjak 48 tahun.

Adik dari Pujiati, Watini (42) menceritakan bagaimana awal mula kejadian mengapa kakaknya, bisa mengalami gangguan jiwa seperti sekarang ini.

Watini bercerita jika dulu Pujiati hidup normal seperti biasa.

Pujiati sempat bekerja sebagai SPG di Purwokerto, selama beberapa tahun.

Namun, setelah bekerja di Purwokerto Pujiati memutuskan untuk pergi merantau ke Bandung.

Setelah bekerja di Bandung, dia memutuskan untuk pulang ke rumah orangtuanya di Jatilawang.

"Setelah pulang dari Bandung itulah dia sudah berbeda," ujar Watini kepada TribunBanyumas.com, Selasa (11/2/2020).

Pulang dari Bandung, Pujiati sempat pergi main menggunakan motor ke daerah Wangon, Banyumas.

Saat perjalanan pulang dari Wangon itulah, Pujiati terjatuh dan mengalami kecelakaan yang mengakibatkan dia mengalami luka berat di bagian kepala.

"Dia jatuh dari motor setelah pulang dari Wangon.

Saat di Bandung katanya sempat ikut aliran sesat," imbuhnya.

Semenjak kecelakaan Pujiati sempat berobat beberapa kali ke RSUD Banyumas bahkan hingga ke Solo.

Namun, setelah beberapa kali berobat Pujiati tidak mengalami perubahan terutama kesehatan mentalnya.

Sudah 20 tahun lamanya, Pujiati menderita gangguan jiwa.

Karena mengalami gangguan jiwa itulah, dia beberapa kali mengamuk dan mengacak-acak rumah.

Bahkan beberapa kali membahayakan masyarakat sekitar.

Karena takut dengan Pujiati yang kerap berteriak dan mengacak-acak rumah, masyarakat kemudian berinisiatif membangun ruangan khusus dibelakang rumah Pujiati.

"Dia memang sering memberontak dan memberantakin rumah.

Karena sering memberontak makanya dibuatkan rumah dibelakang dan kurang lebih sudah 6 tahun di pasung," kata Watini.

Dalam kesehariannya, Pujiati sering berteriak.

Bahkan menurut kepala desa Tunjung, Sartim, Pujiati adalah orang yang memang sangat sensitif.

"Apalagi kalau malam jumat kliwon pasti nyanyi Indonesia raya, padamu negeri," katanya.

Pujiati makan rutin sehari dua kali, dan adiknya wati yang kerap memberikan makan.

"Kalau sedang waras dan sehat dia tanya ke saya minta makan," kata Watini.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Jatilawang, dr. Tulus Budi Purwanto memimpin langsung evakuasi Pujiati.

Pihaknya menjelaskan jika evakuasi tersebut adalah sebagai tindak lanjut surat edaran Dinkes Banyumas.

"Kami melakukan kunjungan dan edukasi ke keluarga ODGJ yang dipasung. Setelah dilakukan upaya persuasif, pihak keluarga setuju untuk dilakukan pembebasan dan perawatan di RSUD Banyumas," ujarnya.

Sebelum mengevakuasi Pujiati, tim dari Puskesmas Jatilawang juga telah membebaskan dua orang ODGJ.

"Ada tiga orang yang dipasung di Kecamatan Jatilawang. Ada 2 orang laki-laki yang satu dari Desa Tinggarwangi dan satunya di Tunjung Lor.

Sedangkan 1 orang perempuan, yaitu Pujiati dari Tunjung Kidul," tambahnya.

Pembebasan ODGJ dari pemasungan adalah salah satu program agar orang gangguan jiwa mendaparkan perlakuan yang manusiawi.

Segala macam biaya perawatan Pujiati dan pasien ODGJ akan di tanggung, selama mempunyai BPJS atau KIS.

Perawatannya sendiri kurang lebih 3 minggu sampai 1 bulan di RSUD Banyumas.

Kemudian akan di daftarkan di panti rehabilitasi sosial Mertani di Kroya, Cilacap.

"Kita akan tangani sampai sembuh, yang terpenting yang bersangkutan memiliki kartu JKN KIS dan yang terpenting adalah pasien mendapat pelayanan sesuai standar," pungkasnya.

(TribunBanyumas / jti)

Artikel ini telah tayang di Tribunbanyumas.com dengan judul Kisah Pujiati Terpasung 6 Tahun Setelah dari Bandung, Tiap Malam Jumat Kliwon Nyanyi 2 Lagu Ini.

Editor: Teta Dian Wijayanto
Sumber: Tribun Jateng
VIDEO TERKAIT
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved