Viral! Video Guru SMA di Medan Berkelahi dalam Kelas di Depan Murid, Ternyata Ini Pemicunya

Selasa, 11 Februari 2020 17:17 WIB
Tribun Padang

TRIBUN-VIDEO.COM - Baru-baru ini, viral sebuah video yang memperlihatkan dua orang pria yang sedang berkelahi.

Perkelahian terjadi di dalam sebuah ruangan kelas, dan disaksikan oleh para murid berseragam SMA.

Ternyata, peristiwa itu terjadi di SMAN 8 Medan pada 29 Januari 2020 lalu.

Dua pria yang terlibat perkelahian adalah guru yang mengajar di sekolah itu.

Dilansir dari Kompas.com, Kepala Sekolah SMA Negeri 8 Medan, Jonggor Panjaitan mengatakan, kedua guru yang terlibat perkelahian yakni Herbin Manurung (HM), seorang guru matematika dan Deni Panjaitan (DP), guru olahraga.

"Iya benar, ada itu. Tapi sudah dibuat pengaduannya ke Polsek. Kita tunggulah dari," katanya terkait kasus tersebut, Selasa (11/2/2020).

Saat kejadian, dia mengaku sedang tidak berada di sekolah.

Kendati demikian, kata dia, DP saat ini telah dijatuhkan sanksi, sementara Herbin Manurung tidak diketahui keberadaannya.

"Dia (Herbin Manurung) kurang tahu. Entah masuk apa enggak. Kalau yang satunya, DP saya skors," katanya.

Dijelaskan Jonggor, perkelahian tersebut diawali saat DP disuruh wakil kepala sekolah memanggil dua orang siswa yang sedang diajar oleh Herbin Manurung.

"Setelah 10 menit, siswa itu tidak datang. Diulangi kembali lah (oleh Deni untuk memanggil). Terjadi perkelahian dan adu mulut di dalam kelas," jelasnya.

Kronologi Kejadian

Atas peristiwa itu, Herbin Manurung, seorang guru Matematika di SMAN 8 Medan melaporkan sesama guru di sekolah itu ke Polsek Medan Area, Senin (3/2/2020).

Dilansir dari Tribun Medan, ia membeberkan kronologi perkelahiannya dengan rekan kerjanya yang juga anak Kepala SMAN 8.

Dalam proses belajar di Kelas XII, tepat di Lantai III, Deni Panjaitan, guru honorer sekaligus anak kepala sekolah datang ke kelas tanpa izin memanggil siswa.

"Aku terkejut saat dia datang dan sontak memanggil murid dari kelasku, waktu itu kami sedang bahas soal matematika karena kelas III kan mau ujian."

"Itu baru satu jam proses belajar dari pukul 07.30 WIB," ungkap Manurung, Senin (3/2/2020).

Pasalnya, Deni Panjaitan memanggil murid dari kelas tanpa izin dari Manurung, sebagai pengampu mata pelajaran yang sedang berjalan.

"Usai dipanggilnya siswa itu, dia (Deni Panjaitan) langsung balik badan dan turun ke bawah."

"Lalu murid yang dipanggil itu langsung menghadap saya dan minta izin."

"Saya tidak izinkan sebab tidak ada keterangan padaku mengapa siswa itu dipanggil."

"Lagian, Deni tidak ada kasih tahu apa-apa kepadaku perihal anak yang dipanggil, permisi pun tidak," ujarnya.

Manurung kembali mengajak anak untuk kembali tenang dan belajar seperti biasanya.

"Saya menyuruh anak-anak kembali duduk dan terangkan kepada anak bahwa guru tadi tidak punya etika dan tujuan untuk apa anak dipanggil," tambahnya.

Setelah lima belas menit, Deni Panjaitan datang dengan arogansinya serta menyuruh anak yang dipanggilnya turun ke bawah.

"Anak-anak yang tadinya terkejut, kita ajak lagi belajar. Lalu, 15 menit kemudian, dia datang dengan arogansinya yang luar biasa."

"Dia langsung bilang, 'siapa tadi yang kupanggil itu, kenapa belum turun? Arogansi luar biasa lah," ujarnya.

Lantas, Manurung memperingatkan Deni Panjaitan hingga terjadi debat di depan kelas.

"Lalu saya bilang bahwa harus beretikalah memanggil siswa. Inilah pemicu kami berdebat."

"Terus, dia bentak saya sambil bilang bahwa saya mamak-mamak."

"Dimaki-makinya saya sambil dilayangkannya tangannya samaku, memang nggak sampai berbekas," tambahnya.

Siswa laki-laki yang ada di kelas pun memaksa keluar Deni, sebab kelas mereka jadi ribut.

"Spontan murid saya yang laki-laki semua langsung maju."

"Ditariklah dia ke bawah, dan bahkan ada seorang siswa laki-laki yang ditariknya untuk minta keterangan mungkin."

"Aku pun tidak tahu apa masalah murid yang dipanggilnya itu, cuman etika dan caranya itu tidak pas," ungkapnya.

Perlakuan Deni Panjaitan menyebabkan Manurung kesal dan merasa dilecehkan sebagai guru yang telah mengabdi selama 20 tahun di sekolah tersebut.

"Aku sudah mengabdi selama 20 tahun di sana mengajar, masa tidak ada dihargainya saya."

"Kalau bisa dikatakan, dia pun masih anak kita kan, nah itulah yang buat tergantung mental saya, dilecehkan saya dengan sikapnya itu," katanya dengan nada kecewa.

"Saya langsung mencarinya ke bawah, karena saya tidak siap diperlakukan seperti itu. Harga diri saya sepertinya tidak ada lagi di hadapan anak-anak."

"Sampai kena tangannya ke badanku, main fisik kan. Kukejar dia ke bawah dan muridku pun spontan turun juga sebab ini tidak bisa dibiarkan," tambahnya.

Manurung mencari Deni dan mendapatinya bersembunyi di kantor Kepala Sekolah.

Manurung menyuruhnya keluar, alhasil dia tidak mau dan tetap bertahan di kantor tersebut.

"Saya temukan dia ternyata di kantor bapaknya bersembunyi. Saya suruh dia keluar dari kantor itu," paparnya.

Menurut dia, Kepala Sekolah tidak menasehati anaknya.

"Masalahnya, bapaknya sendiri pun tidak menasehati anaknya itu. Itu yang kusesalkan," ungkapnya.

Setelah diperiksa, ternyata sepeda motor Manurung juga dirusak Deni Panjaitan.

"Kupikir cuma masalah itu, rupanya anaknya ini juga merusak keretaku," tambahnya.

Manurung menyesalkan kebebalan dan arogansi Deni Panjaitan hingga dia membuat laporan ke Polsek Medan Area.

Hingga laporan dibuat ke Polsek Medan Area, Deni Panjaitan belum meminta maaf kepada Manurung.

"Sampai sekarang, dia itu tidak punya niat baik, dia tidak ada minta maaf, saya tunggu sejak kejadian hingga sekarang."

"Nah, makanya saya buat laporan, karena yang kayak gini tidak bisa dibiarkan, mau siapa lagi yang mau jadi korbannya," ungkapnya.
Gubernur Pastikan Pecat Keduanya

Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi turun tangan menyelesaikan perkelahian dua guru di hadapan muridnya.

Edy Rahmayadi memastikan dua guru SMA Negeri 8 Medan tersebut akan dipecat.

Adapun dua tenaga pendidik yang terlibat perkelahian adalah guru matematika Herbin Manurung, dan guru honorer olahraga Deni Panjaitan, yang merupakan anak Kepala SMAN 8 Medan.

Mantan Pangkostrad itu menilai perilaku kedua guru ini tidak pantas, karena berkelahi di dalam kelas hingga disaksikan oleh muridnya sendiri.

"Kita akan pecat dia (dua guru)," kata Edy Rahmayadi saat ditemui usai melaksanakan salat di Masjid Agung, Jalan Pangeran Diponegoro, Kota Medan, Senin (10/2/2020).

Edy pun mengucapkan pepatah lama terkait perilaku kedua guru itu, yaitu 'Guru Kencing Berdiri, Murid Kencing Berlari’.

Secara sederhana pepatah tersebut mengandung makna bahwa murid akan mencontoh perilaku gurunya.(*)

Artikel ini telah tayang di Tribunpadang.com dengan judul Bukannya Mengajar, 2 Guru SMA di Medan Malah Kelahi di Depan Murid, Ternyata Ini Pemicunya

Editor: Novri Eka Putra
Video Production: Novri Eka Putra
Sumber: Tribun Padang
Tags
   #guru   #berkelahi   #Medan
VIDEO TERKAIT
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved