Terkini Daerah

Korban Pengeroyokan di Diskotek Pentagon, Keluarga Tak Kuasa Lihat Kondisi Pilu Glenn Jelang Ajal

Senin, 10 Februari 2020 21:43 WIB
Tribun Jatim.com

TRIBUN-VIDEO.COM - Glenn Puttiray mengembuskan nafas terakhir sekitar pukul 12.10 WIB, Minggu (9/2/2020).

Pria setinggi 178 sentimeter itu menjadi satu di antara empat korban pengeroyokan di Diskotek Pentagon pada Kamis (6/2/2020) dini hari.

Tiga orang lainnya hanya lebam, sehari dua hari dinyatakan sembuh, dan diperbolehkan pulang.

Tapi tidak dengan Glenn. Sejak dievakuasi dari lokasi kejadian hingga ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSI Jemursari, Wonocolo, Surabaya, tubuhnya tetap tak bergerak.

Bukan meninggal, karena jantungnya tetap berdetak. Namun ia mengalami shock berat hingga pingsan karena luka retak di bagian tempurung kepala sisi kirinya.

Kondisi itu tak berubah meski pelbagai intervensi medis terus dilakukan oleh pihak dokter, hingga empat hari kemudiaan, di Minggu (9/2/2020) siang, Glenn tak kuat lagi menahan sakit.

Ia berpulang ke hadirat Sang Khalik, diiringi isak tangi ayahnya, Frangky Puttiray, lalu sesenggukan dari puluhan rekan sesama anggota organisasi daerah Maluku Satu Rasa (M1R) Kota Surabaya.

Tatapan mata Frengky sayu ditemui TribunJatim.com di ujung lorong kamar perawatan pasien yang terletak lantai dua RS tersebut.

Air mukanya tegas, apalagi kumis hitam tebalnya itu, kian kontras sibakkan pesona garang.

Tapi hal ikhwal itu tak bisa menipu kegundahan dan kesedihannya sebagai seorang bapak, yang ditinggal mati lebih dulu oleh sang anak.

Frengky menuturkan, sang anak sebelum meregang nyawa, mengalami dua kali fase kritis yang mengkhawatirkan para pembesuk.

"Dihari yang sama jam 06.00 WIB dan jam 08.00 WIB," katanya pada TribunJatim.com

Menurutnya, Glenn mengalami luka parah di bagian kepala, sehingga Tim Dokter terpaksa menerapkan intervensi medis; melepas sebagian tempurung kepala yang terkoyak.

"Menurut dokter itu, tempurung kepalnya diangkat, katanya banyak cairan," ujarnya.

Selama dalam pengawasan Tim Dokter, Glenn tetap dalam keadaan koma. Tak bergerak sama sekali dan tak merespon setiap rangsangan langsung dari setiap orang disekitarnya.

Dan kondisi itu dialami Glenn sejak pertama kali tubuhnya dibawa oleh mobil ambulan, empat hari lalu, Kamis (6/2/2020) dini hari.

"Tetap koma. Enggak bisa komunikasi sama sekali. Kondisi merem," tuturnya.

Namun ada yang aneh, ungkap Frengky, kelopak mata anak pertamanya yang menutup itu acap mengeluarkan air mata, yang berangsur-angsur membasahi pipi, lalu menetes ke bantal yang menopang kepalanya.

Saat semua orang di sekitarnya melantunkan nyanyian-nyanyian doa yang diiringi musik.

"Kami berdoa dan kami nyanyi semua air matanya aja yang menetes. Dia berjuang dengan sakitnya itu," ungkapnya.

Namun takdir berujar lain, Tuhan ternyata lebih menghendaki Glenn tetap abadi dalam kenangan dibenak orangtua, sahabat dan rekan sesama organisasinya.

Glenn akhirnya dinyatakan meninggal dunia, setelah empat jam melewati dua fase kritis.

"Kami masih besuk jam 10. Ah saya enggak pakai jam lagi, sehingga saya engga bisa pastikan. Jam 11 lebihlah," pungkasnya.(TribunJatim.com/Luhur Pambudi)

Artikel ini telah tayang di Tribunjatim.com dengan judul Kisah Sedih Korban Pengeroyokan Jelang Ajal, Keluar Air Mata Saat Dengar Nyanyian Doa, Kondisi Pilu

Editor: Radifan Setiawan
Video Production: Winda Rahmawati
Sumber: Tribun Jatim.com
VIDEO TERKAIT
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved