Travel

VLOG | Meriahnya Perayaan Cap Go Meh 2020 Pulo Kemaro, Palembang

Senin, 10 Februari 2020 00:02 WIB
TribunTravel.com

Laporan wartawan Tribunsumseltravel.com, Melisa Wulandari

TRIBUN-VIDEO.COM, PALEMBANG - Pulo Kemaro menjadi salah satu objek wisata andalan di kota Palembang.

Apalagi saat perayaan Cap Goh Meh, pulo kecil yang terletak di aliran sungai Musi Palembang ini selalu ramai dikunjungi.

Seperti Cap Goh Meh tahun ini, ribuan pengunjung memadati Pulo Kemaro yang terkenal dengan legendanya ini.

Pengunjung yang datang tak hanya masyarakat dari keturunan Tionghoa namun masyarakat lainnya juga turut mendatangi tempat keramat ini.

Tribun Sumsel Travel berkesempatan mengunjungi Pulo Kemaro melalui jalur darat, jadi pada saat perayaan Cap Goh Meh jalur darat dibuka.

Disediakan jembatan menggunakan ponton yang disusun di atas aliran sungai Musi.

Jalur darat ini melewat jalan yang berada di dekat pabrik Pupuk Sriwijaya, disarankan bagi kamu naik motor bila tak ingin kena macet.

Namun bisa menggunakan mobil pada saat malam harinya, karena saat perayaan seperti ini bisa ke Pulo Kemaro sampai malam dan jalur darat dibuka hanya 3 hari saja.

Nah, apabila Tribunners ingin mencoba jalur air atau menggunakan speed boat juga bisa.

Untuk ongkosnya cukup lumayan, Tribun Sumsel Travel sarankan pergi ke pulo Kemaro lebih enak kalau ramai mengajak sanak saudara atau teman-teman.

Speed boat bisa dicari di dermaga dekat Benteng Kuto Besak, banyak disitu yang menawarkan pergi ke Pulo Kemaro dengan menggunakan Speed boat (perahu cepat).

Biayanya berkisar Rp200.000,- sampai Rp250.000,-untuk yang datang sendiri atau yang kurang dari ber lima orang dengan jarak tempuh waktu sekitar 10 hingga 15 menit.

Kalau menggunakan perahu ketek biaya Rp300.000,- sampai Rp400.000,- per perahu dengan jumlah 10 orang dengan waktu tempuh 30-45 menit.

Semua biaya sudah termasuk pulang pergi.

Legenda Pulo Kemaro

ALKISAH, dua anak manusia berbeda etnis, Tan Bun An dan Siti Fatimah, jatuh cinta. Kisah mereka berakhir tragis di Sungai Musi, tetapi abadi dalam legenda Pulau Kemaro.

Kisah Tan Bun An dan Siti Fatimah terukir di sebuah prasasti bertanda Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Palembang yang berada di kompleks Kelenteng Hok Cing Bio di Pulau Kemaro, Palembang, Sumatera Selatan.

Diceritakan, Tan Bun An terjun ke Sungai Musi mengejar guci-guci berisi emas hadiah keluarganya di Tiongkok yang awalnya disangka hanya berisi sawi asin.

Saat ia tak kembali, pengawalnya menyusul terjun, tetapi juga tak terlihat lagi.

Dirundung resah, Fatimah, putri Palembang itu, menyusul kekasihnya terjun ke Sungai Musi dan tak pernah terlihat lagi.

Beberapa waktu kemudian, dari tempat sejoli itu terjun muncul pulau kecil yang tak tenggelam saat Musi pasang sekalipun.

Warga kemudian menamakannya Pulau Kemaro (Kemarau) karena selalu jauh dari jangkauan pasang Musi.

Inilah legenda asal mula pulau seluas sekitar 180 hektar itu.

(Tribunsumseltravel.com/Melisa Wulandari)

Editor: Panji Anggoro Putro
Video Production: Marsisca Puguh Setiari
Sumber: TribunTravel.com
VIDEO TERKAIT
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved