TribunnewsWIKI

Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus, Gereja dengan Nuansa Arsitektur Jawa dan Bercandi

Selasa, 4 Februari 2020 13:43 WIB
TribunnewsWiki

TRIBUN-VIDEO.COM - Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus atau yang juga dikenal dengan nama Gereja Ganjuran, merupakan gereja Katolik pertama yang didirikan di kabupaten Bantul.

Gereja Ganjuran didirikan pada tanggal 16 April 1924 oleh keluarga Schmutzer, yang memiliki sebuah pabrik gula di wilayah tersebut.

Selain gereja, dalam kompleks itu juga dibangun sebuah candi yang kemudian dikenal dengan Candi Ganjuran.

Kompleks Gereja dan Candi Ganjuran terletak kurang lebih 20 Km di sebelah selatan Kota Yogyakarta, tepatnya berada di Dusun Ganjuran, Desa Sumbermulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Bantul.

Sekarang ini, komplek Gereja Ganjuran telah dikenal oleh umat Katolik di Indonesia sebagai tempat ziarah yang bernuansa jawa.

Tidak banyak terdapat tempat ziarah umat Katolik yang memiliki nuansa budaya jawa, terlebih juga terdapat sebuah candi bergaya Hindu-Budha-Jawa sebagai tempat berdoa.

Sebagian besar tempat ziarah umat Katolik di Indonesia berbentuk Gua Maria.

Nuansa budaya Jawa yang digunakan Schmutzer dalam membangun kompleks Gereja Ganjuran merupakan bentuk proses inkulturasi.

Sebagai seorang yang beriman Katolik, keluarga Schmutzer ingin menghidupi imannya dalam konteks budaya di mana mereka tinggal.

Sejarah

Berdirinya Gereja dan Candi Ganjuran merupakan prakarsa dari keluarga Schmutzer.

Berdirinya sebuah gedung gereja di Ganjuran didasari oleh adanya kebutuhan tempat ibadah bagi para karyawan pabrik gula dan masyarakat sekitar Ganjuran.

Pembangunan gedung gereja ini menunjukkan bahwa keluarga Schmutzer tidak hanya memikirkan kesejahteraan masyarakat dalam bentuk ekonomi saja, namun juga perkembangan iman kekatolikan.

Sebagai orang Belanda yang jatuh cinta pada budaya Jawa, Schmutzer berkeinginan membuat sebuah gereja dengan corak Jawa.

Oleh karena itu, Schmutzer meminta izin kepada Tahta Suci untuk membangun gereja dengan corak Jawa.

Namun, hanya patung Altar Jawa dan patung Hati Kudus yang disetujui oleh Tahta Suci.

Bangunan gereja masih menggunakan gaya bangunan Belanda.

Pembangunan gereja berhasil diselesaikan pada tanggal 16 April 1924, namun baru beberapa bulan kemudian, tepatnya tanggal 20 Agustus 1924, Vicaris Apostolik Batavia Mgr. J. M van Velsen hadir di Ganjuran untuk memberkati altar.

Pada masa itu, inkulturasi dalam gereja Katolik belum menjadi sebuah hal yang lumrah, namun Schmutzer sudah mulai membangun gereja dengan memasukan unsur budaya Jawa.

Pembangunan gereja Ganjuran menjadi sejarah yang penting bagi proses inkulturasi budaya Jawa dalam iman kristiani.

Pada tahun 1934 Julius Schmutzer jatuh sakit dan harus mendapatkan perawatan serius, akhirnya keluarga Schmutzer memutuskan untuk kembali ke Negeri Belanda dan menetap di Arnhem.

Pengelolaan pabrik gula akhirnya diserahkan kepada seorang administrator yang ditunjuk oleh keluarga Schmutzer.

Kepergian keluarga Schmutzer berdampak bagi para katekis awam karena sebelumnya semua fasilitas didapat dari keluarga Schmutzer.

Tetapi hal itu tidak menjadi penghalang bagi para katekis untuk terus mengajar agama, mereka belajar secara mandiri di berbagai tempat.

Demikian pula dengan pastur yang berkarya di gereja Ganjuran, mereka tidak lagi mendapatkan fasilitas dari pabrik gula.

Ada 3 pastor yang berkarya di gereja Ganjuran sampai tahun 1934, yakni H. van Driessche, SJ, F. Strater, SJ, dan A. Djajaseputra, SJ.

Tahun 1934-1940 merupakan masa persiapan menjadi sebuah Paroki yang diperjuangkan oleh pastor A. Soegijapranata, SJ dan pastor A. Elfrank, SJ.

Namun, baru resmi menjadi sebuah Paroki pada tahun 1940 dengan pastor A. Soegijapranata, SJ menjadi Pastor Paroki yang pertama.

Seiring perkembangan umat Katolik yang besar, bangunan Gereja tidak lagi mampu menampung umat yang semakin banyak.

Pada tahun 1942, dilakukan perluasan gedung ke arah barat dengan panjang 15 meter oleh pastor Soegijapranata, SJ.

Pada tahun 1948, pabrik gula Gondang Lipuro, seluruh perumahan orang Belanda dan gudang-gudang yang terletak di Ganjuran dan sekitarnya dihancurkan.

Hal ini karena kedatangan pasukan sekutu untuk mengusai Indonesia kembali yang dikenal dengan istilah Clash II.

Namun Gereja, candi, rumah sakit dan sekolah-sekolah tidak dihancurkan.

Pada sebuah Arsip Nasional Belanda disebutkan bahwa ketika Revolusi 1947-1949, seluruh pabrik, rumah dihancurkan oleh para ekstrimis.

Namun, bagian dari misi, gereja, sekolah, rumah sakit tetap dilestarikan sebab ekstrimis menganggap itu bukan hak milik penjajah, tetapi hak milik orang Jawa.

Lokasi dan Bangunan

Gereja dan Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran beralamat di Jalan Ganjuran, Sumbermulyo, Bambanglipuro, Jogodayoh, Sumbermulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Gereja dan Candi Ganjuran ini adalah bangunan gereja tertua di wilayah administrasi Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Gereja dan Candi bernuansa budaya Jawa ini terletak kurang lebih 10 Km di sebelah barat Kabupaten Bantul.

Bangunan Gereja dan Candi Ganjuran ini cukup kental dengan nuansa Jawa.Terdapat sebuah relief pada altar gereja yang menggambarkan pepohonan, bunga-bunga, tiga burung pemakan bangkai dan dua rusa yang sedang minum dari sumber air yang memancarkan tujuh aliran air.

Terdapat juga dua buah patung malaikat dengan corak Jawa dalam posisi menyembah.Selain altar yang dibuat dengan corak Jawa, ada dua buah relief di kanan dan kiri gereja dengan bentuk relief Hati Kudus Yesus dan relief Ibu Maria.

Relief Hati Kudus Yesus digambarkan sebagai Raja Jawa yang bertahta di singgasana, sedangkan Relief Ibu Maria digambarkan sebagai ratu Jawa yang sedang menggendong Yesus yang masih kecil.

(*)

Artikel ini telah tayang di Tribunnewswiki.com dengan judul : Gereja dan Candi Hati Kudus Tuhan Yesus

Editor: Panji Anggoro Putro
Video Production: Fikri Febriyanto
Sumber: TribunnewsWiki
VIDEO TERKAIT
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved