TOP 5 HOAX OR FACT

TOP 5 HOAX OR FACT: Dari Cina Bangun Pangkalan Militer hingga Bertambah Kapal Ikan Asing

Senin, 20 Januari 2020 00:11 WIB
Tribun Video

TRIBUN-VIDEO.COM - Hai tribunners, kembali lagi nih sama kita berdua di Hoax or Fact This Week.

Kali ini kita bakal ngasih tau 5 deretan Hoax or Fact yang paling sering diomongin warganet.

5. Cina Membangun Pangkalan Militer di Natuna?

Polemik Natuna masih hangat diperbincangkan.

Belakangan ini Negara Cina dikabarkan membangun pangkalan militer di Natuna.

Kabar itu beredar di media sosial dan diunggah oleh sebuah akun di Facebook.

Dalam unggahan itu bernarasikan bahwa Cina berani memasuki wilayah Indonesia karena NKRI sudah dikuasai oleh Cina terbukti Cina sudah membangun pangkalan militer.

Presiden RI dinilai tidak bisa tegas karena Cina sudah memberikan banyak pinjaman, sehingga pulau demi pulau di Indonesia nantinya akan dikuasai oleh Cina.

Dalam unggahan itu juga terdapat gambar Pangkalan Militer Cina.

Keterangan pada gambar itu bertuliskan Wilayah Laut Cina Selatan sudah lama diperebutkan oleh Cina dan Negara Asean, Laut Natuna menjadi salah satu dari sekian daftar konflik di Laut Cina.

Setelah ditelusuri kabar itu tidak benar.

4. Beredar Unggahan Foto Ojek Online Dilarang Masuk Restoran, Berikut Faktanya

Beredar kabar larangan ojek online untuk masuk ke dalam sebuah restoran saat mengambil pesanan pelanggan.

Informasi itu dibagikan oleh aku Twitter @GojekOnTwitt beberapa waktu lalu

Dalam unggahan itu terdapat foto yang menunjukan tulisan peringatan yang ditempel pada pintu kaca restoran.

Kikutip dari Kompas.com Supervisor Kalture Progressive Cafe dan Resto, Aang mengatakan hal itu merupakan kesalahpahaman.

Kertas peringatan itu tidak bertujuan melarang para ojek online masuk. Melainkan mengimbau agar para ojek online tidak masuk ke area tengah pengunjung makan.

Para ojek online yang akan mengambil pesanan diberikan tempat untuk menunggu pesanan.

Ruang tunggu yang disediakan untuk ojek online itu berada dalam bangunan restoran dengan ukuran 2x3 meter dilengkapi dengan bangku kayu.

Imbauan dari pihak restoran kepada para ojek online untuk tidak masuk ke ruang tengah ,lantaran takut mengganggu tamu yang sedang makan.

Pasalnya, ojek online yang masuk kedalam ruang makan membuat tamu merasa tidak nyaman.

Pihak Restoran juga telah menyampaikan permintaan maaf kepada pihak terkait, terutama ojek online yang tersinggung dengan pemberitahuan tersebut.

3. Beredar Kabar Ketua KPU Arief Budiman Disuap Megawati Rp2 Triliun?

Baru-baru ini beredar di media sosial kabar mengenai Megawati menyuap ketua KPU Arief Budiman sebesar 2 triliun.

Namun, menurut penelusuran Tribun Video kabar tersebut tidak benar.

Dikutip dari Kompas.com, Ketua Komisi Pemilihan Umum Arief Budiman memang mengaku kerap mendapatkan ancaman selama penyelenggaraan Pemilu 2019.

Dijelaskan, ancaman itu biasanya dilayangkan melalui SMS di ponsel pribadinya.

Menghadapi hal tersebut, Arief mengaku tak ambil pusing, lantaran menurutnya ancaman tersebut adalah respons yang lumrah terjadi.

Namun, Ketua KPU itu tidak pernah membuat pengakuan bahwa dirinya disuap sebesar Rp2 triliun oleh Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri untuk memenangkan PDIP di kontestasi 2019.

Gambar yang disertakan pengunggah di media sosial itu sebelumnya pernah diberitakan oleh cnnindonesia.com pada tangal 13 Juni 2019 dengan judul "Ketua KPU Mengaku Dapat Ancaman Selama Pemilu 2019".

Namun sekali lagi, kabar mengenai Arief Budiman disuap sebesar Rp2 triliun oleh Megawati itu tidak benar.

Lantaran pengunggah kabar di media sosial tersebut memotong tangkapan layar dari artikel yang berjudul "Ketua KPU Mengaku Dapat Ancaman Selama Pemilu 2019".

2.Beredar Video Proses ‘Pembantaian’ Jenderal Qassem Soleimani?

Video ini ramai seusai diunggah oleh salah satu warganet di Twitter, pada Selasa (7/Jan/2020).

Dalam unggahan tersebut juga dilengkapi dengan keterangan yang mengatakan bahwa, sistem kontrol dan monitor pada drone terpisah dengan kokpit, yang biasa disebut ground control station (GCS).

Namun, menurut penelusuran Tribun Video kabar tersebut tidak benar.

Dikutip dari Indiatoday.in, video yang beredar luas tersebut merupakan rekaman permainan "AC-130 Gunship Simulator: Special Ops Squadron".

Pasalnya, setelah ditelusuri ke beberapa situs web, terdapat video serupa di kanal Youtube Byte Conveyor Studios.

Video yang telah diunggah pada kanal Youtube tersebut berdurasi 41 detik.

Bahkan, pada situs itu memiliki tutorial tentang cara membuat video dengan tampilan kamera inframerah.

Dijelaskan sebelumnya, Qassem Soleimani terbunuh akbat serangan udara Amerika Serikat di Bandara Internasional Baghdad.

Namun, video yang beredar luas di media sosial itu adalah video game dan tidak ada hubungannya dengan pembunuhan Qassem Soleimani.

1. Pasca-kunjungan Jokowi ke Natuna, Kapal Ikan Asing Semakin Bertambah?

Perihal Laut atau Perairan Natuna masih hangat diperbincangkan.

Berkaitan dengan hal tersebut, belakangan ini beredar kabar bahwa kapal ikan asing semakin bertambah pasca kunjungan Jokowi di Natuna.

Kabar itu beredar di media sosial dan diunggah oleh sebuah akun di Facebook. Pemilik akun menyertakan gambar berupa tangkapan layar sebuah artikel yang berjudul “Paska-Kunjungan Jokowi di Natuna, Kapal Ikan Asing Malah Semakin Bertambah”.

Dalam keterangan unggahannya, pemilik akun menuliskan “bagi Jokowi, kapal komunis Cina itu tidak melanggar batas wilayah, sehingga Cina semakin berani dan kurang ajar merampok ikan di Wilayah Indonesia”.

Setelah ditelusuri kabar tersebut tidak benar. Kapal ikan asing bukan bertambah, namun masih ada di sekitar Pulau Natuna.

Dikutip dari regional.kompas.com, setelah kunjungan Presiden RI Joko Widodo dan gelar pasukan TNI di Pulau Natuna pada Rabu (08/01/2020), keberadaan kapal ikan asing di perairan tersebut masih ada.

Hal itu terbukti dari pantauan udara yang dilakukan TNI menggunakan pesawat intai maritime Boeing 737 AI-7301.

Panglima Komando Gabungan Wilayah I, Laksda TNI Yudho Margono menjelaskan bahwa ada sekitar 30 kapal ikan asing yang masih menduduki Laut Natuna bagian utara.

Mengetahui adanya temuan itu, Yudho menginstruksikan tiga kapal perang, yaitu KRI Karel Satsuit Tubun (KST) 356, KRI Usman Harun (USH) 359, dan KRI Jhon Lie 358, untuk melakukan upaya pengusiran.

Yudho juga mengatakan akan menggunakan langkah persuasif terlebih dahulu untuk mengusir kapal ikan asing tersebut.

Jika upaya itu tidak kembali dihiraukan, maka ia menegaskan akan melakukan penegakan hukum seusai ketentuan yang berlaku.(*)

Editor: Radifan Setiawan
Videografer: Aprilia Saraswati
Video Production: Radifan Setiawan
Sumber: Tribun Video
VIDEO TERKAIT
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved