Wiki On The Spot

Wiki On The Spot - Waruga Maumbi, Cagar Budaya Peninggalan Zaman Megalitikum di Minahasa Utara

Sabtu, 30 November 2019 07:09 WIB
TribunnewsWiki

TRIBUN-VIDEO.COM - Waruga menurut buku Waruga, Peti Kubur Batu dari Tanah Minahasa Sulawesi Utara, Balai Arkeologi Sulawesi Utara, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2016 merupakan peninggalan budaya megalitik (batu besar).

Waruga merupakan peti kubur batu (stone cist).

Peti kubur batu seperti waruga hanya ditemukan di Gunung Kidul (Jawa Tengah), Tegurwangi (Sumatera Selatan) dan Tanah Minahasa.

Budaya megalitik menyebar ke wilayah Indonesia melalui dua cara. Pertama, melalui jalur barat yang masuk ke wilayah Indonesia bagian barat, dan jalur utara yang masuk ke wilayah Indonesia bagian timur.

Budaya Megalitik di Sulawesi Utara tampaknya masuk ke daerah ini melalui jalur utara yang menyebar ke wilayah Indonesia bagian timur.

Kebudayaan megalitik di tanah Minahasa dapat diuraikan sebagai berikut

1. Kebudayaan megalitik di Tanah Minahasa memiliki kaitan erat dengan kebudayaan megalitik yang berkembang dan menyebar di wilayah Nusantara bahkan di Asia.

Peninggalan kebudayaan tersebut antara laib kubur batu, lumpang batu, menhir, arca batu, altar batu, batu dakon, kubur tebing batu dan lain sebagainya

2. Peti kubur batu waruga di Tanah Minahasa merupakan bagian dari kebudayaam megalitik yang menyebar dan berkembang di Indonesia melalui jalur utara.

Diperkirakan waruga atau kebudayaan megalitik itu masuk ke Tanah Minahasa melalui utara, sejak lebih dari 2000 tahun lalu, kemudian menyebar ke selatan.

3. Pada awalnya waruga masuk ke Sulawesi Utara melalui Minahasa Utara yaitu dari daerah Likupang atau daerah-daerah di sekitarnya.

Lalu menyebar di daerah Tonsea dan terus berkembang ke Kabupaten Minahasa, Kota Tomohon, Kabupaten Minahasa Selatan dan Kabupaten Minahasa Tenggara.

Fungsi

Waruga merupakan perlengkapan penguburan atau tempat untuk menguburkan mayat.

Buddingh, Graafland dan Bertling menyebutkan pada masa lalu di Tanah Minahasa, waruga terletak di belakang atau sekitar rumah penduduk.

Di setiap rumah penduduk biasanya terdapat satu waruga atau lebih dan biasanya dipakai untuk menguburkan beberapa orang.

Waruga juga berfungsi sebagai salah satu perlengkapan upacara pada sistem kepercayaan dari masyarakat pendukung budaya atau tradisi megalitik yang mengenal pemujaan pada nenek moyang.

Waruga juga menjadi media atau sarana bagi masyarakat untuk berkomunikasi dengan roh leluhur dalam rangka memohon keselamatan atau sebagai wujud penghormatan masyarakat kepada leluhur.

C. Pertanggalan waruga

Bertling menyebut ada waruga berumur tua dan berumur muda.

Yang tua ditandai dengan kurangnya hiasan pada wadah maupun tutup waruga.

Yang muda ditandai hiasan manusia yang menyandang pakaian model pakaian Cina.

Penggunaannya bisa dimulai sejak abad keempat Sebelum Masehi (BC) sampai awal abad 20 Masehi (AD).

Riedel memperkirakan wadah kubur batu sudah ada sejak abad ke-10 yaitu tiga abad setelah ada peristiwa Malesung di Watu Pinawetengan.

Hadimuljono dan kawan-kawan mengatakan tradisi ini berlangsung sampai abad ke-19 di mana ada bukti adanya waruga yang mencantumkan angka tahun.

FEW Parengkuan menyebut waruga ditinggalkan sekitar tahun 1892 karena wabah kolera.

Marbun mengatakan pendapat Hadimuljono dan Parengkuan didukung Jessi Wenas bahwa tradisi penguburan waruga berlangsung sampai masa pengaruh Belanda hingga awal abad ke-20.

D. Deksripsi

Berdasar hasil laboratoris (petrologi) untuk waruga Desa Sawangam dan Woloan

Jenis : batuan sedimen (batuan beku)

Warna segar: abu-abu keputihan

Warna lapuk : coklat keabu-abuan

Tekstur : klastik

Ukuran butir : 1/2-1 mm (arenit)

Sortasi : sedang

Struktur : tidak berlapis

Bentuk : sub rounded

Komposisi mineral : kuarsa, feldspard, dan glass vulkanik,

nama batuan : tufa atau lava basal

Bentuk waruga (wadah): bentuk kotak (kubus), bentuk persegi panjang, bentuk persegi panjang tidak beraturan, bentuk elips, bentuk bulat (silinder), bentuk persegi delapan.

Tutup waruga : bentuk segitiga, bentuk segi empat (limas), bentuk trapesium, bentuk segi delapan, bentuk kerucut, bentuk bulat, bentuk persegi panjang berundak (tidak beraturan)

Hiasan: pola hias motif binatang (fauna), pola hias motif manusia (dalam berbagai bentuk), pola hias motif tumbuhan (flora), pola hias motif kombinasi dan pola hias motif jumbai/buah kabalas/kendi.

E. Penyebaran Waruga

Kota Manado : Kelurahan Pinaesaan, Mahakeret Barat dan Winangun 1

Kabupaten Minahasa Utara : Desa Likupang I, Desa Likupang II, Desa Batu, Desa Kokoleh I, Desa Kokoleh II, Desa Wangurer, Desa Paslaten, Desa Laikit, Desa Tatelu, Desa Matungkas, Desa Tetey, Desa Maumbi, Desa Kawangkoan, Desa Kuwil, Desa Suwaan, Desa Sukur, Desa Airmadidi Bawah, Desa Rap-Rap, Desa Sawangan, Desa Tanggari, Desa Kauditan I, Desa Taountalete, Desa Kema II, Desa Kema III, Desa Tumaluntung, Desa Kaima, Desa Treman, Desa Kawiley, Desa Kaasar, Desa Karegesan, Desa Lembean, Desa Kema II, Desa Kema III, Desa Talawaan, Desa Kolongan, Desa Mapanget.

Kota Tomohon: Kinilow, Kakaskasen I, Kakaskasen II, Kakaskasen III, Kayawu, Taratara, Woloan I, Woloan II, Woloan III, Matani III, Kolongan, Kolongan I, Talete, Lansot, Lahendong.

Kabupaten Minahasa Induk : Desa Kali Selatan, Desa Kali, Desa Pineleng Dua, Desa Lotta, Desa Winangun Atas, Desa Koka, Desa Sawangan, Desa Ranowangko, Desa Sarani Matani, Desa Senduk, Desa Lemoh, Desa Lolah II, Desa Parepey, Desa Talikuran, Desa Tataaran, Desa Kiniar, Desa Roong, Desa Kapataran, Desa Kayuuwi, Desa Kiawa I, Desa Kiawa II, Talikuran Timur, Uner, Talikuran Utara, Timbukar, Kolongan Atas, Koya, Walantakan, Tounelet

Minahasa Selatan: Desa Talikuran, Desa Tolok, Desa Sendangan, Desa Rumoong Bawah, Desa Wuwuk Barat, Desa Lansot, Desa Kaneyan, Desa Kapoya, Desa Kapoya I, Desa Suluun Dua, Desa Tangkuney, Desa Lelema, Desa Popontolen, Desa Matani, Desa Tumpaan I, Desa Paslaten, Desa Lopana, Desa Popareng, Desa Rap-Rap, Desa Radey, Desa Rumoong Bawah

Kabupaten Minahasa Tenggara: Desa Palamba,

F. Waruga Desa Maumbi, Kabupaten Minahasa Utara

Desa Maumbi berada di ruas jalan Kecamatan Kalawat.

Berada pada posisi koordinat N 01 derajat 28.921' dan E 124 derajat 54.200'.

Penduduk asli wilayah ini dikenal dengan sebutan orang Tonda (orang dengan darah).

Ditemukan komplek waruga yang berjumlah 21 buah, terbagi di dua lokasi berdekatan, 14 buah diletakkan berjejer pada halaman depan kantor kepala Desa Maumbi dan tujuh buah lainnya berada dalam kompleks pekuburan desa.

Menurut keterangan penduduk, waruga tersebut dikumpulkan dari perkebunan penduduk di sekitar wilayah desa.

Waruga pada situs Maumbi ini termasuk unik karena pola hias tidak saja terdapat pada bagian tutup tetapi juga terdapat di bagian wadah, karena kebanyakan hiasan pada waruga hanya ditemukan di bagian tutup saja.

(TRIBUNNEWSWIKI/David Manewus)

Editor: Aprilia Saraswati
Video Production: Panji Anggoro Putro
Sumber: TribunnewsWiki
VIDEO TERKAIT
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved