Terkini Daerah

Ini Alasan Mengapa Warga Solo Rela Susah Payah Berebut Gunungan di Grebeg Mulud

Sabtu, 9 November 2019 16:24 WIB
TribunSolo.com

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Adi Surya Samodra

TRIBUN-VIDEO.COM - Peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad ditandai dengan Hajaddalem Garebeg Mulud Wawu 1953, Sabtu (9/11/2019).

Di acara ini, jangan heran melihat antusiasme warga Solo berebut gunungan yang disediakan pihak Keraton Surakarta Hadiningrat.

Tua atau muda, semua berebut gunungan.

Ya, zaman sudah modern, tapi kebiasaan warga untuk berebut makanan di gunungan, yang nilai ekonomisnya 'tak seberapa' itu, masih saja ada.

Sebanyak sepasang Gunungan Jalu dan Gunungan Estri diperebutkan ratusan masyarakat dalam acara itu.

Lalu, mengapa warga Solo rela berebut gunungan?

Salah seorang warga asal Sukoharjo, Rayem mendapat bambu penyangga hiasan gunungan.

Menurutnya, bambu itu bisa digunakan untuk kandang ayam ataupun tusuk sate.

"Ini untuk menolak kesialan," tutur Rayem kepada TribunSolo.com, Sabtu (9/11/2019).

"(Sekaligus) buat berkah keselamatan untuk keluarga," tambahnya.

Seorang warga lain, Alex menuturkan ia mendapat cuilan intip, sebuah makanan berbahan dasar nasi.

Cuilan itu didapatkannya seusai rebutan Gunungan Estri dengan warga lainnya.

Alex mengaku senang mendapatkan intip itu dan akan menyimpannya di rumah.

"Seneng karena orang Jawa kayak gini, orang bilang malah berkah, dapet gunungan minta apa-apa terkabul," aku Alex.

"Dapat intip, disimpen aja di rumah, dipasang di atas pintu," imbuhnya.

Ia berharap intip yang didapatkannya bisa menjadi berkah untuk keluarganya.

"(Semoga) berkah untuk anggota keluarga," ucap warga asal Klaten itu.

Alex menuturkan jari kelingkingnya terluka saat rebutan gunungan.

"Kena bambu tadi, ya jari kelingking ini," tutur Alex.

Berkah

Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat mengadakan Hajaddalem Garebeg Mulud Wawu 1953, Sabtu (9/11/2019).

Acara tersebut dilakukan dalam rangka memperingati kelahiran Nabi Muhammad.

Sebanyak dua pasang Gunungan Jalu dan Gunungan Estri diarak dalam acara itu.

Keempat gunungan diarak dari Kori Kamandungan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menuju halaman Masjid Agung Surakarta.

"Mensedekahkan dua gunungan ke masyarakat, dua gunungan dibawa ke keraton serta didoakan untuk dibagikan ke keluarga dan para abdi dalem," ujar Sekretaris Masjid Agung, Abdul Basid kepada wartawan, Sabtu (9/11/2019).

Sepasang Gunungan Jalu dan Gunungan Estri tidak ikut dibawa ke keraton.

Kedua gunungan itu diletakkan di halaman Masjid Agung untuk direbutkan masyarakat.

Abdul menuturkan, gunungan itu bermakna istimewa bagi masyarakat yang percaya.

"Semakin banyak gunungan yang dikeluarkan oleh raja menandakan pada tahun ini mendapat berkah rejeki yang melimpah," tutur Abdul.

"Nikmatnya Allah yang diberikan ke raja dituangkan kepada para abdi dalem dan masyarakat Kota Solo," tandasnya.

Pangarsa Mandra Budaya Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, KRA Tejo Bagus Budayanagoro menuturukan keempat gunungan yang diarak melambangkan wujud syukur atas peringatan kelahiran Nabi Nuhammad.

"Wujud syukur agung yang diberikan kepada masyarakat Kota Solo, ikut meramaikan, ikut bersyukur," terang Tejo.

"(Sekaligus) raja memberikan penghargaan kepada masyarakat," tandasnya. (*)

Artikel ini telah tayang di Tribunsolo.com dengan judul Grebeg Mulud, Ini Alasan Mengapa Warga Solo Rela Susah Payah Berebut Gunungan, Bahkan Sampai Terluka

ARTIKEL POPULER: 

Baca: Keseruan Tangerang Menyambut Maulid Nabi, Rebutan Makanan di Gunungan

Baca: Pawai Panjang Jimat Peringatan Maulid Nabi Muhamad SAW

Baca: Presiden Jokowi Hadiri Acara Maulid Nabi Muhammad di Alun-alun Kajen

Editor: Purwariyantoro
Video Production: Dita Dwi Puspitasari
Sumber: TribunSolo.com
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved