Tribunnews Wiki

Tembakau Deli Medan, Tembakau Khas yang Sulit Dibudidayakan di Luar Daerah Sumatera Utara

Sabtu, 9 November 2019 08:31 WIB
TribunnewsWiki

TRIBUN-VIDEO.COM - Tembakau Deli tidak banyak ditemukan dan dibudiyakan di seluruh kawasan Indonesia, hanya kawasan dengan kondisi geografis tertentu yang bisa ditanami tembakau Deli.

Kecamatan Hamparan Perak Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara, dikenal sebagai pusat produksi tembakau Deli.

Saat ini pengelolaan tembakau Deli dibawah PT Perkebunan Nusantara (PTPN) 2 , Sumatera Utara.

Para pekerja didominasi perempuan sebagai pengolah tembakau Deli, dengan tujuan meneruskan tradisi yang pernah mencetak sejarah tembakau di dunia.

Rata-rata pekerja sudah bekerja lebih dari 30 tahun, dan masih bertahan mengolah tembakau untuk bahan baku cerutu berkualitas ekspor ke Eropa terutama Bremen Jerman.

Para pekerja perempuan ini biasanya melakukan pemeraman tembakau, pemeraman tembakau sendiri memiliki arti pengeringan daun tembakau.

Pengeringan daun tembakau tersebut nantinya untuk bahan baku cerutu, dengan proses awal fermentasi.

Namun saat ini produksi tembakau menurun, lantaran banyak lahan yang kemudian beralih fungsi menjadi tanaman lain.

Sejarah

Jacobus Nienhuys datang ke Sumatera Timur tahun 1863, 6 tahun kemudian mendirikan perusahaan Deli Tabaks Maatschappij.

Jacob Nienhuys dan Peter Wilhelm Janssen mendirikan usaha tembakau di Sumatera Timur, karena tembakau Medan digemari penikmat cerutu di Eropa dan sebagai bahan baku cerutu.

Perkebunan tembakau di Sumatera tahun 1870-1979 dilaporkan sudah mencapai 169 kebun tembakau, sementara di Sumatera Timur mulai berkembang perkebunan tembakau sejak tahun 1889.

Ribuan warga China, India, dan Jawa kemudian beramai-ramai datang ke Medan, guna menjadi tenaga kerja industri tembakau.

Berbagai bangsa akhirnya hidup dan menetap di Medan.

Dalam catatan Jan Bremen sering sekali warung di Medan dikunjungi tujuh orang tamu mewakili bangsanya, yakni: Belanda, Jerman, Denmark, Inggris, Swiss, dan Norwegia.

Perkebunan tembakau yang terus berkembang, membuat Medan tumbuh sebagai kota metropolitan kelas dunia.

Tercatat tahun 1930 sekitar11.000 orang Eropa tinggal di Pantai Timur Sumatera, dan banyak yang bekerja di industri perkebunan tembakau.

Negara Belanda, Inggris, Perancis, dan Jerman tercatat sebagai investor besar perkebunan tembakau di Sumatera Timur pada periode 1913-1932.

Sarana dan prasarana mulai berdiri seperti: perkantoran, hotel, bank, kantor pos, sekolah, pasar, dan stasiun kereta api.

Beberapa bangunan tersebut masih berdiri di Medan, meski juga banyak bangunan bersejarah tersebut yang sudah beralih fungsi.

Tembakau membuat Medan tumbuh dengan budaya masyarakat Eropa, mengakibatkan daerah di sekitarnya tumbuh menjadi pusat pertanian sesuai kebutuhan masyarakat Eropa di Medan.

Namun perkebunan tembakau tidak bisa ditanam di seluruh Sumatera, tanaman keras ini hanya cocok ditanam di Medan dan Langkat.

Profil Pekerja

Pekerja perkebunan tembakau Deli pada masa colonial, didominasi pekerja dari Tionghoa.

Perusahaan perkebunan Deli lebih memilih pekerja Tionghoa, karena dikenal pekerja keras dan tekun.

Jan Breman mencatatkan sebelum matahari terbit para pekerja sudah berada di lading untuk merawat tembakau muda, menyiram, mencari ulat daun tembakau, atau membuka lahan baru.

Mereka terbiasa bekerja sampai matahari terbenam dengan istirahat 2 jam di siang hari, bahkan malam hari mereka masih sibuk mengurus tembakau.

Masyarakat Tionghoa bisa saja merupakan pekerja yang tak simpatik, karena kesukaanya berteriak dan rebut.

Tetapi setiap tuan kebun harus menghormati mereka karena telah memiliki tenaga kerja dan prestasi kerja yang luar biasa.

Anthony Reid menyatakan pemerintah Tionghoa yang progresif menentang emigrasi warganya ke Sumatera Timur.

Pernyataan muncul setelah merebaknya berita eksploitasi yang dialami buruh Tionghoa di Deli.

Imbasnya adalah biaya pengangkutan buruh Tionghoa menjadi meningkat, dan perusahaan perkebunan tembakau Deli lebih memilih buruh Jawa dengan biaya murah.

Dominasi masyarakat Tionghoa di Sumatera Timur meningat di tahun 1930, sebagai pendatang terbanyak di Sumatera Timur.

Sebuah komunitas yang berimbang muncul, terdiri dari pedagang, petani, nelayan, dan penebang kayu.

Menurunya Produksi

Tembakau Deli mengalami kemerosotan, semenjak nasionalisasi seluruh aset pemerintah asing di tahun 1957.

Asset perusahaan yang tersisa Deli Maatschappij dengan 16 kebun dan Senembahan Maatschappij dengan 6 kebun, dibawah PTPN II di tahun 1965.

Meskipun merugi, perkebunan tembakau Deli di Medan tetap dilestarikan, karena merupakan tanaman bernilai sejarah tinggi.

Masalah harga tembakau yang sangat murah dan biaya produksi tinggi, pelelangan tembakau yang awalnya berada di Bremen Jerman dialihkan di kebun Tandem, Binjai Sumatra Utara untuk menghemat biaya.

Tembakau Deli kualitas 2 dijual ke Malaysia, Denmark, dan Jerman sedangkan tembakau kualitas 3 dijual ke Amerika Serikat sebagai tembakau suntil.

(TribunnewsWiki)

Artikel ini telah tayang di Tribunnewswiki.com dengan judul: Tembakau Deli Medan.

ARTIKEL POPULER:

Baca: Petani Tembakau di Sinjai Sambut Gembira Wacana Kenaikan Harga Rokok

Baca: Kondisi Tanaman Tembakau di Dekat Proyek Tol Semarang-Batang Memprihatinkan

Baca: Harga Panen Tembakau di Klaten Terus Mengalami Kenaikan

TONTON JUGA:

Editor: Teta Dian Wijayanto
Video Production: Panji Anggoro Putro
Sumber: TribunnewsWiki
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved