Local Experience
Taman Eden 100, Geosite dengan Batu dari Zaman Mesozoikum
Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru
TRIBUN-VIDEO.COM - Di tepi ruas jalan raya Parapat-Balige, sekitar 190 km dari Medan ke Tarutung (dari Kota Wisata Parapat sekitar 17 km ke arah Balige), terpampang satu plang berukuran besar bertuliskan ‘Taman Eden 100’.
Persisnya terletak di Desa Lumbanrang, Kecamatan Lumbanjulu, Kabupaten Toba, Sumatra Utara.
Taman Eden 100 merupakan geosite; situs warisan geologi, yakni objek dalam kawasan geopark dengan ciri khas tertentu, baik individual maupun multiobjek dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sebuah cerita evolusi pembentukan suatu daerah.
Taman Eden sendiri adalah botanical garden, mengandung unsur geologi dan biologi, memiliki berbagai koleksi tumbuhan-tumbuhan andemik Toba, seperti Andaliman, Anggrek Toba, serta strawberry, jeruk, bunga-bungan dan banyak lainnya.
Tak kalah istimewa, di sini terdapat batu-batuan dari zaman Mesozoikum yang diperkirakan telah berusia 300 juta tahun.
Mengambil Filosofi Taman Eden di Al-Kitab Nats Kej. 2:15; ‘usahakan dan lestarikanlah bumi’, Taman Eden 100 didirikan pada akhir 1998 dan mulai dibuka untuk umum setahun berselang.
Pengelola Taman Eden 100, Marandus Sirait, menjelaskan di Taman Eden ini, sebagaimana filosofi tadi, manusia, tumbuhan, dan hewan dapat hidup berdampingan dengan damai. Ada pun angka ‘100’, dijelaskannya, bertitik tolak dari jumlah tumbuhan yang dibudidayakan.
“Geosite Taman Eden 100 memiliki luas kurang lebih 50 hektare. Selain tumbuhan-tumbuhan endemik yang kita tanam, di sini kita juga memberikan kesempatan kepada pribadi, kelompok, atau organisasi untuk menanam tumbuhan dan selanjutnya melakukan pemeliharaan,” katanya kepada Tribun.
Sejumlah nama sohor memiliki “pohon pribadi di sini, di antaranya dua Presiden RI, yakni presiden keempat Megawati Sukarnoputri dan presiden kelima dan keenam Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
“Di era Presiden SBY Taman Eden 100 mendapatkan penghargaan Kalpataru. Kemudian ada juga penghargaan Buana Lestari dan pin emas dari Universitas Gajah Mada. Tempat ini sudah menjadi percontohan kecil di kawasan Danau Toba di dalam pemulihan ekosistem,” katanya.
Selain tumbuhan, keberadaan air terjun menjadi daya tarik tak kalah besar dari Taman Eden.
Terdapat tiga air terjun di kawasan ini. Air terjun pertama terdiri dari dua tingkat dengan ketinggian sekitar 15 meter. Air terjun kedua lebih tinggi lagi. Tujuh tingkat dengan debit air lebih deras.
Untuk mencapainya terbilang lebih sulit tapi sangat menantang untuk ditaklukkan.
Adapun air terjun ketiga dinamakan Air Terjun Gua Kelelawar karena memang terletak tak jauh dari gua bernama sama.
Dinding-dinding batu di balik air-air terjun Taman Eden inilah yang yang ditengarai sudah ada sejak zaman Mesozoikum.
Bahkan pada referensi lain disebut sejak dari era Palaezoikum (250 juta-550 juta tahun).
Untuk biaya masuk boleh dibilang sangat ekonomis. Hanya dengan Rp 10 ribu per-orang sudah bisa menikmati pemandangan alam, melakukan trekking, memetik buah dan mandi-mandi di air terjun.
Setelah puas berkeliling, jangan lupa menikmati kopi di tengah rindangnya hutan.
umatra Ridges, warung kopi bernuansa vintage yang menjual kopi asli dari petani lokal.
Made, pengelola warung sekaligus peracik kopi Sumatra Ridges, mengatakan biji-biji kopi yang mereka jual diproduksi di kawasan perladangan di Kecamatan Lumbanjulu.
“Jenisnya kopi robusta. Untuk saat ini Sumatra Ridges menjual kopi-kopian dan beberapa snack produksi UMKM lokal,” ucapnya.(*)
Video Production: Damara Abella Sakti
Sumber: Tribunnews.com
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.