Selasa, 12 Mei 2026

Travel

Monumen Perang Dunia II di Manado, Dibangun dari Abu Jenazah Korban PD II

Jumat, 22 November 2019 17:13 WIB
Tribun Manado

Laporan Wartawan Tribunmanadotravel.com, Paschalis Serty Canny Widarsi

TRIBUN-VIDEO.COM - Siapa sangka Kota Manado merupakan salah satu kota yang menjadi saksi Perang Dunia II (PD II) di tahun 1945.

Buktinya, sebuah monumen dibangun di daerah Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) Sentrum Manado, Sulawesi Utara untuk mengenang para korban yang gugur saat insiden pengeboman.

Monumen itu dikenal dengan nama Monumen Kenangan Perang Dunia II.

Dibangun tahun 1946-1947 oleh Sekutu/NICA, monumen tersebut belum dapat diresmikan menjadi prasasti karena pada saat itu terjadi peralihan pemerintahan dari Sekutu ke Jepang.

Monumen ini berada persis di sisi kiri Gereja Sentrum dan masih dalam satu kawasan.

Menurut koster (pengurus gereja), Mervi Watung, pada tahun 1930-1946 Gereja Sentrum berada di lokasi Monumen PD II, namun dibom oleh tentara Jepang dan hancur tidak bersisa.

Sebelum dibom, Gereja Sentrum diberi nama de Groote Kerk atau Gereja Besar Manado.

Monumen PD II memiliki tinggi 40 meter, dan empat buah pilar yang menyangga sebuah kubus dilengkapi dengan empat buah roda di setiap sisinya.

Kubus di bagian teratas dari monumen ini ternyata bukan sebuah kubus biasa, kubus tersebut dibangun dari campuran beton dan abu jenazah para korban perang yang sudah dikremasi.

Sedangkan empat buah roda yang berada di bawah kubus melambangkan roda penghubung antara manusia dengan Sang Pencipta.

"Saat itu terjadi kekerasan, sehingga kita diingatkan untuk terus berdoa kepada Sang Pencipta," kata Mervi.

Keempat pilar tersebut juga memiliki makna filosofis, yaitu penggambaran dari empat arah mata angin, utara, timur, barat, dan selatan.

Jadi tidak mengherankan jika Anda melihatnya dari keempat sisi yang berbeda maka bentuk yang akan dilihat pun sama.

Secara umum menurut informasi yang ada di monumen, keempat pilar dan kubus merupakan simbol penyerahan arwah kepada Tuhan.

Seiring berjalannya waktu, pihak Gereja mulai menambahkan sebuah salib di bagian depan Monumen PD II.

Menurut Mervi, monumen tersebut belum terdaftarkan sebagai cagar budaya, tetapi Gereja Sentrum sudah.

"Secara otomatis Monumen ini sudah jadi cagar budaya karena berada di kawasan Gereja," tuturnya.

Di dekat Monumen PD II terdapat sebuah makam zaman Megalitik (zaman batu) yang disebut Waruga.

Mervi berkata dengan adanya waruga membuktikan bahwa sejak dulu sudah ada kehidupan di daerah Gereja Sentrum.

Meski terlihat sepi, namun ternyata monumen ini sudah menjadi salah satu tujuan destinasi wisata terutama bagi turis Cina.

Sekira pukul 16.00 Wita beberapa buah bus wisata yang membawa rombongan turis Cina datang untuk melihat dan berfoto di depan monumen tersebut.

Monumen tersebut tampak dikelilingi oleh pembatas rantai besi dan terdapat sebuah papan informasi mengenai sejarah dan makna dari monumen itu.

Perawatan Monumen PD II sendiri merupakan tanggung jawab dari Pemerintah Kota Manado, namun pihak Gereja juga ikut menjaga dan melestarikan monumen tersebut.(*)

Editor: fajri digit sholikhawan
Sumber: Tribun Manado

Tags
   #Perang Dunia II   #Manado

Video TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved