Selasa, 9 Juni 2026

Local Experience

Kisah Pengusaha Wayang Kulit yang Bertahan hingga Tiga Generasi di Yogyakarta

Senin, 8 Juni 2026 08:48 WIB
Tribun Jogja

Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru

TRIBUN-VIDEO.COM - Yogyakarta dikenal sebagai kota budaya yang kaya akan tradisi dan seni, salah satunya wayang kulit. 

Kesenian ini telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Jawa, bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media penyampai nilai moral, spiritual, dan sosial.

Di balik gemerlap pertunjukan wayang kulit, terdapat proses panjang dan penuh ketelatenan yang jarang tersorot. 

Dokumenter ini mengajak penonton menyelami kehidupan para pengrajin wayang di Yogyakarta, salah satu pusat pelestarian seni dan budaya Jawa.

Salah satu pengrajin yang masih bertahan hingga tiga generasi adalah UMKM Pandu Wijaya, milik Pak Mujiyono, yang berlokasi di Jalan Pucung, Karang Asem, Wukirsari, Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Usaha ini awalnya dirintis oleh ayah Pak Mujiyono. Ayahnya dahulu merupakan pengrajin wayang di rumah Pak Lurah Wukirsari. 

Pak Lurah pada masa itu merupakan abdi dalem keraton. 

Ketika Pak Lurah membutuhkan tenaga tambahan untuk membuat wayang, ayah Pak Mujiyono kemudian bergabung membantu.

Sebelum wafat, sang ayah berpesan agar keluarga tidak meninggalkan wayang kulit. 

Selain menjadi warisan budaya, usaha ini dapat mencukupi kebutuhan hidup. 

Pesan tersebut kini diteruskan oleh Pak Mujiyono sebagai generasi kedua.

Proses pembuatan wayang kulit dimulai dari membersihkan kulit. 

Kulit yang masih basah dibersihkan lalu dikirim ke pabrik di Magetan. 

Satu lembar kulit biasanya dibagi menjadi tiga bagian. 

Bagian dekat bulu digunakan untuk membuat tas, tote, dan sepatu. 

Bagian tengah digunakan untuk membuat wayang kulit. 

Bagian terakhir digunakan untuk membuat rambak.

Setelah kembali ke pengrajin, kulit direntangkan hingga rata dan dibiarkan kering. 

Kulit yang sudah kering dipotong sesuai ukuran wayang, kemudian masuk ke tahap pemahatan, pewarnaan, dan pemasangan tangkai sebagai pegangan. 

Setiap tahap membutuhkan kesabaran dan ketelitian tinggi karena prosesnya tidak singkat dan cukup rumit bagi yang belum terbiasa.

Tantangan terbesar bagi para pengrajin saat ini adalah pemasaran. 

Dahulu penjualan dilakukan dengan cara berkeliling ke tempat ramai seperti Pantai Parangtritis atau di sekitar pentas wayang pada malam hari. 

Namun, seiring perkembangan teknologi dan semakin ketatnya persaingan, pemasaran kini juga dilakukan secara online agar dapat menjangkau lebih banyak pembeli.

Program: Local Experience
Editor Video: Magang Zafira Hakim

#wayangkulit #tradisional #UMKM #Jogja #Yogyakarta #kerajinanlokal #prosespembuatanwayang #kulitsapi #pengrajinwayang #PanduWijaya #UMKMPanduWijaya #Mujiyono #Bantul #Imogiri #Wukirsari #senitradisiJawa #budayaJawa #pemahatanwayang #pewarnaanwayang #kerajinankulit #pelestarianbudaya #generasipengrajin #usahakeluarga #warisanbudaya #kerajinanYogyakarta #sentrabudaya #pemasaranwayang #kerajinanlokal #rambak #Magetan #nilaibudaya #senipertunjukan #wayangklasik #UMKMlokal #ekonomikreatif

Editor: Sigit Ariyanto
Sumber: Tribun Jogja

Video TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved