Rabu, 3 Juni 2026

Tribunnews Update

Kecanggihan Arash-e Kamangir Sistem Pertahanan Udara Baru Iran, Diklaim Bisa Tembak Drone Reaper AS

Jumat, 29 Mei 2026 16:09 WIB
Tribunnews.com

Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru

TRIBUN-VIDEO.COM - Militer Iran mengklaim berhasil menembak jatuh drone pengintai canggih milik Amerika Serikat menggunakan sistem pertahanan udara baru bernama Arash-e Kamangir.

Klaim tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat di kawasan Teluk, terutama setelah serangkaian serangan militer terbaru di sekitar Selat Hormuz dan Bandar Abbas.

Media Iran menyebut drone MQ-9 Reaper milik AS ditembak jatuh di dekat Pulau Qeshm, kawasan strategis yang berada di Selat Hormuz.

Meski pemerintah Iran belum memberikan konfirmasi resmi terkait penggunaan senjata ini, namun serangan tersebut menjadi penggunaan tempur pertama sistem pertahanan udara Arash-e Kamangir yang sebelumnya belum pernah diperlihatkan secara terbuka di medan perang.

Apa Itu Sistem Arash-e Kamangir?

Mengutip dari Al Jazeera, Arash-e Kamangir merupakan sistem pertahanan udara lokal yang dirancang untuk mendeteksi dan menyerang target udara, termasuk drone pengintai modern.

Iran mengklaim sistem ini memiliki kemampuan deteksi siluman dan mampu beroperasi tanpa terlalu bergantung pada radar besar seperti sistem pertahanan udara konvensional.

Nama “Arash-e Kamangir” sendiri diambil dari tokoh legenda Persia bernama Arash sang pemanah, sosok yang dikenal dalam cerita rakyat Iran sebagai pahlawan penjaga perbatasan negara dari ancaman asing.

Bagi Iran, penggunaan nama tersebut bukan sekadar simbol militer, tetapi juga pesan politik bahwa Teheran siap mempertahankan wilayahnya dari tekanan Amerika Serikat dan Israel.

Mengapa Sistem Ini Dinilai Berbahaya?

Sejumlah analis keamanan internasional menilai Arash-e Kamangir kemungkinan bukan senjata revolusioner, tetapi bagian dari strategi baru Iran dalam membangun pertahanan udara murah, mobile, dan sulit dihancurkan.

Berbeda dengan sistem pertahanan konvensional yang bergantung pada radar besar dan mudah dilacak, sistem seperti ini diduga menggunakan sensor elektro-optik atau pencari panas sehingga dapat dipindahkan dengan cepat dan lebih sulit diserang.

Strategi tersebut membuat Iran tidak terlalu bergantung pada sistem mahal seperti S-300 buatan Rusia yang selama ini menjadi tulang punggung pertahanan udaranya.

Menurut para pengamat, pendekatan Iran lebih menekankan pada ketahanan dan kemampuan bertahan jangka panjang dibanding mengejar teknologi paling modern.

Artinya, Iran mencoba menciptakan banyak sistem sederhana namun efektif untuk mengganggu operasi udara musuh.

Jika klaim Iran terbukti benar, maka Amerika Serikat dan Israel kemungkinan harus mengubah strategi militernya.

Kedua negara selama ini mengandalkan drone pengintai dan serangan udara presisi untuk menekan Iran.

Namun munculnya sistem pertahanan bergerak seperti Arash-e Kamangir dapat memaksa AS menggunakan rudal jarak jauh yang jauh lebih mahal dibanding drone.

Hal ini bisa meningkatkan biaya operasi militer Amerika di kawasan Teluk.

Selain itu, Iran juga masih memiliki keunggulan dalam produksi drone murah seperti Shahed yang dapat digunakan dalam jumlah besar.

Strategi perang murah inilah yang dinilai menjadi salah satu kekuatan utama Iran dalam menghadapi tekanan militer negara-negara Barat. (*)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Iran Unjuk Gigi! Sistem Pertahanan Baru Arash-e Kamangir Diklaim Bisa Jatuhkan Drone Tempur AS

Editor: Radifan Setiawan
Video Production: Ramadhan Aji Prakoso
Sumber: Tribunnews.com

Video TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved