Saksi Kata
"Kami Minta Pelaku Dipecat!" Keluarga Pratu Ferishcal Tuntut Hukuman Berat
Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru
TRIBUN-VIDEO.COM - Duka mendalam menyelimuti keluarga Pratu Ferischal atau Ferischal Alfarizky Abelsa, anggota Tamtama Denkesyah Palembang Kesdam II/Sriwijaya yang tewas ditembak oleh rekan sesama anggota TNI AD di Palembang pada Sabtu dini hari, 16 Mei 2026.
Prajurit muda tersebut tewas setelah diduga ditembak oleh rekan sesama anggota TNI AD, Sertu MRR.
Insiden berdarah ini terjadi di tempat hiburan malam Kafe Panhead, Kota Palembang, pada 16 Mei 2026.
Sang ayah, Ridwan, mengaku masih tak percaya menerima kabar putra laki-laki satu-satunya meninggal dunia secara tragis.
Padahal sebelum kejadian, Ferischal masih sempat berkirim pesan dengan keluarga dan bersiap menjalankan salat Jumat.
Keluarga pun meminta pelaku dihukum seberat-beratnya serta menegaskan bahwa Ferischal dikenal sebagai pribadi baik, humoris, dan jauh dari kebiasaan dugem seperti opini yang berkembang di media sosial.
Berikut wawancara ekslusif Sripoku.com dengan Ridwan, ayah Pratu Ferischal.
A: Sebelumnya bisa diperkenalkan nama Bapak siapa dan apa hubungan Bapak dengan korban yang disampaikan?
B: Baik, terima kasih. Perkenalkan nama saya Ridwan. Saya selaku orang tua kandung korban.
Kaget dan Tidak Percaya Mendengar Kabar Duka
A: Pertanyaan selanjutnya ya, bagaimana respon Bapak saat mendengar anak bapak terlibat dalam insiden?
B: Iya terus terang saya kaget gitu. Saya kaget antara percaya atau ini semua hanya sebuah lelucon gitu menanggapinya.
Karena saya merasa barusan gitu kan kemarin, kan kejadian hari Sabtu pagi ini. Barusan kemarin siang di hari Jumat sebelum solat Jumat, saya sempat chat gitu. Chat melalui pesan WA kepada ananda ini.
Ya menanyakan kabar ananda gitu, sedang ngapai gitu ya. Dijawablah sedang di kantor Yah, sedang tidak ada kegiatan, ini hari Jumat, sedang bersiap-siap untuk ibadah solat Jumat.
Saya bilang jangan ditinggalkan. “Iya Yah,” dijawab dari yang bersangkutan. Seperti itu.
Telepon Pagi Buta yang Mengubah Segalanya
A: Informasi mengenai kejadian ini pertama kali Bapak dapat dari siapa ya Pak?
B: Dapat dari tante korban yang menghubungi handphone saya gitu.
Handphone saya itu berdering sekira pukul 05.30 WIB pagi. Saya itu mau mandi gitu masuk kamar mandi. Nah, jadi ada istri saya memberitahukan bahwa telepon berbunyi gitu.
Saya bilang siapa? terus saya bilang Acik. Nah Acik Bela, kebetulan nama tantenya ini adik ipar saya ini Bela. Udah saya bilang angkat aja, itu kan adek kamu juga saya bilang.
Jadi diangkatlah oleh istri saya gitu.
Terus dia memberitahukan bahwa Faris, “Kak Faris meninggal.”
Jadi istri saya ini kaget gitu. “Ah yang bener Cik?” katanya menggunakan Bahasa Palembang.
Nah saya juga mendengar itu langsung panik dan keluar untuk menanyakan kepastian, kapan dan segala macam kronologis.
Awalnya Dikira Hanya Candaan
A: Setelah mendengar informasi tersebut, langkah selanjutnya apa Pak?
B: Ya, kami masih sempat bingung gitu ya antara mau percaya atau tidak gitu. Karena rasa-rasanya memang sering guyon ini.
Tapi kadang-kadang berpikir juga, tidak mungkin juga ini akan dibuat lelucon atau guyonan hal semacam ini di pagi hari.
Karena beberapa malam sebelumnya adik almarhum ini sempat guyon yang membuat kami cukup syok juga, mengatakan salah satu keponakannya kehilangan uang dan segala macam.
Nah jadi kami sempat berpikir jangan-jangan ini mau dilelucon lagi atau diprank lagi. Ternyata tidak.
Diiringi dengan tangisan dan tidak beberapa lama muncul telepon dari kantornya korban. Di mana atasan tempat ananda bekerja mengabarkan hal tersebut.
Keluarga Tegaskan Korban Bukan Sosok yang Gemar Dugem
A: Apakah Bapak mengenali pelaku? Apakah teman satu rekan anak Bapak?
B: Ya terus terang kami sambil mencari informasi karena sempat menerima informasi ada terjadi penembakan dari senior.
Nah senior dalam hal ini kami bilang dari mana? Rekan satu kantor atau gimana?
Jadi pada berikutnya baru dijelaskan bahwa ketemu di tempat cafe tersebut. Terungkap juga bahwa tidak satu kantor, tidak satu satuan dan tidak satu angkatan karena berbeda.
Anak kami dari Tantama dan si pelaku ini dari Bintara PK27 dan mereka tidak saling mengenal.
Dan yang bersamalah dengan pelaku ini terus terang setelah akhirnya ada titik terang sampai saat ini, rekan yang bermasalah ini senior dari anak kami.
Nah anak kami selaku junior ya otomatis solidaritas terhadap senior ya siap bang siap bang begitu.(*)
Artikel ini telah tayang di Sripoku.com dengan judul Pesan Terakhir Pratu Ferischal Sebelum Tewas Ditembak Oleh Sertu MRR di Palembang, Keluarga Histeris
Program: Saksi Kata
Sumber: Sriwijaya Post
Editor: Untung Sofa Maulana
#saksikata #penembakan #tni #tnitembaktni #tewas #hiburanmalam
Video Production: Untung SofaMaulana
Sumber: Sriwijaya Post
Terkini Daerah
Tak Tahan Sering Diancam hingga Diteriaki Maling saat Cekcok, Istri di Palembang Laporkan Suami
23 jam lalu
Tribunnews Update
Sidang Tuntutan 4 Oknum TNI Penyerang Andrie Yunus Ditunda, Ada Perdebatan hingga Hakim Baca Pasal
1 hari lalu
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.