Rabu, 29 April 2026

Tribunnews Update

Menlu Singapura Peringatkan Selat Malaka Lebih Bahaya daripada Selat Hormuz jika AS-China Perang

Selasa, 28 April 2026 20:11 WIB
Tribun Video

Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru

TRIBUN-VIDEO.COM - Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan menilai, dampak geopolitik dari blokade Selat Hormuz belum seberapa.

Menurutnya, pusat ketegangan dunia sebenarnya berada di Pasifik, yang melibatkan hubungan geostrategis antara Amerika Serikat (AS) dan China.

Hal itu disampaikan Balakrishnan dalam sesi panel CNBC Converge Live di Singapura, Rabu (22/4/2026).

Ia menilai, Selat Malaka menjadi titik paling krusial jika terjadi keretakan hubungan AS-China hingga memicu perang.

Baca: Kesaksian Korban Selamat Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur: Tubuh Kami Bertumpuk, Kehabisan Napas

"Bahaya utamanya adalah jika hubungan itu retak akibat perang di Pasifik. Apa yang Anda saksikan sekarang di Selat Hormuz hanyalah latihan awal," kata Balakrishnan, dikutip dari SCMP pada Selasa (28/4/2026).

Balakrishnan menjelaskan, Singapura, Malaysia, dan Indonesia memiliki kepentingan yang sama untuk menjaga Selat Malaka tetap terbuka.

Saat ditanya apakah negaranya berada di bawah tekanan AS dan China, ia menyangkal.

Balakrishnan mengaku pernah mengingatkan Presiden AS Donald Trump soal kepentingan Washington di Asia Tenggara.

Baca: Nasib Sopir Taksi Green SM yang Diduga Jadi Penyebab Kecelakaan Maut KA Argo Bromo & KRL di Bekasi

Kepentingan itu dalam bentuk investasi langsung asing yang nilainya lebih besar daripada gabungan investasi dari India, China, Jepang, dan Korea Selatan.

Ia menambahkan, AS memiliki surplus perdagangan yang sehat dengan Singapura.

Demikian pula dengan China, negara ini termasuk di antara beberapa sumber utama investasi asing.

Balakrishnan menekankan, bahaya sesungguhnya terjadi lebih dekat, karena masa depan tidak hanya soal minyak dan gas, melainkan juga hubungan geostrategis antara China dan AS.

Baca: Ilustrasi Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur, Berawal dari Taksi Mogok

Ia mengaku telah menyampaikan kepada kedua negara tersebut bahwa Singapura memandang transit melalui perairan internasional sebagai hak, bukan hak istimewa.

Terkait usulan tarif tol di Selat Malaka, Singapura menyatakan tidak setuju.

Negara ini telah menyampaikan kepada AS dan China bahwa pihaknya beroperasi berdasarkan Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS) dan hak lintas transit dijamin bagi semua pihak.

"Kami tidak akan ikut serta dalam upaya apa pun untuk menutup, menghalangi, atau mengenakan tol di wilayah kami," sambungnya.

(Tribun-Video.com)

Artikel ini telah tayang di South China Morning Post dengan judul, Balakrishnan dari Singapura memperingatkan bahwa Selat Hormuz hanya akan menjadi 'uji coba' jika AS dan China berkonflik

Editor: Bintang Nur Rahman
Reporter: Agung Tri Laksono
Video Production: Muhammad TaufiqRahman
Sumber: Tribun Video

Video TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved