Selasa, 21 April 2026

Live Breaking News

Awal Ramadhan 1447 Hijriah antara Pemerintah dan Muhammadiyah Berpeluang Berbeda

Selasa, 17 Februari 2026 15:59 WIB
Kompas.com

Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru

TTRIBUN-VIDEO.COM - Menjelang bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, umat Islam di Indonesia kembali dihadapkan pada kemungkinan perbedaan penetapan awal puasa.

Fenomena ini bukan hal baru, namun selalu menarik perhatian publik karena menyangkut praktik ibadah jutaan Muslim.

Kajian astronomi terbaru menunjukkan awal Ramadhan 1447 H berpotensi jatuh pada dua tanggal berbeda, yakni 18 atau 19 Februari 2026.

Perbedaan ini muncul akibat variasi kriteria penentuan awal bulan hijriah yang digunakan pemerintah dan organisasi Islam.

Ramadhan bukan sekadar penanda waktu, melainkan momentum spiritual yang agung.

Baca: Jelang Pelaksanaan Sidang Isbat Penetapan Awal Ramadhan 1447 H, Pantauan di Berbagai Wilayah

Karena nilai ibadahnya yang tinggi, penentuan awal Ramadhan selalu menjadi perhatian serius, baik dari sisi keagamaan maupun keilmuan.

Peneliti BRIN, Thomas Djamaluddin, menjelaskan bahwa pada maghrib 17 Februari 2026 posisi hilal di Asia Tenggara belum memenuhi kriteria MABIMS (tinggi minimal 3° dan elongasi 6,4°).

Dengan demikian, awal Ramadhan versi MABIMS diperkirakan jatuh pada 19 Februari 2026.

Namun, beberapa ormas Islam menggunakan kriteria Turki (tinggi minimal 5° dan elongasi 8°).

Di wilayah Amerika hingga Alaska, hilal sudah memenuhi syarat tersebut, sehingga ada kemungkinan sebagian pihak menetapkan 1 Ramadhan pada 18 Februari 2026. Perbedaan ini bersifat metodologis, bukan prinsip keagamaan.

Pemerintah (Kemenag): Belum menetapkan awal Ramadhan. Seperti biasa, penentuan dilakukan melalui sidang isbat dengan melibatkan ahli astronomi, ulama, dan ormas Islam.

Baca: BREAKING NEWS: Sidang Isbat Penentuan 1 Ramadhan 1447 H, Awal Puasa Jatuh 18 Februari 2026?

Sementara itu, Muhammadiyah, diketahui telah menetapkan 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada 18 Februari 2026 dengan metode Hisab Wujudul Hilal.

Sedangkan Nahdlatul Ulama (NU), menggunakan metode Hisab Imkanur Rukyah, yaitu kombinasi perhitungan astronomi dan pengamatan langsung hilal. NU akan melakukan rukyatul hilal pada akhir Syaban 1447 H.

Dalam Islam, perbedaan penetapan awal Ramadhan bukanlah sesuatu yang harus dipertentangkan. Imam An-Nawawi menegaskan bahwa perbedaan hasil rukyat antarwilayah adalah konsekuensi alami dari perbedaan matla’.

Perdebatan awal Ramadhan menunjukkan bagaimana Islam memberi ruang dialog antara wahyu dan ilmu pengetahuan. Hisab dan rukyat bukan saling meniadakan, melainkan saling melengkapi.

Terlepas dari perbedaan tanggal, esensi Ramadhan tetap sama, yakni menahan diri, memperbaiki akhlak, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Persatuan umat tidak terletak pada keseragaman tanggal, melainkan pada kesamaan niat dan tujuan ibadah.

(Tribun-Video.com/Kompas.com)

SUMBER: https://cahaya.kompas.com/aktual/26B06113737690/awal-ramadhan-1447-h-berpotensi-berbeda-ini-penjelasan-pakar-brin

Editor: Rahmat Gilang Maulana
Reporter: Putri Dwi Arrini
Videografer: Rima Anggi Pratiwi
Video Production: Rahmat Gilang Maulana
Sumber: Kompas.com

Video TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved