Tribunnews WIKI
Perang Aceh, Perlawanan Rakyat Mempertahankan Masjid Raya Baiturrahman Aceh dari Belanda
TRIBUN - VIDEO.COM - Perang Aceh adalah perang Kesultanan Aceh melawan Belanda yang berlangsung selama 31 tahun dari 1873 hingga 1904.
Beberapa alasan yang menjadi latar belakang Perang Aceh meliputi beberapa hal, yaitu:
Belanda menduduki Siak berdasarkan pada perjanjian Siak 1858 dimana Belanda berhak menduduki area Deli, Langkat, Asahan, dan Serdang.
Perjanjian London, dimana Belanda dan Inggris membuat ketentuan mengenai batas-batas kekuasaan kedua daerah di Asia Tenggara.
Aceh menuduh Belanda tidak menepati janjinya, kemudian kapal-kapal Belanda dihanyutkan saat melewati perairan Aceh.
Terusan Suez oleh Ferdinand de Lessep dibuka menjadikan Aceh menjadi pusat lalu lintas perdagangan.
Perjanjian Sumatera 1871 dibuat antara Inggris dan Belanda, di mana terjadi perpindahan kekuasaan dari Inggris ke Belanda.
Belanda mengizinkan Inggris untuk berdagang secara bebas di Siak, dan menyerahkan daerahnya di Guinea Barat pada Inggris. Pasukan Marmose, Tentara
Kronologi
Belanda yang ingin menguasai Aceh mengeluarkan ultimatum agar Aceh tunduk terhadap Belanda.
Sultan Mahmud Syah menolak mentah-mentah.
Karena penolakan itu, Belanda mendeklarasikan perang pada 26 Maret 1873.
Kurang lebih 3000 serdadu Belanda datang ke Aceh beserta kapal-kapal perang Belanda dengan menargetkan Masjid Raya Baiturrahman Aceh.
Aceh memberikan perlawanan sengit, membuat Kohler tertembak pada 14 April 1873.
Kemudian, dipimpin oleh Mayor Jenderal Van Swiyten, Belanda menyerbu dan berhasil menduduki istana.
Keluarga dan kerabat kerajaan kemudian melarikan diri ke daerah Lheungbata.
Pasukan ulama dan bangsawan Aceh menghimpun kekuatan untuk bertempur melawan Belanda dipimpin oleh Teungku Cik Di Tiro dinamakan Pasukan Jihad.
Selain itu Teuku Umar dan istrinya Cut Nyak Dien juga mengumpulkan pasukan besar.
Serangan pada 1882 ke pos-pos Belanda berhasil merebut kekuasaan Belanda, dipimpin oleh Teuku Umar.
Bahkan pasukan Aceh berhasil menyerang kapal Hock Canton pada 14 Juni 1886.
Kemudian, Belanda mengirim sosok penting dalam perang Aceh, seorang sosiolog bernama Dr Snouck Hurgronje untuk untuk memata-matai & menyelidiki kehidupan serta struktur masyarakat Aceh dengan menggunakan nama Abdul Ghofar.
Berkat Snouck Hurgronje, siasat devide at impera Belanda berhasil mengelabui Teuku Umar.
Teuku Umar menyerahkan diri kepada Belanda.
Namun rupanya itu hanya taktik belaka.
Setelah diberi kekuasaan & pasukan bersenjata lengkap, Teuku Umar berbalik menyerang Belanda.
Jenderal Deyckerhoff dipecat & pada tahun 1899 diganti oleh Van Heutz.
Pada Februari 1899, Belanda menyerang dengan membabi buta membuat pasukan Aceh terdesak sampai daerah Meulaboh.
Dalam peperangan itu Teuku Umar gugur tertembak.
Perjuangan rakyat Aceh diteruskan oleh Cut Nyak Dien dan Cut Meutia.
Perang berlanjut dengan tertangkapnya Cut Nyak Dien, yang kemudian diasingkan ke Sumedang hingga meninggal di sana.
Sementara itu Cut Meutia gugur dalam pertempuran pada 24 Oktober 1913.
Perang berakhir setelah Sultan Muhammad Daud Syah menandatangani Surat Perjanjian Plakat Peudele (Koret Valklaring).
Kesultanan Aceh resmi tunduk pada kekuasaan Belanda.
Dampak
Akibat peperangan melawan rakyat Aceh, Jendral Kohler tewas dalam pertempuran di Masjid Raya Baiturrahman Aceh.
Pada tahun 1904, Kesultanan Aceh menyerah secara de facto, mengakibatkan Belanda akhirnya berhasil menguasai Aceh.
Nama Van Heutsz makin menanjak setelah memenangkan perang Aceh, dan diangkat menjadi Gubernur Hindia Belanda.
Selain itu, Van Daalen diangkat sebagai gubernur Aceh.
Meskipun perlawanan rakyat Aceh masih ada sampai penjajahan Jepang, namun perlawanan ini bersifat kelompok atau bahkan individual.
(TribunnewsWiki/Indah)
Artikel ini telah tayang di tribunnewswiki.com dengan judul : 17 AGUSTUS - Seri Sejarah Nasional: Perang Aceh (1873-1904)
ARTIKEL POPULER:
Baca: Perang Puputan Margarana, Perang Kemerdekaan yang Meletus pada 20 November 1946 di Margarana, Utara
Baca: Pertempuran Medan Area, Pertempuran 9 Oktober 1945 hingga 15 Februari 1947 di Medan, Sumatera Utara
Baca: Palagan Ambarawa, Pertempuran Penting di Ambarawa dalam Rangka Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia
TONTON JUGA:
Video Production: Fikri Febriyanto
Sumber: TribunnewsWiki
Tribunnews Update
Sepi Aktivitas, Daycare Kasus Penganiayaan Bayi di Banda Aceh Resmi Ditutup Permanen oleh Pemko
Kamis, 30 April 2026
Viral
Motif Pelaku Jewer hingga Aniaya Bayi 1,5 Tahun di Daycare Aceh, Pemkot Tutup Tempat Usaha
Kamis, 30 April 2026
Terkini Nasional
MOTIF PENGASUH Daycare Banting Bayi 1,5 Tahun di Banca Aceh, Pelaku Sudah Kerja 4 Tahun
Kamis, 30 April 2026
Terkini Nasional
TERKUAK SOSOK Pengasuh Banting Bayi di Daycare Banda Aceh, Terancam 5 Tahun Penjara
Kamis, 30 April 2026
Viral
Pengasuh Daycare di Aceh Ditangkap Polisi usai Terekam CCTV Aniaya Bayi 18 Bulan
Rabu, 29 April 2026
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.