Terkini Nasional
Peringatan Greenpeace 10 Tahun Diabaikan, Kini Banjir dan Longsor Benar-benar Terjadi di Sumatera
TRIBUN-VIDEO.COM - Greenpeace Indonesia mengaku telah memprediksi potensi banjir bandang dan tanah longsor di Pulau Sumatra sejak satu dekade lalu, namun peringatan itu tak pernah mendapat respons dari pihak berwenang, ujar Manajer Kampanye Iklim dan Energi, Iqbal Damanik.
Hal itu disampaikan Iqbal dalam kanal Youtube Abraham Samad yang diunggah pada Selasa (2/12/2025).
Akhir November 2025 menjadi periode kelabu bagi Indonesia; tiga provinsi di Pulau Sumatera, yakni Sumaetra Utara, Sumatera Barat, dan Aceh, dilanda banjir dan tanah longsor.
Akibat peristiwa ini, tercatat sudah ada lebih dari 700 orang tewas, ratusan lainnya hilang, dan ribuan orang luka-luka.
Awalnya, Iqbal mengatakan bahwa Greenpeace Indonesia turut berduka atas bencana tersebut.
Lalu, ia mengungkap bahwa kejadian ini sudah diprediksi sejak 10 tahun lalu, apalagi mengingat semakin rusaknya Ekosistem Batang Toru.
"Sebelum ke sana, kita ikut berduka atas bencana ini," kata Iqbal saat menjadi tamu dalam podcast Abraham Samad Speak Up.
Baca: Banjir dan Longsor di Sumatera: Walhi Sebut Dampak Kebijakan Pemerintah
"Meskipun memang banyak yang sebenarnya sudah memprediksi, bahkan dari 10 tahun yang lalu, karena ini wilayah esensial gitu ya, wilayah Batang Toru, wilayah Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan."
"[Greenpeace] sudah pernah mengingatkan, tetapi nggak didengar, diabaikan."
Iqbal pun mengungkapkan suara hatinya sebagai aktivis lingkungan, yakni betapa menyedihkan ketika kejadian buruk berujung bencana yang sebenarnya sudah diprediksi ternyata benar-benar terjadi.
Menurutnya, bencana yang sebelumnya sudah diprediksi dan akhirnya terjadi itu, seperti musibah banjir bandang di Sumatera, disebabkan oleh sikap denial atau enggan mendengarkan peringatan dari ilmuwan atau ahli.
"Makanya bagian yang paling menyedihkan jadi aktivis lingkungan salah satunya adalah ketika yang dia prediksi menjadi kebenaran," tutur Iqbal.
"Itu menyedihkan sekali bagi kami sebenarnya, karena kita selalu berpikir bencana, dan pasti bencana itu pasti ada korban gitu."
Namun, ia menilai, pemerintah tidak mau mendengar peringatan tersebut, lantaran lebih mementingkan aspek ekonomi.
"Bahkan, yang terjadi di wilayah Sumatera ini tuh sudah lama banget diingatkan, karena perubahan iklim secara masif secara global bahkan para ahli sudah sudah menyebutkan sebenarnya," jelas Iqbal.
"Tapi [pemerintah] denial terhadap scientists [ilmuwan]. Itu agak sulit, kayaknya karena mungkin kita lebih mementingkan ekonomi politiknya ketimbang mementingkan saintisnya."
Baca: Peduli Banjir Aceh, Ci Vilmei Kumpulkan Ratusan Juta dalam Waktu Singkat
(*)
Video Production: Megan FebryWibowo
Sumber: Tribunnews.com
LIVE UPDATE
Banjir Bandang Melanda Batang Asai, Sungai Batang Hari Dapat Kiriman dari Kabupaten Sarolangun
Selasa, 28 April 2026
LIVE UPDATE
Diguyur Hujan Deras, Longsor Terjang Desa Kereana Malaka, Rumah Warga Retak dan Terbelah
Selasa, 28 April 2026
LIVE UPDATE
Banjir Terjang Bukit Makmur Parigi Moutong, Jembatan Dusun Sampai Terputus Diterjang Arus
Selasa, 28 April 2026
LIVE UPDATE
Nasib Pilu Petani di Desa Tublopo TTU, Banjir Bandang Rusak Lahan Pertanian Milik Warga
Senin, 27 April 2026
Live Update
LIVE UPDATE SIANG: 1 Anggota KKB Dilumpuhkan Aparat, Bandar Arisan Bodong Digeruduk Emak-emak
Senin, 27 April 2026
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.