Kamis, 21 Mei 2026

Menanti Hasil Tes DNA Alvaro, Makam Sudah Disiapkan Berjarak 200 Meter dari Rumah

Rabu, 26 November 2025 18:25 WIB
Tribunnews.com

TRIBUN-VIDEO.COM - Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto menyatakan tim penyidik masih menunggu hasil tes DNA dan pemeriksaan ante mortem dari Puslabfor Polri serta Rumah Sakit Polri Kramat Jati terkait proses identifikasi jenazah yang diduga bocah enam tahun Alvaro Kiano Nugroho, yang hilang sejak Maret 2025 lalu.

Alvaro meninggal dunia usai diculik dan dibunuh oleh ayah tirinya Alex Iskandar, kemudian jasadnya dibuang di kawasan Tenjo, Bogor, Jawa Barat.

Alvaro hilang sejak ia berangkat ke masjid pada awal Maret 2025 lalu, ternyata bocah tersebut diculik oleh ayah tirinya, Alex Iskandar (46).

Alvaro tinggal bersama kakek‑neneknya di Pesanggrahan.

Ayah kandungnya tengah menjalani hukuman penjara, sedangkan ibunya bekerja di luar negeri.

Ibu Alvaro sudah bercerai dari ayah kandung Alvaro dan menikah dengan Alex Iskandar pada Desember 2023.

Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan AKBP Ardian Satrio Utomo mengungkap korban terus menangis saat diculik ayah tirinya hingga akhirnya dibekap oleh Alex hingga meninggal dunia pada 6 Maret 2025.

Usai korban tewas, Alex tidak langsung membuang jasadnya, tetapi disimpan dulu di sebuah garasi rumah selama tiga hari dengan ditutupi sebuah mobil.

Setelah itu, pada 9 Maret 2025 barulah jasad Alvaro dibuang di bantaran kali kawasan Tenjo, Bogor, Jawa Barat.

Pelaku memilih Tenjo sebagai lokasi pembuangan jenazah Alvaro karena mengenal area tersebut, lantaran dekat dengan ke rumah kerabatnya.

Pelaku juga mengetahui titik yang sepi untuk membuang jenazah.

Delapan bulan berlalu, tepatnya pada November 2025, jasad Alvaro yang telah menjadi kerangka itu kemudian ditemukan.

Polisi kini masih melakukan tes DNA dan pemeriksaan Laboratorium Forensik (Labfor) terhadap kerangka yang ditemukan untuk memastikan bahwa itu benar jasad Alvaro.

Kombes Pol Budi Hermanto memastikan, tersangka Alex tega menghabisi nyawa anak tirinya itu karena dendam pribadi terhadap sang istri, yang dicurigai memiliki hubungan dengan pria lain selama bekerja di luar negeri.

Ia menjelaskan, pelaku marah setelah mendapat kabar bahwa istrinya diduga memiliki pria idaman lain selama berada di luar negeri.

Amarah itu kemudian terakumulasi dan dilampiaskan kepada Alvaro, yang tinggal bersamanya.

Kombes Budi Hermanto menyatakan proses pencocokan identitas belum dapat disimpulkan karena sampel pembanding baru diambil dari pihak keluarga.

Dia menegaskan bahwa kepolisian mengutamakan kecermatan dalam proses identifikasi.

Sehingga hasil baru akan disampaikan setelah seluruh rangkaian pemeriksaan ilmiah selesai.

Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Nicolas Ary Lilipaly, mengatakan penemuan kerangka diduga Alvaro Kiano masih harus dipastikan melalui serangkaian pemeriksaan ilmiah.

Nicolas menegaskan pihaknya belum dapat memberikan keterangan lebih jauh, termasuk lokasi penemuan dan tersangka yang telah diamankan.

Kapolres mengatakan saat ini pihaknya masih menunggu proses pemeriksaan dan identifikasi oleh penyidik.

Menunggu hasil tes DNA itu, ibunda Alvaro Arum Indah masih berharap bahwa kerangka yang ditemukan itu bukan putranya.

Namun, jika hasil tes DNA tersebut menyatakan benar Alvaro, Arumi mengaku akan tetap menerimanya meskipun berat.

Arum bercerita selama bekerja di luar negeri, ia rutin melakukan video call dengan Alvaro. 

Ia mendapatkan kabar hilangnya sang anak pada 6 Maret 2025 dan langsung berusaha pulang meski baru bisa tiba di Indonesia pada April.

Ia mengaku masih sulit menerima kenyataan bahwa Alvaro meninggal di tangan ayah tirinya sendiri, Alex Iskandar

Arum Indah, mengungkapkan ayah tiri Alvaro, yang diduga menjadi pelaku pembunuhan pernah melontarkan ancaman akan menculik putranya jika ia tak bersedia kembali membangun rumah tangga.

Ancaman itu terjadi pada 2024, ketika keduanya sudah berpisah karena pelaku disebut memiliki sifat tempramental dan tidak mampu menerima kehadiran anak-anak Arumi.

Ibu korban mengatakan saat itu pelaku beberapa kali memaksa untuk rujuk, namun selalu ditolak karena merasa tidak lagi sanggup hidup bersama.

Ia saat itu menganggap ancaman tersebut hanya bentuk kekesalan sesaat dan tidak pernah membayangkan pelaku nekat melakukan aksi kejinya.

Selama proses pencarian sejak Alvaro dinyatakan hilang pada Maret 2025, pelaku diketahui selalu ikut membantu keluarga mencari keberadaan bocah tersebut.

Lebih lajut, Arum mengaku masih syok setelah mengetahui pelaku mengakhiri hidup sebelum menjalani proses hukum.

Ia merasa dikhianati karena selama proses pencarian, pelaku selalu berada di sisi keluarga, seolah ikut berduka dan membantu.

Hingga kini, ibu korban berharap hasil tes DNA dapat segera keluar agar Alvaro bisa dimakamkan dengan layak.

Rencananya jenazah korban akan dimakamkan tak jauh dari kediaman, di Pesanggrahan, Jakarta Selatan.

Gundukan tanah dan sebuah liang lahat telah nampak di Tanah Wakaf Masjid Jami Al-Muflihun, Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Rabu siang (26/11/2025). 

Liang kubur ini akan menjadi rumah peristirahatan abadi bagi almarhum Alvaro Kiano Nugroho (6).

Liang kubur bagi Alvaro ini berukuran panjang 120 cm dan lebar 60 cm, yang disesuaikan dengan ukuran anak usia kelas 1 sekolah dasar.

Lokasinya hanya sekira 200 meter dari rumah Alvaro, dan tak lebih dari 50 meter dari tempat ia diduga diculik oleh ayah tirinya, Alex Iskandar. 

Sementara itu pelaku Alex Iskandar meninggal dunia di tengah tahapan pemeriksaan.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto menyebut Alex mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri di dalam ruangan konseling Polres Jakarta Selatan pada Minggu (23/11/2025) dini hari.

Sebelum ditemukan tewas, tersangka sempat izin untuk ke toilet dengan alasan sudah buang air di celana.

Saksikan tayangan LIVE UPDATE lengkapnya hanya di Kanal YouTube Tribunnews!

Editor: Srihandriatmo Malau
Sumber: Tribunnews.com

Video TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved