Selasa, 12 Mei 2026

Local Experience

Melihat Lebih Dekat Tradisi Numbuk Padi Suku Dayak

Jumat, 4 Juli 2025 12:02 WIB
Tribun Pontianak

Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru

TRIBUN-VIDEO.COM - Di tengah deru mesin modern dan rutinitas kota yang kian padat, masih ada suara lembut yang menggema dari masa lalu, suara alu menghentak lesung.

Suara itu menjadi penanda kehidupan yang terhubung erat dengan panen, tanah, dan tradisi.

Suara yang kini kembali terdengar di Rumah Radakng, Kota Pontianak, dalam gelaran Naik Dango ke-II.

Panitia lomba permainan tradisional Naik Dango ke-II, Bambang menuturkan, bahwa kegiatan ini bukan sekadar lomba, melainkan upaya membangkitkan kembali warisan leluhur yang mulai memudar, khususnya di kalangan masyarakat Dayak yang kini tinggal di wilayah perkotaan.

“Kita ingin budaya menumbuk padi ini tetap hidup. Tidak hanya di kampung, tapi juga bisa dikenal kembali di kota,” ujar Bambang kepada TribunPontianak.co.id, Minggu, 27 April 2025.

Dalam lomba tersebut, setiap tim beranggotakan tiga orang diberi 2 kilogram padi kering dan waktu maksimal dua jam untuk mengolahnya menjadi beras. Namun keterampilan para peserta patut diacungi jempol, hanya membutuhkan waktu 26 hingga 32 menit peserta dapat menyelesaikannya.

Dengan menggunakan alat-alat tradisional seperti alu, lesung, penampi, pengayak, dan ragak yang kini kian langka, peserta memperagakan setiap tahapan penting yang dulu dilakukan hampir setiap hari oleh leluhur mereka: menumbuk, menampi, dan mengayak. Semua dilakukan dengan tangan dan tenaga, tanpa bantuan mesin.

“Biarpun mereka sudah lama tinggal di kota, ternyata masih banyak yang mampu mempertahankan kemampuan menumbuk padi ini. Itu luar biasa,” tambah Bambang.

Lebih dari sekadar kegiatan fisik, menumbuk padi membawa nilai-nilai budaya yang dalam.

Bambang berharap kegiatan ini bisa membuka mata generasi muda bahwa proses menghasilkan beras bukan hanya soal pangan, melainkan warisan yang menyentuh akar identitas.

“Kami ingin generasi muda tahu prosesnya. Tidak hanya tahu makan nasi, tapi juga tahu bagaimana leluhur mereka menyiapkan makanan pokok ini,” ujarnya.

Salah satu peserta lomba, Mahadi, mengenang masa kecilnya di kampung, saat menumbuk padi merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari usai panen.

Kini, ia kembali melakukannya bukan sekadar untuk bernostalgia, tapi sebagai bentuk perlawanan terhadap lupa.

“Menumbuk padi ini bukan sekadar aktivitas biasa. Ini bagian dari identitas kita sebagai orang Dayak. Sekarang, kami hanya berusaha menjaga agar tradisi ini tidak hilang,” kata Mahadi.

Menurutnya, proses menumbuk padi membutuhkan ketelatenan dan tenaga. Tahapannya pun panjang, mulai dari menumbuk, menampi, hingga mengayak untuk memisahkan kulit padi dari berasnya. Tantangan utamanya adalah menjaga butir padi agar tidak pecah, namun hasil akhirnya sebanding dengan usaha.

“Rasanya beda, lebih enak. Ada rasa alami yang nggak bisa kita dapat dari mesin,” ucapnya.

Di era modern seperti sekarang, bahkan desa-desa telah beralih menggunakan mesin penggiling padi. Praktis, memang, namun perlahan menggerus nilai-nilai budaya yang dulu melekat pada setiap tahap produksi pangan. Lomba ini menjadi pengingat bahwa di balik sebutir nasi, tersimpan sejarah, kerja keras, dan jati diri.

“Harapan kami sederhana, agar masyarakat kampung tetap menumbuk padi, tetap melestarikan budaya ini. Karena kalau bukan kita, siapa lagi yang akan menjaga warisan ini,” pungkas Mahadi.(*)

Artikel ini telah tayang di TribunPontianak.co.id dengan judul Masyarakat Dayak Lestarikan Budaya Menumbuk Padi Lewat Naik Dango ke II di Pontianak

Program: Local Experience
Editor Video: Muh Rosikhudin

#localexperience #numbukpadi #dayak #tradisi #budaya #sejarah

Editor: Sigit Ariyanto
Video Production: Muh Rosikhuddin
Sumber: Tribun Pontianak

Video TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved