Sabtu, 9 Mei 2026

Terkini Nasional

Objek Wisata Religi Para Peziarah Makam Syech Abdul Wahab

Jumat, 12 April 2019 17:15 WIB
Tribun Padang

Laporan Wartawan TribunPadang.com, Rizka Desri Yusfita

TRIBUN-VIDEO.COM, PADANG - Sebuah bangunan berdiri tegak di atas perbukitan kampung Calau Nagari Muaro Kecamatan Sijunjung Kabupaten Sijunjung.

Dikatakan seorang khalifah (penerus) kampung Calau bernama Umar SL TK Mudo, calau artinya tempat yang ditinggikan.

Di dalam bangunan di atas bukit berderet tiga makam keramat.

Ketiga makam tersebut adalah makam Syekh Abdul Wahab, makam Syekh Jalaluddin (pengganti Abdul Wahab) dan makam Syekh Ahmad (anak Jalaluddin).

"Tidak ada bukti autentik yang menjelaskan sejarah tiga makam Syekh tersebut. Diperkirakan, makam Syekh Abdul Wahab ada sejak 1888, Syekh Jalaluddin 1900, dan Syekh Ahmad 1932," jelas Umar.

Makam yang berada di dalam ruangan berukuran sama yakni 220 cm x 70 cm. Makam tersebut diberi pagar aluminium.

Di masing-masing batu nisan makam tersebut tertulis nama-nama Syekh. Makam tersebut ditutup dengan tirai berwarna putih.

Disediakan sajadah panjang untuk peziarah di sela-sela jarak antar makam.

Selain tiga makam di dalam ruangan tersebut, ada juga makam-makam yang berada di luar.

Adapun di lingkungan sekitar makam, terdiri makam anak dan keturunan Syekh Jalaluddin.

"Banyak makam di sini. Ini semua keluarga Syekh," kata Umar.

Pantauan TribunPadang.com, Sabtu (30/3/2019) makam tersebut dikunjungi masyarakat dari luar wilayah kabupaten Sijunjung.

Ziarah ke makam Syekh Abdul Wahab sudah menjadi tradisi masyarakat.

Dilansir oleh situsbudaya.id, Syekh Abdul Wahab Calau atau dikenal juga dengan sebutan Tuanku di Bawah Manggih merupakan tokoh syiar Islam di Sijunjung dan sekitarnya.

Beliau berasal dari Aur, sebuah kampung kecil di Kecamatan Sumpur Kudus.

Syekh Abdul Wahab mempelajari ilmu agama di Lubuak Sikarah, dulu dikenal dengan Kubuang Tigo Baleh dan di Pangian, Lintau.

Sebelum mendirikan surau dan mensyiarkan Islam di Calau, Syekh Abdul Wahab mengembangkan Islam di Aur, Kumanih.

Syekh Abdul Wahab atau dikenal juga sebagai Inyiak Calau dimakamkan di belakang surau yang ia buat.

Biasanya ziarah dilakukan masyarakat sekitar 15 hari sebelum bulan puasa.

"Ketika memasuki bulan puasa, mulai rajab hinga syaban. Makam -makam ini tidak pernah sepi dari peziarah," ungkap Umar.

Saking ramainya, pada 2008 silam, kawat penyangga jembatan gantung di Calau pernah putus.

Hal tersebut mengakibatkan beberapa peziarah meninggal dunia dan beberapa lainnya luka-luka.

Namun, kejadiaan naas tersebut tidak pernah mengurangi niat peziarah untuk tetap berkunjung.

Apalagi, sekarang jembatan tersebut sudah disulap menjadi jembatan beton yang penuh warna.

Biasanya peziarah ke sana untuk berdoa, melepas nazar, dan berharap berkah dari Allah SWT.

Seorang peziarah Ahmad mengaku datang satu rombongan berjumlah 7 orang dari jauh ke Makam Syekh Wahab dalam rangka melakukan ziarah. Mereka satu rombongan datang dari Malalo, Kabupaten Tanah Datar.

"Kami ke sini untuk ziarah. Meminta doa kepada Allah SWT. Kami meyakini makam keramat bisa bertindak sebagai penghubung kami kepada Allah. Bukan kami meminta doa kepada arwah, tapi kami meminta doa kami disampaikan kepada Allah," ungkap Ahmad.(*)

ARTIKEL POPULER:

Benarkah Mie Ayam Tugu Lilin Pajang Solo Pakai Pesugihan Pocong? Yuk Mampir ke Warungnya

Hamil dengan Pria di FB, Remaja Lahirkan Bayi di Pinggir Jalan hingga Sang Pria Putuskan Pertemanan

Gadis Kejang-kejang seusai Dicabuli dan Dicekoki Sabu sabu, Awalnya Diajak Teman ke Rumah Kosong

TONTON JUGA:

Editor: fajri digit sholikhawan
Sumber: Tribun Padang

Video TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved