Rabu, 29 April 2026

Menguatkan Pendidikan Keluarga, Orangtua dan Anak Kompak Mengolah Lahan di Komplek Sekolah

Selasa, 14 Agustus 2018 09:23 WIB
Tribun Jateng

Laporan Wartawan Tribun Jateng Khoirul Muzakki

TRIBUN-VIDEO.COM, BANYUMAS - Suasana pembelajaran di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Pakis di Dukuh Persawahan, Desa Gununglurah, Kecamatan Cilongok, Banyumas Jawa Tengah pagi itu agak berbeda dari biasanya. Ruang kelas dikosongkan sementara. Seluruh siswa keluar menuju areal perkebunan di sekitar sekolah pinggir hutan ini.

Mereka menyangklong tas berisi alat tulis. Tetapi ada tambahan perlengkapan yang mereka bawa. Sebagian menenteng alat pertanian berupa cangkul, sekop, garpu, hingga plastik polibag.

Pembelajaran out door saat itu begitu mengasyikkan, sebab masing-masing siswa didampingi orang tua mereka. Puluhan keluarga itu pun menyerbu sebuah lahan kosong yang masih dirimbuni rumput liar dan semak belukar.

Para orang tua dan anak ini kompak berbagi tugas. Ibu-ibu dan siswi perempuan tak canggung menyingkirkan gulma yang menutupi lahan menggunakan sabit atau tangan kosong. Adapun para bapak dan siswa laki-laki bertugas membajak tanah dengan cangkul hingga siap ditanami.

Kerja sama orang tua dan anak itu berlanjut hingga proses penanaman aneka bibit sayuran ke lahan yang telah dipersiapkan.

Wajar saja mereka terampil mengolah lahan. Mereka tak asing dengan dunia pertanian. Orang tua siswa di MTs Pakis rata-rata bermatapencaharian sebagai petani. Adapun para siswa kerap membantu orang tuanya mengolah lahan di luar jam sekolah.

Darti, ibu dari Rizal, siswa kelas 8 MTs Pakis, satu di antara orang tua siswa yang mengaku menikmati model pembelajaran semacam itu. Dia bangga karena bisa berkontribusi untuk tumbuh kembang anaknya di sekolah.

Baca: Aturan Baru BPJS Kesehatan Dapat Penolakan dari Banyak Pasien

Lebih dari itu, kerjasama mengolah lahan dengan siswa di sekolah memberi keuntungan tersendiri bagi dia. Darti mendapat tambahan pengetahuan tentang dunia pertanian yang selama ini dia geluti. Pengetahuan baru itu tentu bermanfaat bagi dia untuk diterapkan di lahan pertanian miliknya.

Kekompakan orang tua dan anak ini ternyata berlanjut hingga di rumah. Saat berganti pakaian harian, para siswa ini tak segan membantu pekerjaan orang tuanya di ladang untuk mengolah lahan.

“Saya senang kalau diundang ke sekolah. Kami kerjabakti dengan anak untuk menyiapkan lahan dan bercocok tanam, serta berlatih usaha,” katanya

Bukan hanya kerjasama mengolah lahan, orang tua juga dilibatkan dalam pengembangan unit usaha bersama anak mereka di sekolah. Pihak sekolah kerap mendatangkan praktisi dari perguruan tinggi maupun umum untuk melatih berbagai keterampilan atau kewirausahaan kepara orang tua dan siswa.

Selain usaha pertanian, unit usaha lain yang tengah dikembangkan orang tua dan siswa di sekolah tersebut adalah pembuatan aneka keripik berbahan baku lokal. Hasil usaha bersama itu akan kembali kepada mereka, selain untuk menunjang pendidikan anak –anak di sekolah.

Kerap diundang ke sekolah untuk mengikuti kegiatan anak tak lantas membuat Darti bosan. Ia justru antusias karena merasa ikut bertanggungjawab terhadap pendidikan anaknya. Kesempatan itu bermanfaat baginya karena bisa mengontrol langsung perkembangan yang telah dicapai anaknya di sekolah. Dia juga jadi lebih tahu perihal kebutuhan putranya di sekolah yang wajib dia penuhi.

Baca: Usung Banyak Kandidat Artis untuk Nyaleg di Hampir Seluruh Jatim, NasDem Optimis Rebut Banyak Kursi

“Kan jadi tahu kegiatan anak di sekolah apa, saya juga bisa bantu-bantu, senang,”katanya

Tasripin termasuk anak beruntung yang dapat menimba ilmu di sekolah ini. Kisah Tasripin sempat menghebohkan publik karena perjalanan hidupnya yang menyayat hati, tahun 2013 lalu. Di usianya yang masih belia saat itu, 12 tahun, bocah piatu itu harus berjuang menghidupi ketiga adiknya tanpa orang tua di sisi. Tasripin yang sempat putus sekolah karena belenggu kemiskinan ini akhirnya bisa meneruskan pendidikannya di sekolah ini.

MTs Pakis jadi penyelamat pendidikannya, sekaligus tempatnya menggantungkan harapan untuk mengubah nasib. Kesempatan itu tak disiakan Tasripin. Dia bersama teman-temannya lain dari keluarga kurang di desa pinggir hutan ini bersemangat mengikuti setiap pembelajaran untuk perubahan nasib mereka kelak.

Tasripin dan teman-temannya tak buru-buru pulang usai pembelajaran di kelas berakhir. Mereka menyempatkan untuk menilik kebun dan memastikan tanaman yang mereka rawat tumbuh dengan baik. Kebun adalah perpustakaan alam tempat mereka mengais pengetahuan, terutama tentang dunia pertanian.

“Saya cita-cita ingin jadi polisi,”katanya.

Pelibatan orang tua dalam pendidikan anak di sekolah ini bahkan telah dilakukan sejak masa pendaftaran sekolah. Bukan uang yang menjadi prasyarat masuk sekolah ini. Para orang tua siswa baru hanya diminta melakukan daftar ulang menggunakan hasil bumi. Jumlah hasil bumi yang dipetik dari kebun mereka pun tak ditentukan, melainkan sekadarnya dan seikhlasnya.

Alhasil, beraneka hasil bumi mulai gabah, kelapa, ubi-ubian, hingga sayuran memenuhi meja pendaftaran sekolah pada masa daftar ulang. Serah terima hasil bumi ini menyiratkan kepasrahan orang tua kepada pihak sekolah akan pendidikan anaknya.

“Saat daftar ulang itu juga kami sampaikan, bahwa ke depannya mereka akan sering kami libatkan dalam proses pembelajaran anaknya nanti,”kata Isrodin, Kepala Sekolah MTs Pakis

Isrodin mengatakan, pembelajaran di MTs Pakis mengedepankan kearifan lokal. Di luar mata pelajaran utama yang ditentukan pemerintah, pihaknya mengajarkan berbagai macam keterampilan kepada siswa. Karena berbasis kearifan lokal, keterampilan yang diberikan ke siswa tidak jauh dari dunia pertanian dan pemanfaatan hutan (agroforestry).

Dengan prinsip demikian, kata Isrodin, para siswa diharap tidak lupa pada latarbelakang mereka dari keluarga petani. Mereka diajarkan cara mengolah lahan yang tepat untuk mendapatkan hasil maksimal, mengembangbiakkan ternak, hingga mengembangkan unit-unit usaha.

Dukungan orang tua penting tentunya. Karena itu, menurut Isrodin, orang tua pada saat-saat tertentu selalu dilibatkan dalam proses pembelajaran anak.

“Kami ingin anak-anak bangga jadi anak seorang petani. Kami libatkan orang tua dalam pembelajaran anak, agar siswa tak lupa latar belakang keluarganya,”katanya

Pihaknya punya alasan khusus memberikan porsi kepada orang tua dalam pendidikan anaknya di sekolah. Orang tua dianggap punya kontribusi besar dalam keberhasilan pendidikan anaknya di sekolah. Sementara kesadaran orang tua di desa terhadap pendidikan anaknya masih sangat rendah.

Kemiskinan melemahkan semangat para orang tua di desa untuk menyekolahkan anak mereka. Banyak anak-anak putus sekolah atau tidak meneruskan pendidikannya karena alasan kemiskinan. Mereka memilih membantu orang tuanya bekerja untuk menyambung hidup, atau menikah dini bagi anak perempuan.

Karena itu, selain menggratiskan seluruh biaya pendidikan, pihaknya kerap mengedukasi dan memotivasi para orang tua agar senantiasa mendukung pendidikan anaknya. Caranya, dengan melibatkan orang tua dalam berbagai kesempatan untuk berkegiatan bersama anak mereka di sekolah.

Selain mengurus pendidikan anak mereka di sekolah, pihaknya juga berupaya memberdayakan orang tua agar kesejahteraan mereka terangkat melalui berbagai kegiatan usaha.

“Dengan dilibatkan, orang tua jadi tahu kebutuhan anaknya di sekolah, dan mendukung pendidikan anaknya ketika mereka melihat semangat belajar anaknya di sekolah,” katanya. (*)

 Artikel ini telah tayang di Tribunjateng.com dengan judul Menguatkan Pendidikan Keluarga, Orangtua dan Anak Kompak Mengolah Lahan di Kompleks Sekolah

Tonton juga:

Editor: fajri digit sholikhawan
Sumber: Tribun Jateng

Video TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved