HUT ke-77 RI
Peran Fatmawati dalam Kemerdekaan Indonesia
TRIBUN-VIDEO.COM - Fatmawati merupakan istri dari presiden pertama Indonesia, yaitu Soekarno.
Tidak hanya menjadi istri dari seorang pahlawan nasional, Fatmawati juga ikut berperan dalam kemerdekaan Indonesia.
Lantas, apa peran Fatmawati dalam kemerdekaan Indonesia?
Menjahit Bendera Pusaka
Wanita yang tercatat dalam sejarah sebagai penjahit Bendera Pusaka Indonesia adalah Fatmawati.
Fatmawati lahir di Bengkulu, 5 Februari 1923. Ia merupakan putri dari pasangan Hasan Din dan Siti Chadijah.
Ia bertemu dan kemudian menikah dengan Soekarno pada 1943, ketika pendudukan Jepang di Indonesia.
Soekarno, yang dipandang sebagai sosok penting dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, membuat Fatmawati ikut berperan di dalamnya.
Baca: Di Balik Berkibarnya Sang Saka Merah Putih, Ada Air Mata Fatmawati Jatuh Berlinang Membasahi Bendera
Setahun setelah Fatmawati dan Soekarno menikah, Jepang menjanjikan kemerdekaan untuk Indonesia.
Jepang juga mengizinkan untuk mengibarkan bendera Indonesia. Mengetahui hal tersebut, terbesit sebuah ide di benak Fatmawati bahwa perlu adanya bendera merah putih untuk dikibarkan.
Fatmawati pun mencoba mencari cara untuk bisa mendapatkan kain merah dan putih. Pemerintah Jepang kemudian menunjuk seorang ahli propaganda, Shimizu, untuk mencarikan kain itu.
Shimizu berusaha mendapatkan kain itu lewat seorang petinggi Jepang, kepala gudang di Pintu Air di depan eks Bioskop Capitol.
Setelah kain merah dan putih berhasil didapatkan, Shimizu segera mengantarkannya kepada Fatmawati.
Tidak lama setelah Fatmawati menerima kain merah dan putih tersebut, ia pun langsung menyatukannya dengan cara menjahitnya menggunakan tangan.
Fatmawati menjahit bendera Merah Putih pada Oktober 1944, atau dua minggu sebelum putra sulungnya, Guntur Soekarno Putro lahir.
Ketika itu, usianya masih 21 tahun. Dengan kondisi hamil besar, Fatmawati tidak diizinkan oleh dokternya untuk menjahit menggunakan mesin, sehingga ia menyelesaikan jahitan Bendera Merah Putih menggunakan tangan.
Dalam waktu dua hari, bendera itu selesai dijahit dan langsung dikibarkan di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 (sekarang Jalan Proklamasi).
Baca: Sosok Fatmawati, Istri Soekarno yang Jadi Penjahit Sang Saka Merah Putih saat 17 Agustus 1945
Pada 1945, ketika Jepang menyerah kepada Sekutu, golongan muda, yang menghendaki kemerdekaan Indonesia perlu dipercepat, membawa Soekarno dan Moh Hatta ke Rengasdengklok di dekat Karawang.
Setelah Soekarno dan Moh Hatta mau memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, mereka dibawa ke rumah Laksamana Maeda untuk menyusun teks proklamasi.
Keesokan harinya, pada 17 Agustus 1945, proklamasi kemerdekaan Indonesia akhirnya dikumandangkan di halaman rumah Soekarno.
Tidak hanya Soekarno dan Moh Hatta, Fatmawati juga mengikuti rangkaian peristiwa sebelum proklamasi, mulai dari peristiwa Rengasdengklok, penyusunan teks proklamasi, hingga pembacaan naskah proklamasi.
Selain itu, bendera hasil jahitan Fatmawati pun dikibarkan dalam upacara proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.
Kemudian, sejak 1969, Sang Saka Merah Putih yang asli disimpan di Istana Merdeka, karena kondisinya yang sudah rapuh.
Lalu, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Nomor 003/M/2015, Bendera Sang Saka Merah Putih berstatus sebagai Cagar Budaya Nasional dengan nomor registrasi RNCB.20150201.000032.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Peran Fatmawati dalam Kemerdekaan Indonesia
#Fatmawati #Bendera Merah Putih #sejarah #kemerdekaan #HUT ke-77 RI #Ir Soekarno
Sumber: Kompas.com
Ngabuburit Asyik
Masjid Jami Al-Makmur, Saksi Lebih Seabad Perubahan Tanah Abang di Tengah Kepungan Ruko Niaga
Kamis, 19 Maret 2026
Ngabuburit Asyik
Jejak Sejarah Masjid Al Fatih Kepatihan Surakarta, Bukti Cinta sang Raja kepada Istri
Kamis, 19 Maret 2026
Ngabuburit Asyik
Menguak Jejak Masjid Laweyan, Warisan Religi Tertua di Surakarta yang Berdiri Sejak Masa Kerajaan
Rabu, 18 Maret 2026
Ngabuburit Asyik
Masjid Agung Surakarta Peninggalan Mataram Islam, Perpaduan Budaya Jawa, Arab, Persia, Belanda
Rabu, 18 Maret 2026
Ngabuburit Asyik
Masjid Laweyan Solo Jejak Dakwah Kultural dan Akulturasi Budaya Islam yang Masih Terjaga Hingga Kini
Rabu, 18 Maret 2026
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.