Terkini Nasional
Rahasia Letjen S Parman yang Membuatnya Menjadi Sasaran Gerakan 30 September
TRIBUN-VIDEO.COM - Letnan Jenderal S Parman adalah satu dari tujuh jenderal yang jadi korban dalam peristiwa G30S/PKI.
Nama S Parman diabadikan sebagai Pahlawan Revolusi setelah jadi korban G30S/PKI.
Penyebab Jenderal S Parman gugur pada G30S/PKI karena kedekatannya dengan PKI itu.
Sebenarnya, sang Jenderal sempat ditawari untuk bergabung dengan PKI.
Namun memilih menolak sehingga diberondong peluru simpatisan PKI.
Jenderal S Parman diculik oleh simpatisan PKI.
Jenderal S Parman adalah satu di antara sasaran PKI lantaran menjadi kunci rahasia gerakan tersebut.
Jenderal S Parman mengetahui rencana dibalik pembantaian G30S/PKI tak lain juga adalah kakaknya, Ir Sakirman.
Baca: Sosok Bung Tomo, Pahlawan Nasional Pengobar Semangat Pejuang Pertempuran Surabaya 10 November 1945
Dalam peristiwa Gerakan 30 September atau G30S/PKI prajurit yang beraksi yakni Tjakrabirawa dipimpin Letkol Untung.
Dikutip dari Tribunnewswiki, prjurit tersebut dikomando Letnan Doel Arif kemudian membentuk satuan tugas Pasopati di Lubang Buaya.
Mereka membentuk satuan tugas tersebut dini hari pukul 3.00 WIB, 1 Oktober 1965.
Satu di antara tim inilah yang dipimpin Sersan Satar dari Prajurit Tjakrabirawa menculik Jenderal S Parman.
Jenderal S Parman diculik setelah pembentukan tim dini hari di rumahnya.
S Parman dikepung sebanyak 20 orang tentara yang menyerbu rumahnya.
Mendengar keberisikan di luar rumahnya, Jenderal S Parman keluar menuju halamannya.
Dia hanya mengira suara brisik tersebut segerombolan perampok.
Tak mengira akan hal itu, ia justru bertanya kepada prajurit Tjakrabirawa tersebut apa yang terjadi.
Baca: Profil Abdul Muis, Pahlawan Nasional dari Sumatera Barat, Tergabung dalam Serikat Islam
Ternyata prajurit tersebut berbohong menyampaikan perintah Presiden Soekarno untuk menjemputnya.
Sebelum S Parman berangkat, ia sempat membisikan pesan kepada istrinya.
Jenderal S Parman meminta agar istrinya menghubungi Letnan Jendral Ahmad Yani, yang saat itu juga dihabisi PKI.
Namun , permintaannya itu terdengar prajurit penculik itu.
Prajurit itu lalu merampas teleponnya dan membawa paksa Jenderal S Parman.
Selanjutnya Jenderal S Parman dibawa ke Lubang Buaya.
Jenderal S Parman ditemukan jasadnya di Lubang Buaya pada 4 Oktober 1965, empat hari setelah penculikannya.
Berdasarkan visum otopsi dari jasadnya Jenderal S Parman ditembak di kepala bagian depan.
Pada jasad S Parman terdapat juga luka pada paha, bokong, patah tulang dan luka-luka dari alat tumpul di bagian kepa;a, rahang dan tungkai bawah kiri.
Detik-Detik Kematian S Parman
Mayor Jenderal S Parman dan istri memiliki punya kebiasaan di setiap malam Jumat, yakni tak tidur sebelum pukul 24.00.
Pun malam itu, Kamis, 30 September 1965. Pasangan suami-istri yang tinggal di Jalan Serang Nomor 32 itu baru beranjak tidur.
Namun, tengah malam itu sebelum tidur, Parman dan istri itu sempat dibuat syok oleh banyaknya burung gereja dan burung sriti di kamar tamu.
"Lo kok banyak sekali burung gereja di kamar tamu itu?" kata Parman seperti dikutip dari buku 'Kunang-kunang Kebenaran di Langit Malam'.
"Ah sudahlah, tidur saja," jawab Sumirahayu, sang istri.
Kemudian tiba-tiba ruang tamunya kedatangan burung sriti. "Lho, sekarang banyak burung Sriti?" kata dia.
Karena sudah larut malam, Jenderal Parman dan istri pun beranjak ke kamar untuk tidur.
Pada pukul 03.00 dini hari, Sumirahayu bangun dan menikmati sejuknya udara Jakarta yang belum tercemar asap kendaraan. Suasana pun masih sangat sepi dan hening.
Namun satu jam kemudian, keheningan itu berubah jadi hal menegangkan ketika sejumlah kendaraan truk tentara merapat ke rumahnya.
Derap kaki tentara turun dari truk dan menghambur ke rumah membuat suasana begitu ribut. Jenderal S Parman pun terbangun.
"Lho, kok Tjakra," tanya Parman.
"Ya, Pak! Saya diperintahkan Panglima Tertinggi (Sukarno) untuk mengambil Bapak," jawab salah satu prajurit Tjakra.
Kepada Parman, prajurit Tjakra itu mengatakan keadaan negara sedang genting. Karena merasa curiga, Sumirahayu menanyakan surat perintah dan identitas si penjemput.
Sedangkan Jenderal Parman ke kamar berganti pakaian dengan seragam dinas ketentaraan.
Begitu keluar, Parman merasa kaget lantaran banyak prajurit Tjakra di halaman rumahnya.
Dia memerintahkan sang istri memintanya menghubungi Menpangad Letjen Ahmad Yani, namun sambungan telepon rumah sudah diputus.
Jenderal Parman dibawa oleh prajurit Tjakrabirawa bukan ke Istana untuk bertemu dengan Presiden Sukarno, melainkan ke Lubang Buaya di kawasan Halim, Jakarta Timur.
Di Lubang Buaya, S. Parman diketahui dibunuh dan dimasukkan ke sumur tua bersama lima jenderal lainnya.
Jenazahnya S Parman ditemukan tiga hari kemudian. Tepat pada hari ulang tahun TNI, 5 Oktober 1965, jenazah mereka dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan. (*)
Artikel ini telah tayang di TribunJabar.id dengan judul Ditawari Gabung PKI Menolak, Kedekatan Jadi Pengantar Kematian Jenderal S Parman Korban G 30 S PKI
# Letnan Jenderal S Parman # G30S/PKI # Pahlawan revolusi # Tjakrabirawa # Letkol Untung # Lubang Buaya
Sumber: Tribun Jabar
Local Experience
Inilah Sejarah Penyebutan untuk Peristiwa G30S, Ada Gestapu hingga Gestok
Jumat, 26 Desember 2025
Local Experience
Proses Pengangkatan Korban Peristiwa Kelam G30S PKI di Lubang Buaya pada 3 Oktober 1965
Kamis, 4 Desember 2025
Local Experience
Jadi Penggerak Pasukan Tjakrabirawa, Letkol Untung Akhirnya Dihukum Mati setelah Peristiwa G30S PKI
Senin, 1 Desember 2025
Local Experience
Sumur Lubang Buaya Jadi Tempat Pembuangan 7 Pahlawan Revolusi, Korban Peristiwa G30S PKI Tahun 1965
Rabu, 29 Oktober 2025
Nasional
Balasan Mulia Penjual Akik setelah Diberi Peci oleh Prabowo: Dibalas Bacaan Al Quran
Kamis, 23 Oktober 2025
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.