Gaya Pidato Dikritik! Pengamat Sebut Jokowi Lebih Jago Jaga Perasaan Rakyat Dibanding Prabowo

Editor: Dimas HayyuAsa

Video Production: Ilham Bintang Anugerah

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru

TRIBUN-VIDEO.COM - Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago, memberikan kritik tajam terhadap gaya pidato Presiden Prabowo Subianto.

Menurut Pangi, akar masalah aksi demo yang terjadi di Jakarta dan sejumlah daerah lain pada Jumat (12/6/2026) tidak semata-mata karena kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat seperti kenaikan harga Pertamax maupun kritik tentang program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Melainkan, kegagalan Prabowo maupun pemerintah pada umumnya dalam menjaga sentimen masyarakat.

Dalam hal ini, Pangi menilai Jokowi lebih unggul dibanding Prabowo.

Meskipun, bisa jadi prestasi Prabowo lebih baik daripada Jokowi.

Menurut Pangi, esensi utama seorang pemimpin di Indonesia sebenarnya sangat sederhana, yaitu kemampuan memahami dan menjaga hati rakyat.

Itulah yang menurutnya menjadi kekuatan utama Jokowi selama menjabat.

"Jokowi itu kan ilmunya menjaga perasaan rakyat. Menjaga pencitraannya. Kerja Jokowi apa? Biasa aja, infrastruktur yang dibangun juga begitu-begitu aja," ujar Pangi saat dihubungi Tribunnews.com, Jumat (12/6/2026).

Baca: Krisis Baru Israel! Bandara Sesak Dipenuhi Pesawat Tanker AS, Pemerintah Khawatir Alami Kerugian

Baca: Pembacok Pengantin Baru di Nganjuk Ternyata Sepupu Korban, Ditangkap saat Diduga hendak Kabur


Ia menambahkan bahwa prestasi terbaik sebuah pemerintahan bukanlah diukur dari pembangunan fisik, melainkan sejauh mana negara mampu membuat masyarakatnya tenang.

"Prestasi negara itu adalah sejauh mana mereka punya kemampuan untuk menggembirakan hati rakyat. Menggembirakan hati rakyat itu bagian dari prestasi. Menjaga perasaan rakyat itu bagian dari kinerja."

Sebaliknya, Pangi menilai Prabowo saat ini terkesan kaku, keras, dan enggan memperbaiki pola komunikasinya dengan publik, sehingga memicu resistensi yang kuat di masyarakat.

"Kemudian presiden yang selalu ngeyel, presiden yang nggak mau memperbaiki cara berkomunikasinya dengan rakyatnya, yang tetap ngotot dengan cara-cara. Diingatkan kalau bahasa orangnya keras batu, itu yang terlalu dipaksakan dengan keyakinan mereka," ungkapnya.

Soroti Pidato 'Nyinyir' Prabowo
Pangi menilai banyak pidato Prabowo yang terlalu 'liar' dan tidak terarah.

Ia mencontohkan pidato Prabowo dalam acara Musyawarah Nasional (Munas) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) di Bandar Lampung, Rabu (10/6/2026).

Dalam penggalan pidatonya, Prabowo berpesan untuk mengabaikan pihak yang nyinyir.

Prabowo juga melihatkan mimik muka manyunnya sambil berucap "nyenye-nyenye".

"Saya ingatkan dari dulu, presiden kenapa pidatonya kok begini terus. Nggak terarah, liar, di luar kendali. Yang nyenye-nyenyein dengan wajah mimik-mimik begitu, ini kayak nggak ada tim khusus. Nggak ada yang mengingatkan," ungkap Pangi.

(*)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Ketimbang Prabowo, Pidato Jokowi Dinilai Lebih Bisa Jaga Perasaan Rakyat meski Prestasi Biasa Saja

Sumber: Tribunnews.com
   #Pidato   #Pengamat   #Jokowi   #Prabowo
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda