Terkini Nasional

Tri Rismaharini Bahas Pengolahan Sampah Surabaya di Ajang Guangzhou Award 2018

Jumat, 7 Desember 2018 23:09 WIB
Tribun Jatim.com

TRIBUN-VIDEO.COM - Presentasi menjadi satu di antara syarat yang harus dilakukan setiap kota, termasuk Surabaya, untuk memenangkan ajang The Guangzhou International Award 2018.

Kota-kota yang menjadi finalis ajang tersebut harus mempresentasikan tentang kotanya di hadapan 400 juri.

Dari 14 finalis The Guangzhou International Award 2018, Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini menyampaikan kondisi perkembangan Surabaya dari masa ke masa yang terus berinovasi menuju kota Sustainable Development Goals (SDGs).

Risma mengungkapkan, pada tahun 2003, Surabaya mengalami masalah besar sampah.

Saat itu, Surabaya dikenal sebagai kota yang panas, kering, dan sering banjir selama musim hujan.

Hampir 50 persen dari total wilayah Surabaya banjir.

"Mengatasi masalah ini, kami mengajak partisipasi masyarakat yang kuat untuk bekerja bahu membahu dengan pemerintah kota dalam melakukan pengelolaan limbah. Karena kami memiliki masalah besar untuk diselesaikan, tetapi dengan anggaran terbatas yang tersedia," kata Tri Rismaharini saat menyampaikan paparannya dalam Guangzhou International Award di China, Kamis (6/12/18) melalui rilis yang diterima Surya, Jumat (7/12/2018).

Karena masalah itu, Tri Rismaharini kemudian menciptakan berbagai macam program dan kebijakan untuk menyelesaikan masalah, agar tidak membebani anggaran lokal.

Cara-cara tersebut di antaranya mengajak masyarakat untuk ikut berperan serta bersama pemerintah mengatasi permasalahan sampah.

Warga mulai diajarkan bagaimana mengelolah sampah secara mandiri, yang berkonsep pada 3R (Reuse, Reduce dan Recycle).

"Partisipasi publik yang kuat menjadi faktor utama keberhasilan Kota Surabaya dalam mengatasi permasalahan sampah," ujarnya.

Kota Surabaya mengajarkan masyarakat mengenal metode pengomposan sederhana dengan biaya rendah, dengan menggunakan keranjang Takakura di setiap rumah.

Warga juga mulai diajak mendirikan bank sampah, dimana orang dapat menjual sampah anorganik mereka secara teratur dan menarik uang ketika mereka membutuhkannya.

Banyak bahan dari sampah yang digunakan kembali sebagai dekorasi kampung, pot bunga, pohon natal, dan sebagainya.

Masyarakat juga mendaur ulang sampah anorganik menjadi produk yang bernilai ekonomis untuk dijual dan mendapatkan penghasilan tambahan.

Tri Rismaharini menyampaikan kepada para juri, Surabaya juga bekerja sama dengan mitra internasional dalam metode pengelolaan limbah, termasuk Kota Kitakyushu untuk pengomposan dan pemilahan sampah, serta Swiss untuk penggunaan lalat hitam dengan tujuan mengurangi sampah organik.

"Metode lalat hitam dilaksanakan di tingkat rumah tangga. Sementara pengomposan, dilaksanakan di tingkat kelurahan dan kota," jelasnya.

Sementara untuk mengatasi masalah lingkungan, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya juga membangun waduk-waduk sebagai resapan air selama musim hujan dan berfungsi sebagai cadangan air selama musim kemarau.

Membangun 58 waduk dan 28 ribu hektar hutan bakau sedang dikonservasi di wilayah pesisir timur untuk melindungi kota dari banjir.

Selain waduk dan hutan bakau, Pemkot Surabaya melakukan penanaman ribuan pohon untuk membuat 45.23 hektar hutan kota dan 420 taman kota yang tersebar di seluruh wilayah Surabaya.

Pembangunan tidak hanya di pusat kota, tetapi juga di daerah padat penduduk. Sebagai hasilnya, masyarakat dapat menikmati peningkatan indeks kualitas udara dan air, mengurangi volume limbah rumah tangga, mengurangi area banjir dari hampir 50 persen menjadi hanya 2 hingga 3 persen, penurunan tingkat penyakit dan penurunan suhu rata-rata 2 derajat celcius.

"Semua program ini sangat terkait dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) 3, 6, 7, dan yang paling penting SDG 11, yaitu membuat kota dan pemukiman manusia inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan," tutup Tri Rismaharini.

Seusai menyampaikan presentasi, beberapa finalis mengapresiasi Tri Rismaharini.

Misalnya finalis asal Sydney, Australia.

"Pemimpin yang menginspirasi. Mengubah perilaku masyarakat pastilah sangat sulit, apalagi bertahan dalam waktu yang lama," komentarnya.

Surabaya menjadi satu-satunya kota di Indonesia yang menjadi finalis The Guangzhou International Award 2018.

Setelah menjadi finalis Surabaya bersaing dengan 14 kota lain yaitu Sydney (Australia), Repentigny (Canada), Milan (Italy), eThekwini (South Africa), Guadalajara (Mexico), Utrecht (Netherlands), New York (USA), Yiwu (China), Santa Ana (Costa Rica), Kazan (Russia), Mezitli (Turkey), Santa Fe (Argentina), Salvador (Brazil), dan Wuhan (China). (Tribun Jatim / Pipit Maulidiya)

Artikel ini telah tayang di Tribunjatim.com dengan judul Presentasi Lengkap Tri Rismaharini di Guangzhou Award 2018, Bahas Pengolahan Sampah di Surabaya

ARTIKEL POPULER:

Benarkah Mie Ayam Tugu Lilin Pajang Solo Pakai Pesugihan Pocong? Yuk Mampir ke Warungnya

Ditanya Pilih Jokowi atau Prabowo, Begini Jawaban dan Saran Cak Nun

Baru Sebulan Menikah, Wanita di Palembang Dianiaya Sang Suami saat Telepon Ibunya

Editor: Radifan Setiawan
Video Production: Purwariyantoro
Sumber: Tribun Jatim.com
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved