Terkini Nasional

Harga Premium Naik Hanya 44 Menit, Pemerintah Akui Kurang Koordinasi

Kamis, 11 Oktober 2018 12:54 WIB
Tribun Bali

TRIBUN-VIDEO.COM - Menteri Energi Sumber Daya Manusia (ESDM), Ignasius Jonan, mengumumkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis premium sebesar tujuh persen di sela Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia di Nusa Dua, Badung, Rabu (10/10/2018) sekitar pukul 17.41 WITA.

Namun, hanya berselang 44 menit atau sekitar pukul 18.25 WITA, Jonan kemudian membatalkan pengumuman tersebut.

Ia menyatakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta kenaikan harga premium (bensin) ditunda.

"Saya sudah lapor bapak presiden, bahwa PT Pertamina (Persero) tidak siap melaksanakan kenaikan harga BBM hari ini. Jadi Presiden memberi arahan agar ditunda kenaikan harga BBM Premium dan dibahas ulang," ujar Jonan kepada Tribunnews.com (Grup Tribun Bali) di ruang VIP Bandara Ngurah Rai, Tuban, Badung, Rabu pukul 18.30 WITA.

Sore itu, Jonan sudah berada di ruang VIP Bandara Ngurah Rai, hendak bersiap kembali ke Jakarta.

Wartawan Tribun, satu-satunya pewarta yang ikut serta rombongan mantan Menteri Perhubungan itu.

"Sampai kapan ditunda?" tanya Tribun kepada Jonan.

Baca: Selebgram Terekam CCTV Tewas Ditembak di Dalam Mobil, Diduga Terkait Foto Seksi dan Tato di Tubuhnya

"Sampai Pertamina siap. Jadi ditunda sampai waktu yang tidak ada waktunya. Demikian sesuai arahan Bapak Presiden," jawabnya.

Sebelumnya, Jonan menyatakan pemerintah berencana menaikkan harga BBM jenis premium mulai Rabu (10/10/2018) sore pukul 18.00 WIB atau 19.00 WITA.

"Kenaikannya sekitar 6-7 persen, lebih kecil dibandingkan persentasi kenaikan harga minyak mentah dunia sekitar 25 persen," ujar Jonan usai menghadiri Forum Tri Hita Karana Sustainable Development di Hotel Sofitel, Nusa Dua, Rabu sore.

Jika terealisasi, maka harga jual premium di wilayah Jawa-Madura-Bali (Jamali) naik menjadi Rp 7.000 per liter dari sebelumnya dari Rp 6.450 per liter.

Sedangkan, untuk harga jual premium di luar Jamali naik menjadi Rp 6.900 per liter dari sebelumnya Rp 6.400 per liter.

Namun keputusan tersebut mendadak dianulir.

Alasannya, pertamina belum siap dengan kenaikan premium tersebut.

VP Corporate Communication Pertamina, Adiatma Sardjito, menyampaikan saat ini pihaknya mengaku masih membutuhkan waktu dan kesiapan untuk mengkaji perihal kenaikan bahan bakar jenis premium tersebut dengan pemegang saham.

"Saat ini sedang dibahas dengan pemegang saham," kata Adiatma.

Adiatma menuturkan, mengenai rencana kenaikan harga premium 6-7 persen seperti yang disampaikan Menteri Jonan juga tengah dievaluasi.

Menurutnya, yang berhak melakukan penyesuaian adalah pemerintah berdasarkan dasar hukum Peratuan Presiden 191 tahun 2014 tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Harga Jual Eceran Bahan Bakar Minyak.

"Itu yang dibuat kajian, nanti kalau selesai disampaikan," jelasnya. (*)

TONTON JUGA:

Editor: Tri Hantoro
Sumber: Tribun Bali
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2018 About Us Help