Terkini Daerah

Cak SMA Negeri Bali Mandara Kisahkan Hidup Kala Rau yang Dituntaskan Cakra Sudarsama

Minggu, 16 September 2018 12:03 WIB
Tribun Bali

TRIBUN-VIDEO.COM, DENPASAR - Dentang musik dan suara cak mengalun mengawali pementasan dari SMA Negeri Bali Mandara di Panggung Terbuka Ardha Candra, Art Center, Denpasar, Sabtu (15/9/2018) malam.

Sebanyak 353 pemain cak menunjukkan kebolehannya dalam bermain cak, yang mengundang tepuk tangan para penonton.

Kisah ini bermula dari lautan Ksiraranawa, ketika para dewa akan mencari tirta amerta atau air suci keabadian.

Saat para dewa tak bisa mengaduk lautan yang maha luas, dimintalah bantuan raksasa.

Gunung Mandara Giri pun dipenggal untuk mengaduk lautan Ksirarnawa ini dengan tali pengikatnya adalah Naga Basuki.

Baca: Obor Asian Para Games Disemayamkan di Rumah Jabatan Gubernur Bali

Setelah melalui pengadukan yang begitu lama, munculah bidadari membawa tirta amerta.

Dengan sigap kawanan raksasa mebnahului para dewa merebut tirta amerta ini dan dibawa kabur.

Tirta amerta itu lalu diserahkan kepada Kala Rau.

Mengetahui tirta amerta direbut raksasa, Dewa Wisnu pun datang ke dunia para raksasa dengan menyamar menjadi gadis cantik bernama Diah Mohini.

"Saya bidadari dari Indraloka. Saya bosan hidup di Indraloka dan sekarang saya ingin hidup bebas," kata Diah Mohini.

Antara Diah Mohini dan Kala Rau akhirnya saling puji dengan nyanyian genjek.

"Jika dinilai dengan angka 1 sampai 100, maka Adinda 99.9," puji Kala Rau.

Baca: Arus Lalu Lintas Jalan Petitenget Bali Terpantau Ramai Lancar Jelang Pembukaan Petitenget Festival

Tuak arak, mereka mabuk-mabukan.

"Idup digumine acepok da ruet-ruet (hidup sekali di dunia ini jangan dipikirkan)," pekik para raksasa sambil menikmati minuman keras yang dibawanya.

"Senang hidup di dunia raksasa?" tanya Kala Rau, yang dijawab Diah Mohini, "Senang sekali hidup seperti melayang-layang."

Ketika para raksasa mabuk, diambilah kembali tirta amerta itu oleh Diah Mohini, yang tiada lain adalah Dewa Wisnu.

Raksasa marah lalu mengejar hingga ke Indraloka.

Terjadi pertempuran hebat dan saling rebut tirta amerta di Indraloka.

Kala Rau berubah wujud menjadi tiga raksasa yang menyeramkan.

Baca: Petitenget Festival Bertajuk Kerobokan Arts & Spirit 2018 Hadirkan Berbagai Petunjukan Menarik

Namun, saat akan meminum tirta amerta yang berhasil direbutnya kembali dari tangan para dewa, kepala Kala Rau dipenggal dengan cakra sudarsana.

Hidup Kala Rau pun tuntas oleh cakra sudarsana.

Cak ini bertajuk Kala Rau punggel, yang ditampilkan dalam Bali Mandara Nawanatya III-2018.

Penampilan ini diakhiri dengan atraksi yang atraktif dan mengundang gemuruh tepuk tangan penonton.

Atraksi api pun dimainkan di atas panggung.

Paduan tujuh kendang, tawa-tawa serta musik modern dan suara cak menambah keseruannya. (Tribun Bali/Putu Supartika)

Artikel ini telah tayang di tribun-bali.com dengan judul "Hidup Kala Rau Dituntaskan Oleh Cakra Sudarsama".

TONTON JUGA:

Editor: Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana
Sumber: Tribun Bali
Tags
   #Bali   #Tari Kecak   #Denpasar
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2018 About Us Help